Baru Migrasi? Obati Sakit Kepala Kamu dengan 301 Redirect

Sebuah surat cinta masuk ke inbox saya, dari Google. Isinya tidak lain mengabarkan bahwa that nasty “404 page not found” sudah di ambang batas mengkhawatirkan. Tidak tanggung-tanggung, 2.626 pages not found, hadiah yang diberikan Googlebot pasca migrasi yang saya lakukan. Tolong katakan, perempuan mana yang tak terketuk hatinya jika menerima surat seperti ini?

surat-dari-google

Lika-Liku 404 Page Not Found

Sesuai namanya, “page not found” adalah laman tidak ditemukan karena broken link. Ini bisa terjadi karena beberapa hal:

  1. Perubahan permalink/URL pasca migrasi seperti yang saya lakukan atau ketika Anda mengubahnya dengan sengaja. Misalnya: dari “http://www.contoh.com/2016/ini-contoh” ke “http://www.contoh.com/ini-contoh”.
  2. Laman yang bersangkutan sudah dihapus atau di-revert to draft tapi masih beredar di mesin pencari. Bisa? Bisa, karena ketika menghapus sebuah laman, kemungkinan Google atau mesin pencari lain masih mengindeks laman tersebut. But, don’t worry, laman-laman kosong ini akan diturunkan dari hasil pencarian seiring berlalunya waktu meski … akan terus ada di Crawl Errors Report Google Search Console (GSC) Anda.
  3. Typo. Sometimes, ada pengguna yang mampir ke blog kita dengan cara mengetikkan langsung judul postingan di bar, tapi salah ketik.
  4. Typo edisi 2. Sometimes, kita memasukkan tautan yang salah di anchor text.
  5. Googleboot. Googleboot mengira bahwa script adalah link sehingga terus mengikutinya dan menemukan jalan buntu, jadi dia menganggap itu sebagai “page not found”. Salah sendiri atuh yah.
  6. Dll.

Efek Negatif 404 Page Not Found

Pada dasarnya, “page not found” tidak akan berpengaruh terhadap peringkat blog kita dengan catatan kalau jumlahnya hanya satu-dua. Kalau 2.626 seperti blog saya? Ini hanya berarti satu hal: sakit kepala.  Memangnya kenapa kalau banyak “page not found”? Berikut beberapa “bahayanya”:

  • SEO & SERP. Dalam kasus saya, “page not found” berpengaruh banyak terhadap SEO dan Search Engine Results Page (SERP). Buktinya beberapa konten yang biasanya ada di peringkat satu halaman pertama sekarang berada entah di mana. Itu karena laman yang sama (tapi dengan URL yang berbeda) dianggap laman yang berbeda oleh Google sehingga membutuhkan waktu untuk kembali terindeks.
  • User experience. Siapa coba yang tidak kesal ketika melakukan pencarian lalu dihantarkan ke laman yang tidak ada?
  • Seusah hilapna. Sekali Googlebot merayapi blog kita maka selamanya dia akan melakukan itu. Meskipun yang muncul di hasil pencarian hanya sinyal dari Google+, tapi tetap saja kita akan menerima notifikasi “page not found” di GSC.
  • Trafik. Organic search blog saya tidak bagus-bagus amat sih, kata kuncinya pun yang standar, tidak ada kata kunci semacam “cerpenis seksi” atau “the most wanted blogger”, tapi tetap saja trafik dari organic search menurun secara signifikan.
  • Bounch Rate. Karena laman yang dicari tidak ditemukan, maka pembaca yang datang akan begitu saja menutup tab atau menekan tombol “back”. It means, bounch rate yang semakin tinggi. Dan bounch rate yang tinggi akan mengirimkan sinyal kepada Google bahwa hasil pencarian yang dia berikan kepada pengguna tidak relevan. Dengan begini, mereka akan berpikir ulang ketika akan memasukkan blog kita di search results untuk kata kunci yang bersangkutan.
Penampakan di Google Search Console

Penampakan di Google Search Console

Cara Memperbaiki 404 Page Not Found

Saya tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan begitu saja laman-laman seperti ini karena kalau terus-terusan menumpuk, ini akan berpengaruh buruk. Berdasarkan pengalaman migrasi yang berdarah-darah, membaca beberapa literatur, dan berkonsultasi kepada Pak Bos, berikut cara memperbaiki “page not found” pasca migrasi (diurutkan berdasarkan skala prioritas):

  • Buat custom error page “404 page not found” untuk “menahan” bounch rate. Ini akan memberi informasi kepada pengunjung tentang perubahan yang terjadi dengan blog kita. Saya menggunakan 404page plugin untuk memasang custom error page. Desainnya? Buat sendiri itu mah. 😀
Bad

Bad

Good

Good

  • Unduh data Crawl Errors Reports dari GSC. Agar tampilan datanya lebih bersahabat, saya menyarankan untuk mengunduhnya ke Google Docs terlebih dahulu. Select download format ➤ Google Docs ➤ File Download as ➤ Ms. Excel.
  • Gunakan fitur filter di Ms. Excel untuk mengkategorikan link mana saja yang akan kita perbaiki.

filter

  • Jika eror karena laman telah kita hapus atau di-revert to draft, kita bisa mengabaikannya atau memodifikasi robots.txt agar berhenti merayapi laman yang bersangkutan.
  • Ajukan “demote sitelinks” untuk sitelinks yang tidak relevan.
  • Gunakan 301 redirects (ini akan dibahas di subbab berikutnya) untuk mengalihkan broken link ke URL yang benar. Yup, kita harus melakukannya satu per satu.
  • “Marked as fixed” di GSC setelah kita melakukan redirect atau pengalihan URL.
  • Jangan lupa untuk memperbaharui sitemaps, pastikan custom error page yang kita buat tidak terindeks, lalu submit ulang. Karena seperti yang dikatakan Google, secantik apa pun custom error page yang kita buat, kita tidak ingin laman itu tampil di hasil pencarian.
sitemaps-error

Sitemaps error sesudah membuat custom error page

  • Move on.

310 Redirect: Apa dan Bagaimana

Jika eror terjadi karena perpindahan domain, ganti URL, atau ganti permalink secara keseluruhan, disarankan untuk menggunakan 301 redirects. Kode 301 adalah kode yang digunakan untuk menginformasikan kepada pengunjung sekaligus mesin pencari bahwa URL yang sebelumnya telah dialihkan ke URL lain secara permanen. Misalnya: dari “http://www.contoh.com/2016/ini-contoh” ke “http://www.contoh.com/ini-contoh” atau dari “http://www.contoh.com/aboutme” ke “http://www.contoh.com/about”. 

  1. Ketika pengunjung mengklik URL yang salah (atau URL sebelum migrasi), mereka tidak lagi menemukan laman “404 not found” melainkan langsung ke URL baru.
  2. Ketika Googlebot merayapi URL lama dan tidak menemukan konten, karena kita sudah mengatur 301 redirects, maka ia akan merayapi URL yang baru. Dengan begini, tidak ada lagi status crawler error.

301 Redirects Do’s & Don’ts

Sama seperti fitur dan fasilitas lainnya, 301 redirects juga harus dipergunakan secara bijaksana.

  • Gunakan untuk mengalihkan URL dengan konten yang sama. Contoh: www.contoh.com/2016/alexa-rank ➤ www.contoh.com/alexa-rank.
  • Gunakan untuk mengalihkan domain lama Anda ke domain yang baru. Contoh: www.contoh.blogpsot.com ➤ www.contoh.com.
  • Gunakan untuk mengalihkan URL dari domain lama ke domain baru. Contoh: www.contoh.blogspot.com/2016/alexa-rank.html ➤ www.contoh.com/alexa-rank.
  • Tidak ada batasan jumlah 301 yang bisa kita pergunakan. As long as it bisa membawa pengunjung kembali ke jalan yang benar, please feel free to use it.
  • Hindari menggunakan terlalu banyak “loop”. Misalnya dari URL A ➤ B ➤ C ➤ D ➤ F. Jika Anda beruntung, Googleboot akan mengikuti kode 301, tapi jika Anda sedang sial (yang sering kali terjadi dengan mesin pencari), Googlebot akan segera bosan dan meninggalkan URL tersebut.
  • Jika URL yang bersangkutan hanya berganti permalink-nya, hindari me-redirect semua URL yang spesifik ke homepage. Contoh: www.contoh.blogspot.com/2016/alexa-rank.html ➤ www.contoh.com. Yang benar adalah: www.contoh.blogspot/2016/alexa-rank.html ➤ www.contoh.com/alexa.rank.
  • Anda tidak bisa mengalihkan URL milik orang lain ke blog Anda. Mungkin bisa, tapi tidak layak untuk dicoba karena termasuk cloaking dan akan membuat blog Anda terkena penalti.
 

Cara Menggunakan 301 Redirects di WordPress

Sebetulnya ada beberapa metode untuk mengalihkan satu URL ke URL lainnya, tapi kali ini saya hanya akan membahas metode plugin karena lebih mudah. Oh iya, ini hanya untuk WordPress yang menggunakan self hosted. Saya belum tahu apakah WordPress custom domain tapi yang hostingnya masih di WordPress bisa menggunakan plugin ini atau tidak. Apa? Blogspot? Ya, itu kita bahas nantilah. 😀

1. Unggah Plugin ➤ Activate

Dari sekian banyak plugin yang sudah saya coba, saya paling merekomendasikan Redirection karena mudah dipergunakan dan bekerja dengan baik. Unggah dan aktivasi plugin seperti biasa ➤ tools ➤ redirection. Anda akan melihat tampilan seperti ini:

redirect_1b

Anda beberapa tab yang memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Redirects: berisi daftar URL yang kita alihkan. Masukkan data di kolom “Add new redirection” di bagian bawah.
  • Groups: kita bisa mengelompokkan metode redirect berdasarkan modul, daftarnya akan tampil di sini.
  • Modules: metode redirect. Ada WordPress, Apache, dan Nginx. Jika belum terlalu paham, saya rekomendasikan untuk menggunakan modul WordPress.
  • Logs: log aktivitas.
  • 404s: daftar laman not found. Ketika kita aktivasi plugin, laman-laman yang tidak ditemukan akan terdaftar di sini. It takes time to load, jadi daftarnya tidak akan sekali jadi. Jumlah daftarnya juga tidak selalu sama dengan crawler errors reports yang ada di GSC.
  • Options: pengaturan.
  • Support: keterangan mengenai developer.
2. Buat Grup untuk Mengelompokkan Data

Kita tidak akan bisa menggunakan tab “redirects” jika tidak membuat grup terlebih dahulu. Grup sebetulnya dipergunakan untuk mengelompokkan modul atau server yang akan kita gunakan, tapi saya sengaja membuat dua grup: 301 untuk URL yang di-redirect dan 404 untuk URL yang sebelumnya sudah saya hapus atau di-revert to draft. Dua-duanya menggunakan modul WordPress.

Add Groups ➤ masukkan nama grup ➤ pilih WordPress ➤ add.

redirect_2

3. Pilih URL yang Akan Di-redirect di 404s

Bagi Anda yang baru saja migrasi, jumlah broken link akan membuat frustrasi. Itu sebabnya mengapa kita perlu untuk menetapkan skala prioritas. Pilih URL yang memang akan di-redirect terlebih dahulu lalu bereskan sisanya. Seperti yang Anda lihat, ada beberapa sumber URL. Kolom “referrer” adalah user agent dari berbagai mesin pencari. Karena plugin yang saya gunakan tidak khusus untuk Google, maka user agent-nya pun berasal dari beberapa mesin pencari seperti Google, Bing, Yandex, Yahoo, dll.

URL parameter adalah … well, poin ini memerlukan penanganan khusus karena jika salah langkah maka konten kita akan berhenti diindeks oleh Google dan mesin pencari lain. Dan karena saya belum mengerti betul, jadi mari kita skip dulu.

redirect_3

 

Yang akan kita lakukan adalah memfilter konten yang akan dialihkan. Tab 404s  ➤ filter ➤ masukkan kata kunci ➤ add redirect. Lakukan filter yang sama di GSC agar kita bisa menandai mana yang sudah di-redirect dan mana yang belum. Karena saya orangnya ribet, maka saya membuat dokumentasi juga di Ms. Excel.

redirect_4a

 

excel

4. Add Redirect

redirect_5

 

  • Source URL: URL asal atau URL not found. Ini akan di-generate secara otomatis ketika kita menekan “add redirect”.
  • Match: Pilih “URL only”.
  • Action: Pilih “Redirect to URL”.
  • Target URL: URL tujuan atau URL dengan permalink yang sudah benar.
  • Group: Grup yang kita buat di poin sebelumnya.

 

5. Tes

Anda bisa melihat daftar URL yang sudah di-redirect dan berapa kali URL tersebut diklik.

redirect_7

Untuk melihat apakah redirect yang Anda lakukan sudah bekerja, Anda bisa mengklik URL yang ada di plugin atau kembali ke GSC. Jika URL yang tadinya not found sudah dialihkan ke URL yang betul, “mark as fixed”.

redirect_8

Anda bisa melihat bahwa jumlah “hit” bertambah ketika kita mengkliknya dari GSC.

redirect_9

6. Ulangi dan Pantau

Ulangi poin ke-4 untuk URL lainnya. Satu per satu? Iya, satu per satu. Saya belum menemukan cara untuk mengalihkan semua broken link sekaligus. Jika Anda sudah mengalihkan semua laman, pantau terus Crawl errors reports, apakah berkurang atau terus bertambah setiap kalinya.

Hingga tulisan ini diturunkan, jumlah “404 page not found” di blog saya masih sekitar 2.600-an. Masih jauh perjalanan saya sampai Crawler errors reports kembali bersih seperti sedia kala. Bagi Anda yang baru migrasi atau baru saja meneguhkan hati untuk pindah CMS, semoga postingan ini bisa membantu.

Salam,
~eL

10 Comments

  1. September 29, 2016 at 12:20 am

    Hasek..teknis pisan uy, jagonya Uchan ini mah.

    Terus efek negatif 404 page not found, seusah hilapna (aslii bikin ngakak tengah malam)

    • LangitAmaravati-Reply
      September 29, 2016 at 12:53 pm

      Teh, kalau ada saran yang lebih baik untuk mengalihkan hati eh URL yang lebih efektif, kasih tahu yak. 😀

  2. September 29, 2016 at 2:37 pm

    ah ini penderitaan si sayah saat inih karena ganti permalink hiks …

    • LangitAmaravati-Reply
      September 29, 2016 at 2:58 pm

      Mari Teh kita sama-sama semangat menderita, eh, memperbaiki broken links. Hahaha.

  3. September 30, 2016 at 9:55 am

    Alamak … Masih ada 2.600 lagi?
    Semangat deh, Chan. Top deh kalo sampe bisa tuntas semua. Aku yg baca aja ikut pusing. Butuh waktu lama buat aku utk bisa ngerti, paham bahkan eksekusi hal teknis kayak gini.
    Salut semangat belajar otodidaknya!

    • LangitAmaravati-Reply
      September 30, 2016 at 8:45 pm

      Kalau masih rumit, berarti akunya yang belum paham betul sehingga tidak bisa menjelaskan secara sederhana. Hahaha.

  4. September 30, 2016 at 8:41 pm

    Lalieurrrrrrr….

    Jadi aku baru tau pas pindahan kemarin, kalo bikin dotcom itu pindah ke rumah baru, bukannya ganti alamat doang. Dan semuanya harus mulei dari awal. Panduang teknis yang uchan tulis begini sangat membantu diriku yang amat sangat awam untuk urusan teknis.
    Baru tau ada cPanel aja barusan setelah hampir 2 bulan pindah. Untuunnngg mas2 di dewaweb sabar banget sama saya 🙂 Makasiya uchan artikel2nya…

    🙂

    • LangitAmaravati-Reply
      September 30, 2016 at 8:44 pm

      Bwahahaha. Aku ge jangar, ini pertama kalinya pake WordPress secara serius. Dikasih broken link 2 ribu biji pula.

  5. September 30, 2016 at 11:08 pm

    WP emang asyik tapi sayang saya lebih suka Blogspot soalnya banyak tantangannya. hii

Leave a Reply