5 Perempuan Blogger yang Sering Membuat Saya Iri

Seperti kata Kang Ahda Imran, menulis adalah bekerja di ruang sunyi, bukan pekerjaan beramai-ramai di tengah keriuhan. Mungkin itu sebabnya mengapa saya cenderung malas bergabung dengan komunitas penulisan. Kalau ada acara menarik dan saya punya waktu luang ya datang, kalau tidak tidak pernah memaksakan. Begitu juga dengan forum-forum kajian yang lebih sering diisi dengan gunjingan daripada transfer ilmu. Kalaupun bergabung dengan forum diskusi, biasanya saya lebih senang berdiskusi dengan teman laki-laki. Eksklusif? Sombong? Bukan, tapi karena saya mau cari ilmu, bukan mau ngegosip.

Sebabnya sudah jelas. Saya penulis autodidak. Tidak punya guru atau mentor. Karier kepenulisan saya tidak dibangun di bawah bayang-bayang kelas penulisan atau komunitas mana pun. Dengan kata lain, saya lebih nyaman menjadi ronin. 

Dalam dunia penulisan sastra, lebih tepatnya aktivis pembantai media massa, tidak banyak perempuan penulis yang saya kagumi. Dari segelintir penulis perempuan yang saya kagumi baik karya maupun karakternya paling-paling cuma Dee, Nenden Lilis, Djenar, Oka Rusmini, dan Cok Sawitri. Lainnya biasa-biasa saja.

Sejak ikut Fun Blogging bulan September 2015 silam dan aktif ngeblog, kebijakan saya tentang komunitas sedikit berubah. Saya dipertemukan dengan ratusan perempuan blogger yang memiliki berbagai macam karakter. Karena sudah terbiasa jadi ronin, saya tidak peduli dengan blogger lain. Maksudnya, saya tidak peduli blogger lain mau ngapain aja, sepanjang tidak cari masalah dengan saya ya terserah. 

Namun, ternyata blogsphere (meminjam istilah Daeng Ipul) lebih riuh daripada dunia kepenulisan konvensional. Banyak polemik dan isu yang kadang tidak penting untuk dibahas. Well, beberapa polemik dipicu oleh tulisan-tulisan saya sih, walau demi Tuhan, saya tidak pernah berniat untuk itu. 

Di tengah-tengah berbagai macam karakter dan latar belakang para perempuan blogger, ada lima orang blogger yang kerap membuat saya iri. Iri dalam arti positif, saya banyak berkaca kepada lima orang ini. Nominasi ini tentu tidak saya buat dengan main-main, tidak dibuat hanya karena dekat atau karena suka. 

Oh iya, saya sengaja tidak memasukkan trio macan Haya Aliya Zaki, Ani Berta, dan Shinta Ries karena mereka bertiga sudah menempati tempat khusus di hati saya. #eaaa

1. Wylvera Windayana

Saya mengenal beliau sudah lama, sejak masih di IIDN meski baru sekarang-sekarang berinteraksi secara langsung. Mbak Wiwiek, begitu beliau kerap disapa, menurut saya adalah jenis blogger wali kelas yang kumaha aing. Maksudnya, sepanas apa pun dunia blogger, tidak penah sekalipun, saya ulangi, SEKALIPUN, saya melihat beliau menanggapi atau memberi komentar yang tidak perlu. 

Beliau mah santai saja membuat status tentang anak-anak Lapas binaannya, tentang keluarga, tentang hal-hal yang tidak bikin sakit mata. Tulisan di blognya pun sama, begitu-begitu saja. Teu loba céta kalau kata urang Sunda mah. 

Urusan prestasi? Sering lah menang lomba menulis. Urusan karya? Bukunya ngajengjreng di toko buku. Tipe penulis dan blogger seperti inilah yang kita perlukan. Well, saya iri dengan fokus dan kesabarannya.

“Mbak, gimana belajar tutup mata dari isu-isu di temlen, Mbak?”

2. Evrina Budiastuti

Saya iri cenderung sebel sih sama dia. Nyaris setiap bulan adaaa aja postingan dia sedang traveling ke mana kek. Kemaren dia baru dari Rinjani. Kan saya iri, iri, iri. Bagi saya, cewek naik gunung itu keren. Walau saya nggak akan bisa sih naik gunung. Lah, jalan ke Jayagiri aja mimisan saya mah. 

Tulisan? Jujur, dulu ketika baru pertama kali kenal sempet sih underestimate gitu. Pas udah baca postingan-postingan karya tulis ilmiahnya, saya langsung, “Oke, eV. Lu keren.” Bagi saya yang terbiasa menulis fiksi, karya tulis ilmiah adalah siksaan dalam bentuk lain. Susah banget nulisnya.

Karakter? Sama seperti Mbak Wiwiek, nggak ada tuh dia bikin status nyinyir atau gimana. Kami pernah sih ngomongin orang di inbox. Misal, ngomongin Diko. Tapi ngomonginnya gini:

L: Sadis ya tu anak. Masa menang lomba lagi.
V: Iya, nih. Capek gue nyainginnya. 
L: Kita cari lomba yang ga diikutin ama Diko aja, yuk.
V: Yuk yuk. 

Dia juga tergabung ke dalam beberapa komunitas blogger. Di mana-mana ada. Tapi, sepanjang pengetahuan saya nggak ikut geng-gengan kayak anak teka. 

3. Zata Ligouw

Sebetulnya saya lebih iri ke fisiknya. Fresh dan fit. Dan coba lihat perutnya. Sudah punya anak tapi perut rata gitu. Perempuan mana yang nggak envy? Inspiratif banget bagi saya yang ingin perut rata tapi malas olah raga. 

Ini rahasia, tolong jangan bilang-bilang sama Kak Zata, saya mulai rajin lari pagi setelah melihat foto-foto dia. 


4. Yulia Rahmawati

Kalau harus ada sosok ukhti-ukhti yang karakternya adem, Teh Yulilah orangnya. Teh Yuli sudah saya kenal lama, sejak masih di Kompasiana dan Dumalana. Kalau perkara tulisan, sudahlah jangan ditanya. Perkara sikap? Online maupun offline ya adem. 

Sama seperti eV, Teh Yuli tergabung dalam nyaris semua komunitas blogger yang ada di Indonesia (oke, ini agak lebay). Tapi, sepanjang penelitian saya, orangnya memang bukan tipe yang senang memancing di kolam tetangga. Ngeblog ya ngeblog aja. 


5. Maya Lestari GF

Uni Maya ini penulis senior. Ketika blogger lain masih belajar membuat kalimat, karya dia sudah wara-wiri di berbagai media, pun dengan bukunya. Sudah ngeblog sejak lama tapi nggak banyak tingkah kayak saya. 

Low profile-nya luar biasa. Padahal kalau ngomong-ngomong soal karya, para penulis dan pembaca generasi 90-an siapa sih yang nggak kenal Uni Maya? Ya sih, kadang dia suka komen-komen ga jelas gitu di statusnya Yuk Yetti KA, tapi itu bukan salah dia, itu salah Yuk Yetti yang sering mancing-mancing. *lalu dilempar boots 

 
Dari kelima orang inilah saya belajar bagaimana cara sabar, bagaimana cara berprestasi tanpa membusungkan dada, bagaimana cara menghargai kesehatan tubuh sendiri, bagaimana cara menjadi padi. 

Karena menjadi blogger berprestasi itu mudah. Yang sulit adalah menjadi blogger yang memiliki hati.
 
Salam,
~eL

50 Comments

  1. May 7, 2016 at 7:34 am

    Aku suka iri nya sama teh Langit. Kok tulisannya selalu bagus hihi
    Blogger diatas itu kereen semua emang.

  2. May 7, 2016 at 7:49 am

    Aku juga iri sama kamu karena kamu punya mesin jahit keren. Bwahaha.

  3. May 7, 2016 at 7:57 am

    Geng gengan anak teka, buahahahaha mba teteh ini paling bisaaa. Dan iya loh teh Evi keren banget, mskpn udah jadi mom. Naik gunung mah ayoook aja.

  4. May 7, 2016 at 8:02 am

    Dan masih sempet ikut lomba blog. Ngiri blas.

  5. May 7, 2016 at 8:20 am

    1-4 saya kenal banget neh, mereka emang kece banget deh.

  6. May 7, 2016 at 8:29 am

    Rumahku dekat dengan Maya, tahu deh blognya, kalo statusku rada ikut kekinian hihi…

  7. May 7, 2016 at 8:46 am

    Wuaaa antara bangga campur malu liat nama gw di sini, hihihi.. Makasihhhh Langiiittt, elo favorit gw juga, terutama krn tulisan2 yang dalam dan penuh makna #ecieee..

  8. May 7, 2016 at 9:06 am

    Selalu idola sama teteh. Ahhh mungkin udah ke-sekian kalinya saya bilang. Ulah bosen weh, nya? 🙂

    Kenapa sih tulisan teteh selalu keren? Menulis dari hati. Ahhh Sukaaaa…

  9. May 7, 2016 at 9:12 am

    Whoaaa ada mba Wiek, mentor nulis kisah inpsirasi bareng Haya. Ah iya ya, kelimanya pantas masuk list ini, blogger panutan juga nih ^^

  10. May 7, 2016 at 9:30 am

    ibu wiek emang keren, dirimu juga keren sarceu cieee :))

Leave a Reply