A Birthday Note; 30 Tahun Pertarungan

Usia hanya angka yang dirajahkan di atas tangan kita
di setapak jalan dan almanak
kelak, kita hanya akan mampu mengenang
genang-genang kenang di belakang
sedangkan hidup tak pernah menyisakan
romantisme apa pun kecuali
derap, kecuali gegap

Nyaris setiap tahun saya membuat catatan seperti ini, bukan untuk merayakan, hanya untuk mengingatkan. Bahwa usia saya bukannya bertambah melainkan berkurang. Tahun demi tahun berlari dari satu stasi ke stasi yang lain. Kadang saya ingat beberapa peristiwa, tapi lebih banyak yang saya lupakan.

Bagi saya, tanggal hanya ritual pergantian, rotasi yang tidak akan pernah berhenti. Maka tanggal 27 Januari tidak berarti banyak kecuali persimpangan yang kelak akan saya lupakan. Toh hidup masih harus terus berjalan. Kebiasaan saya yang lain adalah membandingkan situasi di tanggal ini dari tahun yang sedang dijalani dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu, saya tak memiliki rumah, tidur menumpang dari satu tempat kos teman yang satu ke tempat kos yang lain. Rambut saya baru tumbuh 3 cm; luka fisik yang tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan luka psikis.

Tahun lalu, saya tidak memiliki penghasilan apa-apa, makan mengandalkan dari sumbangan teman-teman. Bertahan hidup mati-matian sekaligus ingin bertahan dari ingin mati itu sendiri. Bersembunyi dari dunia dengan pura-pura tertawa, pura-pura tak memiliki air mata. Benar-benar tahun yang mencekam.

Tahun lalu seorang Skylashtar Maryam bukanlah siapa-siapa, hanya perempuan yang mengaku mencintai dunia penulisan setengah mampus. (Tahun ini pun saya bukan siapa-siapa).

Tahun ini, usia saya genap menginjak 30 tahun. Sebuah usia yang ketika kecil selalu saya bayangkan dan penuhi dengan pertanyaan; menikah dengan siapa, akan jadi apa, punya anak berapa, kehidupan macam apa, dan hal-hal remeh yang hanya ada di benak anak kecil berusia 10 tahun.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tanggal 27 Januari tidak saya lewatkan di tempat kos dan nyaris kelaparan. Tahun ini saya lewatkan bersama suami, berada di tempat yang nyaman, tidak kedinginan, tidak kehujanan, dan tidak kelaparan.

Maka dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya untuk berterima kasih kepada banyak pihak, sebab tanpa mereka mungkin saya tidak akan pernah mencapai angka 30 ini.

Allah SWT.
Terima kasih atas nikmat usia, nikmat berkarya, dan segala petunjuk serta kemudahan yang telah Engkau berikan selama ini. See you there. Miss U so much.

Salwa Isheeqa Azzahra Maryam
Engkau adalah renjana, Nak. Hidupku akan senantiasa gelap tanpamu.

Keluarga Sumpena
I’m still alive, isn’t great?

Rhomdoni Shohibul Wafah & Zona Zibril
Semoga hidup kalian baik-baik saja. Terima kasih karena telah menjadi cerminan.

Kakak-kakak Perempuan Saya
Mbak Mukti, Teh Gia, Teh Ida Susanti, Teh Indari Mastuti, Mbak Etyastari Soeharto, Mbak Nikky, Teh Tati Yuni, Bunda Nieke Yuwono. Hati saya hangat ketika mengingat kalian.

Rekan-rekan di KPPI
Cimet, Teh Yenti Nurhidayat, Teh Em, Ceu Ayu, Ceu Nisa, Teh Wida, Dian Hartati, Diana Cahya Alam, Teh Heni, dan semua divisi implementasi. You rock, ladies! Terima kasih karena selalu ada meski kalian sering disebut-sebut sebagai kawan yang tak pernah mengingatkan ketika saya tersesat. Bwahahah….

Lingkaran UIN SGD Bandung
Mia Indria, Fika Lestari, Bunda Cesi, Adi Firmansyah, Rizal Darmawan, Pow Jelek. Saya berutang kehidupan kepada kalian. Terima kasih.

Banyak nama yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Namun karena kalian, saya bertahan. Rasa terima kasih saja saya kira tidak akan pernah cukup sementara saya banyak berutang kebahagiaan. Semoga segala kebaikan akan senantiasa berbalas kebaikan.

Salam cinta,
~eS

2 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    February 5, 2013 at 5:34 am

    Terima kasih karena selalu ada untuk karya-karya saya. Terima kasih atas doa dan harapan yang dipanjatkan. It mean's a lot, believe me.

    Amin. Semoga hidup yang terjal cukup saja menjadi masa lalu yang dikuburkan.

  2. February 5, 2013 at 4:39 am

    30 memang bukan jumlah yang sedikit, namun jika dikaitkan dengan umur seseorang, 30 adalah usia prima dan masa produktif seseorang.

    Saya mungkin bukan siapa-siapa, tapi sejak saya membaca karya-karya teteh di website sebelah (sebut saja inisial D) saya benar-benar jatuh hati dengan gaya menulis teteh, menariknya isi tulisan-tulisan teteh yang dikemas sebegitu apiknya, dimana setiap isi cerita selalu memberikan gimik-gimik yang membuat saya geregetan. Dari situlah saya kagum dengan karyamu, teh. Sejalan itu bukan miris atu kasihan mendengar ceritamu, malahan karna sosok tangguhmu, saya pun jadi terkagum dengan pribadimu.

    Bukan hadiah mewah yang bisa saya berikan, tapi doa yang tak berkesudahan akan selalu saya panjatkan…
    Selamat ulang tahun teteh. Semoga teteh bisa menjadi istri sholehah, ibu yang membanggakan, dan perempuan yang selalu memberikan inspirasi melalui kata-katanya yang tertuang dalam tulisan yang menenangkan, menyenangkan, atau bahkan menegangkan namun tetap memberikan hikmah dan pelajaran…

    Salam terhangat,
    pengagumu,
    Zia

Leave a Reply