A BIRTHDAY NOTE

Tanggal 27 Januari kemarin aku ulang tahun yang ke 26. Tak ada pesta meriah, bahkan tak ada pesta sama sekali. Ucapan ulang tahun pertama datang dari keluargaku di Bandung, tepat jam dua belas malam. Yang kedua datang dari temanku di Kijang. Lalu dari teman-teman yang kukenal di chat room. Waktu aku nyalain komputer, ucapan selamat ulang tahun datang bertubi-tubi, malahan sampai dibahas en ditodong traktiran di chat room. Teman-teman di milis ESKA pun tak lupa mengucapkan selamat dan memberi doa.

Jujur, aku termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan hari ulang tahun. Baik itu hari ulang tahunku, maupun hari ulang tahun orang lain. Satu-satunya yang kuingat hanya tanggal 13 Desember, hari ulang tahun puteri kecilku. Selain itu, tak ada yang berarti. Terlalu banyak orang yang kukenal, terlalu banyak tanggal yang harus kuingat. Aku tak sanggup.

Bagiku, tak ada yang istimewa dari tanggal 27 Januari. Hanya kebetulan saja pada hari itu, 26 tahun yang lalu aku dilahirkan. Selebihnya, hanya hari biasa seperti hari-hari yang lain.

Sebagai seorang single parent [lagi], tak banyak hal yang bisa kulakukan untuk menikmati hidup. Sekedar hidup, bernapas, tumbuh menjalani hari-hari, menunggu waktunya mati.

Tadi malam, aku menelusuri pematang kenangan. Mengingat dan menandai wajah orang-orang yang berlalu lalang dalam hidupku selama 26 tahun ini. Mengorek-ngorek setiap kejadian. Baik itu tawa, bahagia, getir, pahit, tangis, perih, dan sakit. Mendapati satu kenyataan yang sedikit mengejutkan; perempuan ini ternyata sudah mengalami berbagai pahit, dan terbukti masih bisa bertahan. Aku semakin merasa tegar.

Setelah itu, berusaha membuat daftar kesalahan dan khilaf yang pernah kulakukan, sempat berdarah-darah saking banyak yang harus kuingat. Intronspeksi diri dan berjanji tak akan melakukannya lagi.

Kemudian aku tertidur, dalam senyum dan pikiran positif. Bahwa esok hidupku akan berjalan lebih baik. Sehingga, bila aku sampai di angka 27 nanti, tak ada lagi yang perlu disesali. Atau apabila aku berhenti di tengah jalan, terhenti oleh garis bernama kematian, setidaknya aku akan mati setelah mengecap satu kata ini; BAHAGIA.

Leave a Reply