Naskah itu tidak ditolak, melainkan sedang menunggu waktu yang tepat dan tempat yang tepat.
Sudah sejak tahun 2011 saya mengikuti audisi naskah A Cup Of Tea (ACOT)-nya Stiletto Book. Waktu itu tentang Complicated Relationship. Naskah saya ditolak, padahal saya dan beberapa teman rela begadang sampai jam satu pagi hanya untuk menunggu pengumuman. Saya kecewa, tentu saja. Karena waktu itu saya berpikir bahwa naskah saya bagus dan layak. Tapi toh akhirnya ditolak juga. Saya yang ‘pengacau lomba penulisan’ dalam arti sering lolos ini merasa ‘tertampar’, berarti kualitas tulisan saya belum sesuai dengan yang saya harapkan. 

Apakah saya menyerah? Tidak, saya tunggu audisi berikutnya. Audisi berikutnya adalah Menggapai Mimpi. Namun sayangnya saya tidak sempat mengirimkan naskah karena sedang sibuk-sibuknya di kantor. Jadilah saya berubah menjadi tim penggembira. Sama-sama begadang hanya untuk menunggu pengumuman karena teman saya ikut. Nah, Mbak Et, teman saya itu lolos, tentu saja saya gembira. Kebahagiaan teman adalah kebahagiaan saya juga. 


Di edisi berikutnya, ACOT for Writer, saya kembali mengirimkan naskah karena temanya cocok dan saya punya waktu luang untuk menulis. Dari yang tadinya memenuhi rasa penasaran kemudian menjadi obsesif. Saya memang tipe manusia yang memiliki falsafah hidup ‘pepet terus’ nyaris dalam segala hal. Termasuk penulisan. Bagi saya, tidak ada gunung yang tidak dapat ditaklukkan. 

Bukan karena saya ingin terkenal, bukan karena saya ingin menambah referensi buku yang sudah terbit di penerbit major. Bukan! Ini lebih tepat disebut sebagai perburuan, dan tentu saja penaklukan. Tidak ada penerbit yang tidak memiliki celah kesempatan. Saya sudah kadung menaasbihkan diri sebagai penulis generalis, maka saya harus bisa menulis dalam genre, gaya, dan tema apa saja. 

Sebuah karya adalah bayi-bayi yang dilarungkan ke lautan lepas untuk kemudian menemukan delta atau kepulauan yang tepat untuk ia bertumbuh. Dan bayi saya, naskah untuk ACOT for Writer itu ternyata menemukan deltanya dengan cara paling tidak disangka. Obsesi saya terpenuhi dan menemukan caranya sendiri. Naskah saya lolos, dan sekarang saya menjadi bagian dari Stiletto. 

Jadi, gunung mana yang tidak bisa ditaklukkan? ^_^

One Comment

  1. April 11, 2014 at 3:37 am

    🙂

Leave a Reply