A Year to Remember


Kali ini aku berjanji, ini surat terakhir yang aku buat untukmu, meski aku tahu bahwa kau tak akan pernah berhasil membaca ataupun sekadar menerka. Di dalam mimpi paling retih sekalipun, tak pernah aku ingin kehilanganmu. Sampai hari ini, kau adalah jantera darah dan jantungku. Jantung yang jika detakannya dapat engkau hitung maka ia hanya akan meneriakkan satu nama selain Tuhan, yaitu namamu. 

Mengingatmu layaknya membuka sebuah kotak pandora berisi para penyihir dan hantu-hantu. Segala kenangan yang ingin sekali aku lupakan berebut keluar. Mereka mencakar-cakar isi kepala, membuatku ingin menyayat segala, termasuk urat nadiku sendiri. Ya, sesakit itulah mengingatmu.

Namun aku harus tetap mengingat agar segala macam kegilaan yang pernah kulakukan untuk mempertahankanmu menjadi pelajaran paling berharga. Meski dengan melakukan itu, aku dikutuk oleh kata lupa. 

Aku berjanji, ini surat terakhir yang kubuat untukmu. Entah kau akan membacanya atau tidak. Entah kau masih ingat kepadaku atau tidak. Mungkin saja namaku di benakmu sudah dimamah lupa sehingga aku bukanlah siapa-siapa, hanya sebuah nama yang tak memiliki arti apa-apa. 

Ini surat terakhir yang aku buat untukmu. Mungkin engkau akan lupa, meski aku tidak.

Leave a Reply