36c0d-aksa

Den Bagus Lazuardi K. Adhyaksa

Di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas tapi tak melakukan tindakan nyata ini, kasus hamil di luar nikah pada akhirnya berujung pada cemoohan: situasi yang teramat menekan bagi perempuan mana saja. Komentar-komentar seperti “Ya ampun, itu kan anak sendiri. Kok tega dibunuh?” atau “Bajingan! Tidak berperikemanusiaan.”

Membaca komentar-komentar bernada seperti itu setidaknya meletupkan harapan, bahwa di luar sana masih ada manusia yang berpikir seperti manusia. Bahwa di luar sana, masih ada orang-orang yang cukup waras.

Sayangnya, orang-orang yang berkomentar seperti itu barangkali sedang berada di titik nyaman, bukan berada di titik penuh tekanan. Komentar itu hanya akan menjadi letupan kecil, lalu padam. Tidak memberi kontribusi apa-apa selain kata-kata yang tak bergema.

Sebagai seseorang yang pernah berada di kedua titik sekaligus, izinkan saya memberikan gambaran yang lebih nyata. Iya, saya tahu bagaimana rasanya menantikan kehadiran anak dari sebuah pernikahan. Ketika laci lemari berisi berbagai macam merek test pack. Ketika seminggu setelah berhubungan pergi ke kamar mandi dengan penuh harapan lalu terduduk lunglai saat batang berwarna putih itu hanya dihiasi satu garis merah, bukan dua. Ketika baju, topi, kayu putih, dan sepatu bayi menjadi benda yang teramat sakral. Ketika merasa iri setengah mati saat teman-teman mengunggah foto buah hatinya di media sosial. Ya, saya tahu itu.

Tapi apakah Anda tahu bagaimana kalutnya ketika test pack itu bergaris dua sementara Anda tidak terikat pernikahan dengan siapa-siapa? Apakah Anda tahu bagaimana rasanya ketika “teman tidurmu” mengatakan “Tanya saja pada laki-laki lain, aku nggak yakin kalau itu anakku.”? Apakah Anda tahu bagaimana diberi tatapan seolah-olah Anda adalah binatang menjijikan oleh ibu Anda?

Mereka, perempuan-perempuan yang sedang Anda caci maki itu sebetulnya tahu bahwa menggugurkan kandungan artinya membunuh anak sendiri. Mereka, perempuan-perempuan yang Anda katai sebagai bajingan dan bukan manusia itu tahu bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Tapi tidak semua dari mereka memiliki pilihan. Tidak semua dari mereka memiliki keberanian untuk menghadapi masyarakat yang lebih sering menghakimi daripada memberikan solusi. Tidak semua dari mereka memiliki cadangan kekuatan.

Beberapa perempuan memilih untuk menggugurkan kandungan lebih awal. Beberapa memilih untuk mempertahankannya meski diam-diam lalu membuang bayi mereka ke selokan. Beberapa memilih untuk meneruskan kehamilan lalu memberikan bayi mereka kepada orang lain kemudian meneruskan hidup seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Beberapa memilih untuk mempertahankan kandungan, melahirkan, memelihara anak mereka namun disertai rasa sesal dan penuh dendam. Beberapa memilih untuk menikah dengan lelaki mana saja untuk menutupi “aib”. Beberapa menerima kehamilan dengan sadar, memutuskan untuk memelihara anak mereka juga dengan sadar. Kategori terakhir tidak banyak. Sungguh, tidak banyak.


Saya tidak ingin membicarakan tindakan preventif, karena anak SMP saja sudah tahu bahwa seks di luar nikah itu masalah. Saya ingin mengajak Anda untuk berhenti menghakimi. Sebab bukan begitu cara menyelamatkan bayi-bayi yang dibunuh ibu mereka sendiri. Tindakan dan kata-kata frontal hanya akan menambah beban. Menjadi duri dan api.

Saya juga tidak sedang mengajak Anda untuk berpikir permisif. Atas nama moralitas dan norma-norma yang kita pegang hari ini, hamil di luar nikah tetap saja salah. Tapi membunuh bayi sendiri jelas jauh lebih salah.

Saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama meminimalisasi aborsi atas nama kemanusiaan:

1. DUKUNGAN MORAL

Anda tidak harus menekankan kepada mereka tentang halal dan haram seks di luar nikah, mereka sudah tahu itu. Anda juga tidak harus menekankan bahwa membunuh bayi sendiri adalah salah. Percayalah, mereka juga tahu itu. Yang perlu Anda lakukan adalah memastikan kondisi psikologis si ibu, meyakinkan bahwa masyarakat akan memaafkan dan menerima satu lagi bayi di dunia dengan gembira. Berhenti mencibir, berhenti menghakimi, berhenti merasa menjadi manusia paling suci.

2. DUKUNGAN FINANSIAL

Ini faktor yang krusial. Yang sering bercokol di dalam benak mereka adalah bagaimana cara menghidupi bayi, dari mana uang untuk memeriksakan kandungan dan biaya melahirkan, dari mana uang untuk membeli peralatan bayi, dan hal-hal seperti itu. Departemen sosial di Indonesia mati suri untuk kasus-kasus seperti ini. Tugas saya, tugas Anda, tugas kitalah untuk memastikan tidak ada lagi bayi-bayi yang dibuang ke selokan, tidak ada lagi janin-janin yang dibunuh dengan cara paling kejam, tidak ada lagi bayi-bayi kelaparan, tidak ada lagi perempuan-perempuan yang terjerumus ke dalam prostitusi demi menghidupi anak-anak mereka.

Tidak usah memberi sumbangan kalau Anda tidak mampu, toh Anda bukan badan amal. Beri mereka kesempatan, beri mereka pekerjaan, beri mereka keterampilan agar bisa berdikari di atas kaki sendiri.

3. DUKUNGAN SOSIAL

Anda tahu bagaimana rasanya dipanggil lonte? Anda tahu bagaimana rasanya ketika anak Anda dikatai “anak haram”? Tidak tahu? Let me tell you, rasanya sakit. Jadi ketika Anda memberikan predikat itu kepada perempuan lain dan anak mereka, cobalah berpikir sekali lagi. Kalaupun Anda memakai kata dosa sebagai hujah, biarkan neraka yang membakar dosa-dosa mereka, tidak harus Anda.

4. DUKUNGAN HUKUM

Ini berhubungan dengan masalah teknis, sebetulnya. Sesuatu yang sebetulnya sudah ada solusi tapi entah mengapa selalu menjadi sumber kebingungan. Kata siapa anak di luar nikah tidak bisa memiliki akta kelahiran? Bisa. Anak di luar nikah memiliki ikatan hukum dengan ibunya. Di akta kelahiran hanya akan tertulis nama ibu. Lalu bagaimana kalau suatu hari anak di luar nikah menjadi pejabat atau seseorang yang terkenal sehingga akta kelahirannya menjadi masalah? Masalah yang timbul kan hanya gunjingan, bukan masalah hukum. Persetan dengan anggapan orang-orang, life with it.

“Kalau anak di luar nikahnya perempuan, lalu bagaimana dengan wali nikah?” Pakai wali hakim, ada dalam undang-undang dan fiqih. Tidak usah bingung.

Hak waris? Kalau ayah si anak bukan konglomerat yang punya tujuh pulau atau pemilik tambang minyak, ngapain repot-repot memikirkan hak waris?


Sekali lagi, meminimalisasi aborsi tidak bisa dilakukan dengan tindakan-tindakan provokatif. Langkah persuasif lebih mempan dan memberikan hasil nyata. Dan tolong, ketika membaca tulisan saya, jangan anggap ini sebagai sebuah pembenaran.

Salam,

~eL

(Dedicated to: Aksa)

 

10 Comments

  1. February 6, 2016 at 5:17 am

    Ketjup Aksa :*
    Terharu aja baca tulisannya, udah gitu aja.
    Besok bikin tulisan yang kayak gini lagi ya teh. Infografisnya di blog sebelah aja. hehehe

    • February 6, 2016 at 5:27 am

      Di mari emang ga bakalan banyak infografis, capek bikinnya. Hahaha.

  2. February 6, 2016 at 6:52 am

    Ada kalanya manusia terseret pada situasi yang tidak menguntungkan, tidak menyenangkan. Tinggal gimana cara mensiasatinya aja agar tetap bertahan meski getir.

    That’s right. Live with it.

  3. February 6, 2016 at 3:19 pm

    note kaaakkkk 🙂

  4. February 9, 2016 at 4:25 am

    Sun Aksa :*

  5. adriannisa-Reply
    February 10, 2016 at 4:57 pm

    But we, women, always have an option..
    Yang nggak punya pilihan adalah anak-anak mereka.. Hidup atau mati mereka di tangan orangtuanya..

  6. RohmaFAzha05-Reply
    March 12, 2016 at 1:41 am

    semangat ya teh…
    mata aksa cerah banget teh… gemes banget ngeliatnya hhheee

  7. March 27, 2016 at 8:16 pm

    Huaaa..kenapa ampe nangis ya bacanya…Terharu. Salut sama mbak..salut dengan keberaniannya, pemikirannya.

Leave a Reply