Menolak Tua di Meja Kerja

dengan Acer Switch Alpha 12

Waktu itu, tiga tahun lalu, saya tengah mengandung 12 minggu ketika pindah kos ke Cimahi. Sendirian dan tak punya pekerjaan tetap. Tak banyak barang yang saya bawa. Hanya satu tas baju, dua kardus buku, ponsel GSM biasa, modem, dan satu unit PC yang saya pinjam dari Meitha karena laptop saya rusak. Saya bahkan tak punya kasur. Selama berbulan-bulan tidur beralaskan tikar dan sleeping bag yang juga pinjaman.

Tanpa pekerjaan tetap, jangan tanya bagaimana saya bertahan. Bisa mengisi perut dua hari sekali saja sudah cukup bagus, yang penting uang kos tetap terbayar agar saya tak harus tidur di jalanan. Satu-satunya yang saya pegang saat itu adalah harapan, sedangkan harapan adalah sesuatu yang cepat tumbuh, lekas pula luruh. Pada masa-masa kehamilan yang begitu berat, dengan lapar yang melilit perut, saya kira hidup saya selesai, tapi Tuhan punya skenario lain.

Awal mula profesi saya sebagai desainer bisa dibilang karena jasa seorang teman. Agustus tahun 2014, karena tahu saya bisa sedikit-sedikit mendesain, teman saya itulah yang menghubungkan dengan editor di sebuah penerbit major. Setelah dinyatakan lolos tes, saya resmi dikontrak menjadi penata letak lepas. Kehidupan pun berangsur-angsur membaik.

Bulan September 2014, pada dini hari yang sunyi, kontraksi terjadi. Sendirian, saya menyiapkan keperluan persalinan lalu berangkat ke bidan. Anak saya lahir beberapa jam kemudian. Anak lelaki yang saya beri nama Lazuardi K. Adhyaksa.

Dua hari setelah melahirkan, saya langsung kembali ke meja kerja. Tidak ada waktu untuk bermanja-manja. Empat bulan kemudian, setelah sadar bahwa saya terkena baby blues dan mulai keteteran, saya memutuskan untuk mencari pengasuh. Akhirnya Aksa diasuh oleh Bu Yayah, perempuan setengah baya yang tinggal tak jauh dari kosan saya. Setiap pagi, setelah dimandikan Aksa dijemput dan diantar pulang sore harinya.

Tapi terus terang, meskipun sudah ada pengasuh, tidak mudah menjadi seorang pekerja lepas sekaligus ibu dalam waktu bersamaan. Pekerjaan datang dan pergi sementara ada anak yang perutnya harus senantiasa saya isi. Ada biaya-biaya yang tak mungkin ditangguhkan. Maka, untuk memperpanjang napas kami, saya mulai serius di dunia blogging. Ini bukan dunia yang asing karena jauh sebelum menjadi desainer, saya sudah lebih dulu ngeblog, hanya saat itu belum serius betul. 

Selain aktif di komunitas dan monetisasi, berkali-kali saya “membantai” lomba blog, sesekali menang, lebih sering tidak. Blog ini pulalah yang mempertemukan saya dengan orang-orang baru dan para pembaca baru. Orang-orang yang rela menerima saya dan Aksa tanpa banyak bicara. Jika diingat-ingat, sepertinya saya tidak pernah tidur lebih dari 3 jam. Ada banyak hal yang harus saya lakukan agar setiap tagihan bisa terbayar. Setiap harinya, saya harus mampu “oper gigi” dari saya yang desainer, ke blogger, ke ibu. 

Kedua profesi sekaligus hobi inilah yang menjadi modal untuk bertahan hidup sekaligus menjadi sarana untuk memperoleh alat kerja lainnya. Dari desain dan lomba blog, saya bisa mendapatkan laptop, smartphone, kamera, dan mengganti PC pinjaman yang sudah rusak dengan PC yang lebih mumpuni. Mungkin bagi orang lain, prestasi seperti ini bukan hal besar, tapi bagi saya yang memulai dengan modal PC pinjaman, artinya melampaui apa yang bisa saya katakan. 

Portfolio Desain

Desain Buku

Desain Produk

Ilustrasi

Media Kit


Hidup terus berjalan. Saya tak berhenti berganti peran. Namun, bahkan di tengah kesibukan, ingatan tentang ayahnya Aksa kerap kali datang. Ingatan yang menjadi gerbang menuju ingatan buruk lainnya. Tanpa bisa saya cegah, peristiwa-peristiwa di masa lalu mulai berkeliaran di kepala. Kadang, saya seakan mendengar teriakan, melihat seorang lelaki dengan seutas tali di tangan dan seorang perempuan yang mirip saya sedang tergolek di ujung ruangan. Ingatan yang berasal dari KDRT pada pernikahan kedua.

Di saat yang lain, saya seakan melihat sepasang kekasih yang tengah bermesraan dan merasa sangat marah. Ingatan yang berasal dari pernikahan ketiga, saat suami saya pergi dengan perempuan lain. Pernah pula, saya merasa ada dua orang anak perempuan yang memanggil-manggil dan melambaikan tangan, mengajak saya mendekat dan pergi bersama mereka. Ingatan tentang dua putri saya yang telah meninggal.  

Dengan trauma masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai, berbagai tekanan hidup, dan baby blues yang tak sembuh, emosi saya kerap labil. Tak jarang saya mengamuk, menangis tanpa alasan, sampai melakukan percobaan bunuh diri.

Tujuh bulan lalu, saat usia Aksa baru 19 bulan, saya didiagnosis menderita Postpartum Depression atau PPD, momok mengerikan bagi semua ibu. Atas bantuan seorang teman, saya mendapatkan pertolongan medis yang lebih intensif. Tentu saja gratis. Honor saya tak akan cukup untuk membayar biaya konsultasi.

Bagi saya, rasa nyeri adalah energi. Saya menolak menyerah pada terjalnya hidup. Semakin rasa nyeri itu datang, semakin giatlah saya bekerja. Desain dan dunia kepenulisan telah menjadi semacam katarsis, membantu saya mengalihkan rasa depresi, membantu saya untuk sembuh. 

Orang-orang yang hanya mengenal saya di dunia maya kerap berpikir bahwa menggunakan keahlian desain grafik dalam lomba blog tidak adil bagi mereka yang memang tidak memiliki keahlian itu. Tak jarang komentar-komentar bernada nyinyir ditujukan untuk saya. Tapi mereka tidak tahu bahwa di sebalik ilustrasi dan infografik yang kerap “dicaci” sekaligus “dikagumi”, bahwa di balik kemenangan-kemenangan itu, ada seorang ibu yang berusaha menjadikan profesinya bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk dijadikan obat.

Mereka tidak tahu bahwa bagi saya yang sedang dalam masa penyembuhan PPD, berganti peran dari desainer ke blogger, lalu ke seorang ibu bukanlah hal mudah. Saya kerap kesulitan berkonsentrasi. Kerap tiba-tiba lupa apa yang sedang saya lakukan dan hanya duduk ngahuleung di depan monitor. 

Belum lagi saya punya chemistry berlebihan untuk merusakkan barang-barang elektronik. Entahlah, segala sesuatu yang menggunakan listrik jarang bisa bertahan lebih dari 3 tahun jika digunakan oleh saya. Saya juga tidak sering membawa alat kerja jika bepergian, alasannya sederhana: bahu kiri saya pernah patah karena kecelakaan motor beberapa tahun silam dan masih terasa nyeri jika membawa ransel dengan beban yang terlalu berat. 


Bekerja untuk Kemanusiaan

Kebaikan adalah mata rantai yang tak boleh terputus
– eL

Tapi, apalah arti manusia jika tidak bermanfaat bagi manusia lainnya? Apalah arti profesi jika hanya digunakan untuk mendapatkan hal-hal duniawi? Saya tidak ingin menghabiskan hidup hanya dengan bekerja lalu menua di depan meja. 

Sampai hari ini, tak terhitung pertolongan demi pertolongan yang saya terima dari kawan-kawan, baik materi maupun nonmateri. Beberapa orang bersabar sampai saya bisa membayar, lebih banyak lagi yang menolak dengan tegas, memberikan bantuan dengan ikhlas. Saya tahu, para dermawan ini tak meminta balasan, tapi kebaikan adalah mata rantai yang tak boleh terputus. Saya percaya bahwa hidup sejatinya adalah putaran samsara, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Dan saya tak ingin kebaikan yang saya terima hanya berhenti di saya. 

Karena tak banyak harta yang bisa saya sumbangkan, maka satu-satunya sumber daya yang bisa saya berikan adalah tenaga dan keahlian yang saya miliki, kedua profesi yang saya tekuni. Saya tak ingat kapan tepatnya kerja-kerja sukarela ini dimulai. Yang saya ingat hanyalah bahwa belum cukup kebaikan yang saya lakukan.

Sebagai penulis dan sedikit banyak paham iklim media, saya menjadi media relation untuk beberapa organasisasi nirlaba. Termasuk di antaranya organisasi yang menangani anak-anak terlantar, anak-anak yang dibuang orang tuanya, anak-anak yang mau tidak mau mengingatkan saya pada Aksa. Di luar sana, ada banyak perempuan yang nasibnya tidak seberuntung saya sehingga terpaksa meninggalkan anak-anak mereka. Sebagai desainer, yang saya lakukan adalah mendesain banner atau marketing kit lain yang diperlukan oleh UKM-UKM. 

Semoga Anda tidak terlalu muak ketika membaca subbab ini, dan semoga saya tidak terjebak dalam penyakit hati. Yang coba saya katakan hanyalah bahwa ini bentuk terima kasih saya atas pertolongan yang diberikan orang-orang, beberapa di antaranya adalah pembaca setia blog ini. Lebih jauh lagi, saya menganggap kerja-kerja pro bono sebagai cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya tetap manusia. Sebenar-benar manusia.

“Senjata” Sehari-Hari

Laptop

PC

Smartphone

Kamera



 

acer-switch-alpha-12_hijau

SEBUAH PERKENALAN

Ini bukan kali pertama Acer meluncurkan notebook hybrid, sebelumnya Acer sudah punya Spin 7 yang super tipis, Switch 10 E yang berwarna-warni, Aspire P3, dan lainnya. Namun, kali ini Acer mempelopori hadirnya inovasi baru: notebook hybrid tanpa kipas atau fanless. Menurut press release yang saya baca, Switch Alpha 12 memang sengaja tidak memakai kipas pendingin seperti notebook biasa. Overheat? Nope, dengan memakai teknologi LiquidLoop, Alpha 12 justru memiliki 3 keunggulan sekaligus: lebih ringan, tidak overheat, dan tidak berisik.

Jika Anda mengenal saya dengan baik, Anda pasti tahu bahwa bagi saya, peluncuran laptop atau notebook terbaru jauh lebih menarik daripada hmmm … fesyen. Jadi, beberapa hari lalu saya sengaja datang ke Acer Store di BEC, Bandung, untuk melihat Switch Alpha 12 secara langsung. Kesan pertama sih saya agak-agak under estimate dengan keyboard-nya, mungkin karena saya terbiasa mengetik di papan laptop. Tapiii … begitu mencoba monitornya, semacam ingin membawa pulang aja gitu. Alus pisan, hayoh! Gogolosoran, sigana ngeunaheun da mun dipake nga-layout. 

Ada satu hal lagi yang membuat saya histeris, i5, cuy, i5! Kabayang teu mangprangna siga kumaha? Well, kesimpulan dari hasil sidak kemarin adalah: pasangkan Adobe di Acer Switch Alpha 12, dan akan kutaklukkan dunia. Udah itu aja. Anda yang masih penasaran, spek dan fitur-fitur unggulan akan kita bahas di subbab selanjutnya. Mangga, yang mau bikin kopi dulu, dipersilakan.

SPESIFIKASI ACER SWITCH ALPHA 12

acer-switch-alpha-12

Processor

  • Intel® Core™ i5-6200U processor (3 MB L3 cache, up to 2.8 GHz)
  • Intel® Core™  i7-6500U processor (4 MB L3 cache, up to 3.1 GHz)

OS

Windows 10 Home 64 Bit

Storage

  • 256GB SSD
  • 512GB SSD

Memory (RAM)

  • 4GB DDR3
  • 8GB DDR3

Graphic

Intel® HD Graphics 520

Connection

  • Wifi 802.11a/b/g/n/ac
  • Bluetooth® 4.0

 

Battery Capacity

4,870 mAh / up to 8 hours

Display

12″ IPS QHD (2160 x 1440) Multi Touch

Dimension & Weight

  • 292.1 (W) x 201.4 (D) x 15.85 (H) mm – pad and dock
  • 1.25 kg

Camera

5 MP Camera

Port

  • 1x USB 3.0
  • 1x USB 3.1 Type C
  • 1x Micro SD card slot

Color Option

Silver

FITUR UNGGULAN ACER SWITCH ALPHA 12

Saya: Kok ini mirip stylus, Kang?
Pramuniaga: Itu memang sejenis stylus, Teh. Namanya Acer Active Pen.
Saya: Masaaa? Sumpeh, lo? Bisa pakai ini kayak di tablet? Bisa menggambar? Bisa mendesain? Cobain, dong. Cobain.
Pramuniaga: Yaelah. -__-“

Dialog di atas memang agak-agak norak, tapi biarlah “dosa” ini saya yang tanggung sendiri. Saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa menata letak dengan active pen seperti ini adalah impian saya sejak dulu. Dengan output minimal 50 halaman + ilustrasi per hari, pergelangan tangan kanan saya sudah berkali-kali cedera karena terlalu lama memegang mouse.

So, berikut fitur-fitur andalan Acer Switch Alpha 12 sebagai bahan referensi Anda:

liquidloop_2

 

Seperti yang saya ceritakan di subbab sebelumnya, Switch Alpha 12 merupakan notebook pertama di dunia yang tidak memakai kipas atau atau fanless. Sebagai ganti sistem pendingin, Alpha 12 dilengkapi dengan Acer LiquidLoop sehingga notebook tidak berisik, tidak berdebu, dan tentu saja bobotnya jadi lebih ringan.

acer-bec_2

 

Jika dibandingkan dengan “adik-adiknya”, Switch Alpha 12 jelas lebih unggul dalam hal besaran RAM dan kecepatan prosesor. Tersedia dua pilihan: 4GB + i5 dengan kisaran harga 13 juta, dan RAM 8GB + i7 dengan kisaran harga 19 juta. Desainer mana yang tidak akan tergerak hatinya, coba?

backlight-keyboard

 

Ternyata, bukan cuma sablon kaos atau hiasan yang bisa glowing in the dark, keyboard juga bisa. Ini tentu saja sangat membantu jika kita sedang mengetik di tempat yang memiliki pencahayaan minim. Selain berfungsi sebagai keyboard, juga berfungsi sebagai screen protection

active-pen

 

Lepaskan semua keterbatasan yang Anda miliki ketika menggunakan notebook biasa dan rasakan kebebasan Active Pen. Kemarin sih saya sudah mencoba menggunakan beberapa software yang tersedia di konter, sayangnya tidak sempat menggunakan Adobe Illustrator karena belum di-install.


switchableme_baru

Setelah menyentuh langsung Acer Switch Alpha 12,
mempelajari spek dan fiturnya, ada satu pertanyaan yang terus-menerus mengintai:
Apa saja yang bisa saya lakukan dengan notebook hybrid ini?
Bisakah saya menjalani berbagai macam profesi sekaligus?

Sebagai generasi Z atau iGen, Aksa adalah anak yang dibesarkan oleh teknologi. Meskipun saya lebih suka membacakannya buku atau mengajak dia bermain mainan konvensional, toh saya tidak bisa mengasingkan dia dari kemajuan teknologi. Aksa adalah penggemar Youtube militan, menonton video kereta api adalah satu-satunya cara yang bisa mencegah dia membuat simulasi gempa bumi di kamar kami. Iya, saya tahu bahwa menonton terlalu lama berbahaya bagi batita, itu sebabnya mengapa saya mendesain education book untuk dia. Rencananya saya juga ingin membuat video animasi interaktif agar kegemarannya terhadap media audio visual bisa dialihkan ke hal yang lebih positif.

Dengan Acer Switch Alpha 12, kami bisa menggunakan mode tablet untuk menonton video animasi interaktif atau membaca e-book tanpa harus repot-repot memindahkan file. Saya bisa mendesain di notebook, menyimpan, dan mempersembahkannya untuk Aksa di device yang sama.


Selain menulis status untuk blog ini, saya juga menulis untuk dua situs web sebagai content writer dan content planner. Setiap harinya saya harus menyelesaikan paling sedikit 2 tulisan sepanjang minimal 700 kata. Karena saya juga bisa mendesain, biasanya saya pulalah yang membuat featured images atau ilustrasi untuk konten.

Jika sedang ada order tata letak, setiap harinya saya harus bisa menyelesaikan paling sedikit 50 halaman tata letak buku plus ilustrasinya. Software desain yang dipergunakan secara bersamaan dan dalam waktu lama sering membuat laptop saya agak-agak hareeng atau overheat, itu sebabnya mengapa saya agak tergantung kepada cooling pad. Teknologi LiquidLoop saya yakin bisa mengatasi hambatan ini.  

Dulu, menulis memang bisa dilakukan di mana saja, tapi mendesain tidak. Dengan adanya Acer Active Pen, batasan itu runtuh seketika. Saya bisa mendesain bahkan ketika dalam perjalanan di dalam bus atau kereta, misalnya. Jadi, tidak akan ada waktu yang terbuang percuma. Artinya, saya bisa switch dari blogger ke desainer, dari desainer ke blogger, dan dari blogger ke relawan.

Dengan bobotnya yang hanya 1.25 kg, saya tak akan memiliki banyak hambatan ketika harus membawa notebook. Setidaknya, bahu saya yang sempat patah ini tidak akan terlalu nyeri. Dan coba bayangkan betapa kerennya ketika saya harus presentasi di depan klien. Yang perlu saya lakukan hanyalah mencopot keyboard, memasang notebook dengan ezel mode, lalu mulai presentasi. Oh, dan tidak usah takut habis baterai karena baterai Switch Alpha 12 bisa bertahan hingga 8 jam. Persis seperti jam kantor.

RAM 4GB dan prosesor i5 jelas lebih dari cukup untuk memfasilitasi seorang desainer. Jujur, saya selalu kesulitan ketika harus menjalankan beberapa software desain sekaligus. Biasanya saya akan membukanya secara bergiliran, persis seperti piket atau jadwal ronda. Besaran RAM dan kecepatan prosesor akan membuat performa saya sebagai desainer semakin meningkat. Kalau kata urang Sunda mah, kabayang mangprangna. 😀


Sejak dua tahun lalu saya punya toko online yang khusus menjual sepatu handmade Bandung. Bisnis yang akhir-akhir ini terhenti karena bosan saya tidak punya cukup banyak waktu untuk mengelolanya. Agar latihan menjadi pengusaha muda tetap jalan, saya pun melakukan invasi dan bergabung dengan duastart up yang khusus menjual kaos, handphone case, pillow cover, dan totebag. Bukan, bukan saya yang mengelolanya. Saya hanya mendesain dan membuka toko online di situs web mereka. Produksi dan pengiriman ditangani oleh mereka.

Karena notebook hybrid ini bisa dijadikan tablet, saya bisa dengan mudah mempromosikan item jualan saya ketika bertemu dengan teman-teman atau saudara.


 

Selain membaca dan stalking akun mantan, hobi saya yang lain adalah belajar fotografi. Hobi yang kemudian menjadi semacam kebutuhan karena walau bagaimanapun kemampuan memotret dapat menunjang profesi saya yang lain. Berpindah dari yang biasanya memegang mouse ke shutter itu ternyata bukan perkara mudah. Saya harus bisa men-switch otak desainer ke otak fotografer.

Nah, masalahnya, memindahkan file foto ke laptop kadang memakan waktu lama. Dengan adanya USB port tipe 3.1 C, hal itu tidak akan menjadi masalah lagi. Untuk melihat hasil foto pun jadi lebih menyenangkan karena tidak seperti kamera, layar Alpha 12 lebih lebar, touch screen pula. Selain itu, membawa kamera dan laptop pada saat bersamaan lebih sering ribet daripada mudahnya. Belum lagi cooling pad yang harus selalu dibawa agar laptop tidak overheat. Karena bobotnya yang ringan, notebook hybrid ini lebih mudah dibawa, bahkan jika saya harus membawa serta kamera atau perlengkapan Aksa.


 

Sebagai tim media relation, saya harus siap membuka laptop kapan saja. Entah itu di tengah demonstrasi atau ketika berhadapan dengan para polisi. Daya tahan baterai dan mode tablet adalah apa yang betul-betul saya butuhkan agar saya bisa seketika itu juga membuat berita atau membuat catatan.

Menjadi relawan mengharuskan saya blusukan ke kampung-kampung, terjaga sampai dini hari, atau berada di tempat-tempat sunyi. Meskipun saya ahli blind typing, tapi keyboard backlight yang dimiliki Switch Alpha 12 jelas tidak akan sia-sia. Lagi pula, sejauh apa pun saya pergi, toh saya tetap harus memenuhi kewajiban saya sebagai content writer dan desainer. Ada tulisan dan tata letak yang harus dikirimkan.


 


Hobi & Obsesi Lain

Obsesi saya sebetulnya bukan jadi pemain musik, tapi penyanyi dangdut. Sayang, sekeras apa pun saya berusaha, kualitas suara saya hanya sampai pada kualitas “menyanyi di kamar mandi”. Begitu juga dengan alat musik lain, meskipun semua keluarga saya bisa bermain gitar, entah kenapa saya justru selalu gagal membedakan antara kunci C dengan G.

Hingga tulisan ini diturunkan, sepertinya memang tak banyak yang tahu tentang hobi saya ini. Saya tidak pernah mengunggah foto atau video. Lagi pula, untuk apa? Nantilah kalau sudah ada jadwal pertunjukan rampak gendang. 😀

Dari sekian banyak cabang olahraga, kenapa saya justru memilih kick boxing? Entahlah, saya juga tidak begitu mengerti. Mungkin karena saya sudah agak bosan dengan karate dan tidak berminat dengan yoga atau zumba. Yang jelas, kick boxing merupakan katarsis bagi saya, sama seperti desain dan menulis.

Olahraga ini juga membuat saya merasa aman, membantu menyeimbangkan kadar adrenalin, sekaligus membantu saya berdamai dengan trauma KDRT beberapa tahun lalu itu.


Hari ini, tiga tahun setelah kepindahan saya ke Cimahi, semua ingatan tentang hal-hal buruk hanya menjadi masa lalu, tempat saya berkaca, tempat saya belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hari ini, tiga tahun setelah masa kehamilan dan persalinan yang “berdarah-darah”, kenyataan bahwa ayahnya Aksa tidak pernah kembali sudah tak penting lagi. Yang paling penting adalah bahwa saya sudah dan akan terus berusaha menjadi ibu sekaligus bapak paling keren untuk Aksa. Ibu yang semoga saja membuat dia bangga dan tak menyesal lahir dari rahim saya.

Hari ini, tiga tahun setelah kepindahan saya ke Cimahi, semua ingatan tentang saya yang pengangguran dan tak punya profesi yang pantas dibanggakan, hanya menjadi setapak di belakang. Setapak yang membuat saya harus lebih berterima kasih kepada setiap uluran tangan, kepada setiap kesempatan, kepada setiap kepercayaan. 

Hari ini, tiga tahun setelah kepindahan saya ke Cimahi, saya sudah kenyang didera berbagai macam aral dari mulai komputer rusak, smartphone hilang, software desain “banyak tingkah”, sampai insiden harus ke warnet pada jam 1 dini hari padahal waktu itu saya tengah hamil tua. Mungkin sudah waktunya saya mempertimbangkan untuk menggunakan “one stop device” yang bisa mengakomodasi semua aktivitas saya. 

Hari ini, ada satu hal yang kemudian saya sadari: bahwa profesi dan keahlian yang saya miliki tak akan berarti banyak jika hanya digunakan untuk mencari nafkah. Saya hanya akan menua di depan meja, sebab mengejar karier layaknya mengejar bayangan sendiri: sesuatu yang tidak memiliki tepi. Saya sudah hafal betul bagaimana rasanya ketika berada di titik terendah kehidupan, tahu betul bagaimana rasanya tak memiliki siapa-siapa untuk bersandar. 

Mampu menjalani berbagai macam profesi dan hobi dalam satu waktu barangkali penting, tapi bagi saya, ada satu hal yang lebih penting: menjadikan profesi dan hobi sebagai alat untuk berbagi. Sebab, bukankah strata paling tinggi seorang manusia tidak dinilai dari siapa yang paling berbakat atau siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

 

Salam,
~eL

Foto & Sumber referensi:

  1. Koleksi pribadi
  2. Yasintha Astuti
  3. acerid.com
  4. acer.com

acer-switchable-me-story-competition

34 Comments

  1. February 12, 2017 at 6:02 pm

    keren mba artikelnya pengguna wordpress juga ya…

  2. January 25, 2017 at 2:01 am

    Keyen.

  3. January 7, 2017 at 10:35 am

    Selamat teh langiiit

Leave a Reply

%d bloggers like this: