ADA OJEK…PENYEK. GA ADA OJEK…LECEK

Nih judul sama sekali nggak ada hubungannya dengan Cinlau adik kembarku itu. Ini pure pengalaman pribadi, bisa dibuktikan dengan foto copy KTP dan NPWP.
Jadi, sodara-sodara. Ojek is my main transportation. Setiap pergi dan pulang kerja, sang Bapak tukang ojek lah yang menemaniku. Secara, Si Aa nggak bisa nganter karena jam kerja kami jauhan. Doi pergi jam tujuh pulang jam enam. Aku pergi jam setengah sembilan pulang jam lima. Dan jangan mimpi ibu muda yang funky dan manis ini bisa bawa motor sendiri. Kalo nabrakin, iya. Maka ngojek adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Dari keseharian naik ojek inilah aku jadi tahu keganasan lalu lintas Kota Batam. Terutama Batu Ampar di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Pengendaraa di sini lebih parah dari kota manapun yang pernah aku kunjungi. Semacet-macetnya di Bandung, nggak pernah ada orang yang nyebrang di zebra cross terus ketabrak. Senekat-nekatnya sopir bajaj di Jakarta, lebih nekat lagi para pengendara di Batam.
Setiap hari sebelum pergi kerja aku selalu berdoa: “Ya Allah, jangan biarkan hamba mati di jalan raya yang disebabkan oleh kebodohan manusia. Amin.”
Bapak tukang ojek-ku agak-agak racer gitu. Punya hobi nyalib-nyalib kendaraan di depan. Ngambil ruas jalan orang lain pula, tuh. Jangankan cuma mobil sedan, bus besar aja berani dia tantang. Pernah suatu kali dia mau nyalib truk besar, cuma diurungkan karena dia lihat truk itu membawa alat-alat berat yang setiap saat bisa saja jatuh menimpa kami. Selamat, selamat.
Dia juga nggak kenal dengan yang namanya rem. Ada pejalan kaki yang mo nyebrang, gas tancap terus. Otomatis tuh orang nyaris keserempet. Jadilah kami dihujani cacian. Karena aku baik hati, sempet juga kepikiran mo minta turun dulu terus minta maaf sama orang yang terdzolimi tadi. Tapi, nggak jadi karena takut digebukin massa.
Karena aku masih sayang nyawa, sempat memutuskan untuk ganti ojek. So, aku coba naik ojek lain. Eh, sama aja, bahkan lebih parah. Dengan perasaan terguncang, akhirnya aku kembali ke tukang ojekku yang lama.
Sebenarnya aku bisa aja jalan. Jarak rumah ma tempat kerja paling-paling cuma lima kilo meter. Ah, itu mah ketchil! Aku bisa berangkat lebih pagi, dan pulang agak lambat. Tapi setelah kupikir-pikir. Kayaknya itu bukan ide brilian, deh. Coba bayangin, setiap pagi aku harus pergi minimal satu jam sebelumnya. Karena jalanku kayak kuya, satu setengah jam minimal deh. Berarti aku harus berangkat jam setengah delapan. Nah, kapan aku masak, kapan beres-beres rumah, kapan dandan? Lagian kalo pagi-pagi masih ada waktu, biasanya aku nulis dulu. Entah puisi, entah cerpen, entah apa lagi.
Ditambah keadaan geografis jalanan Bukit Senyum yang emang berbukit-bukit. Menanjak-nanjak, dan menurun-nurun. Sampai di tempat kerja, bisa-bisa aku tinggal nama. Belum lagi pasti keringatan, bedak dan maskara luntur, lipstik pun belepotan. [yang kenal aku pasti tahu bahwa bedak, maskara, dan lipstik itu hanya fiktif].
Lagipula lalu lintas Batu Ampar di pagi hari tak baik untuk pejalan kaki. Bisa-bisa ketabrak mobil fuso pas mo nyebrang. Hiy…
Setelah mempertimbangkan manfaat dan mudharat plus konsultasi dengan Si Aa, akhirnya diputuskan bahwa aku harus tetep naik ojek. Karena Si Aa pun nggak mau melihat aku bergentayangan di Bukit Senyum menjelang malam [pulang kerja]. Iya kalo dia bisa jemput, kalo nggak?
Akhir cerita, aku pun berusaha setia kepada tukang ojek-ku yang racer itu. Hhh… Naik ojek, takut penyek. Nggak naik ojek pun lecek.

One Comment

  1. bocahbancar-Reply
    January 25, 2009 at 7:33 pm

    He he he he..Pengalaman dengan Bang Ojek nich…Salam…

Leave a Reply