AFTER THE RAIN

Dari dulu aku selalu suka hujan. Meski tanah becek dan gigil seringkali bertandang, namun kecintaanku terhadap hujan tak pernah pudar. Wangi tanah kering yang mengerang disapuh tempias lebih nikmat dari jenis kopi apapun. Teduhnya langit basah adalah cermin maha besar yang tak pernah mengeluh dipakai berkaca.

Karena otakku sudah tidak sanggup menyimpan berbagai kenangan akan peristiwa, maka aroma tidak. Aroma yang dibawa hujan sama dari tahun ke tahun, melintasi dekade demi dekade pematang perjalananku.

Hujan yang mengguyurku ketika aku masih berseragam putih abu sama dengan hujan yang menemaniku ketika aku berlari-lari kecil sepulang dari kantor. Hujan yang sama itu pulalah yang dulu pernah menggenggam tubuhku dalam kuyupnya ketika aku masih balita. Selalu saja hujan yang sama. Hujan yang tua setua jagad raya.

Setelah hujan itulah, kerap kucecap aroma tanah basah dan bau lumpur jejalan. Aroma yang kuanggap begitu purba sehingga nyaris menyedotku ke masa silam bak mesin waktu. Tiba-tiba masa mengabur, waktu luluh menjadi bubur. Yang ada hanya degup kenangan… dan ingatan.

Tidak melulu cerita sedih, tapi tidak sedikit juga cerita bahagia. Meski aku masih tak mampu menyatukan kepingan-kepingan peristiwa, namun gelombang rasa itu menyerbuku tanpa henti sehingga semua wajah berkelebat satu demi satu. Nama-nama yang sekian lama terlupa seakan hadir begitu saja tanpa diminta. Akupun berpesta pora.

Jika saja aku bisa kembali memeluk mereka semua, jika saja aku bisa kembali bersua dengan mereka; orang-orang yang sempat menghilang dan barangkali akan selamanya menghilang. Meskipun begitu, kenangan akan mereka akan bisa kucecap setiap kali setelah hujan. Nama-nama mereka akan bisa kuingat setiap kali setelah hujan. Ingatan tentang mereka akan selalu membanjir setiap kali setiap hujan.

Rasa rindu itu tidaklah terpuaskan atau kembali hilang, hanya berkembang menjadi rasa yang lebih padat dan akan tetap kusimpan. Selamanya kusimpan.

Teruntuk: orang-orang yang namanya tak mampu lagi kuingat namun kenangan akan mereka akan selalu melekat. Should I yell your names?

Leave a Reply