Ago Bukan Guru, Ago Hanya Ingin Berbagi Ilmu

 

Karena Hidup Adalah Sebuah Lingkaran 
Ago Ketika Membuat Kerajinan
Bambu, ternyata tidak hanya bisa dipakai untuk pagar rumah atau properti lainnya. Bambu juga bisa dibuat menjadi berbagai macam alat musik. Itulah yang dilakukan RING’GO, sebuah sanggar seni sekaligus tempat belajar alternatif bagi anak-anak muda sekitar sanggar. Selain alat musik yang memang terbuat dari bambu seperti karinding dan seruling, RING’GO juga telah mengeksplorasi dan menghasilkan alat-alat musik lain yang asalnya terbuat dari bahan lain menjadi terbuat dari bambu seperti gamelan bambu dan piano bambu atau disebut piwi (piano awi).
RING’GO dibentuk karena kecintaan Ago (pemilik sanggar) terhadap alat musik karinding yang memang terbuat dari bambu karena itulah alat musik yang pertama kali bisa ia mainkan. Sejak dibentuknya sanggar di bulan Maret 2010, sanggar ini telah berkembang dari mulai hanya membuat alat-alat musik dan souvenir dari bambu menjadi tempat belajar bagi anak-anak muda yang juga mencintai kesenian. Dalam perkembangannya, RING’GO yang berlokasi di Kampung Cikarmajaya, Cicalengka ini bahkan sudah menjadi semacam tempat kongkow atau markas besar para pecinta alat musik bambu dari berbagai usia dan berbagai kota. Sebut saja Bandung, Bogor, bahkan Jakarta.
Menurut Ago Purnama, pemuda kelahiran Cicalengka pada bulan Oktober tahun 1991, kata RING’GO sendiri berasal dari kata ring dan go. Ring diartikan sebagai lingkaran sedangkan kata go diartikan sebagai bergerak maju. Jadi RING’GO berarti lingkaran kehidupan, selalu bergerak maju, bahwa bambu juga telah menjadi semacam kehidupan di tengah masyarakat.
Alat-alat Musik yang Dihasilkan RING’GO
“Saya memang agak susah memberi nama, tapi kata RING’GO adalah nama paling tepat. Karena bumi ini juga kan bulat, melingkar, dan seperti itulah hidup. Kadang ada di bawah, kadang ada di atas. Bambu sendiri salah satu sumber daya yang disediakan alam. Nah, ketika dipadukan dengan kata lingkaran itu, maka ada unsur keseimbangan antara hidup dan alam,” jelas Ago kepada saya ketika menjelaskan asal-usul nama sanggar.
Pada awalnya, RING’GO dibentuk oleh tiga orang; Ago, Bah Anang (Bapak Ago), dan Iwan Cabul (Caang Bulan). Namun, sampai sekarang yang paling banyak aktif adalah Ago dan Bah Anang.
Bermula dari keprihatinan Ago terhadap generasi muda sekitar yang tidak produktif bahkan banyak terjebak ke dalam tindak kejahatan seperti geng motor, maka RING’GO berkembang menjadi tempat belajar dan pelatihan. Di sanggar, para peserta pelatihan tidak hanya diajari bagaimana cara memainkan alat musik dari bambu dan nembang , tapi juga dilatih bagaimana membuat alat musik tersebut dan menciptakan komposisi musik sendiri. Pengajar di RING’GO adalah Ago yang juga pemain karinding di grup musik etnik kontemporer Mapah Layung, Bah Anang, Ibu Ago yang juga sinden Jaipongan, dan beberapa pengajar yang merupakan tetua dalam bidang kesenian di Cicalengka seperti Bah Endin dan Mang Pipin sengaja didatangkan oleh sanggar.
RING’GO sama sekali tidak memungut biaya kecuali komitmen dan konsistensi dalam berlatih. Di sanggar, para peserta didik dibekali dengan asal-usul sejarah alat-alat yang dimainkan dan dibuat. Mereka juga sering diajak berdiskusi tentang apa saja. Pokoknya suasana dibuat senyaman mungkin. Adapun bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan untuk membuat alat musik dari bambu berasal dari hasil penjualan. Selebihnya, diambil dari alam. Itu sebabnya Ago sering kali mengajak para muridnya berjalan-jalan ke hutan, mencari bambu sekaligus berkenalan langsung dengan alam.
Sampai hari ini, ada empat belas orang yang menjadi peserta pelatihan, laki-laki dan perempuan. Yang paling kecil berusia dua belas tahun dan yang paling besar lima belas tahun. Sekitar kelas 6 SD sampai kelas 3 SMP. Karena hampir semua peserta pelatihan masih dalam usia sekolah, maka proses belajar rutin dilakukan setiap hari Minggu atau hari libur. Meski demikian, banyak juga para mahasiswa ataupun umum yang datang untuk belajar meski tidak rutin.
Nah, alat-alat musik yang dihasilkan bisa dipakai sendiri atau dijual untuk (seperti kata Ago) menambah uang jajan para peserta pelatihan sendiri. Selain dilatih untuk kreatif, mereka juga dilatih untuk produktif. Memang, Ago sengaja menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada para peserta didiknya. Seluruh hasil penjualan digunakan untuk membantu biaya sekolah para peserta, kegiatan operasional sanggar seluruhnya ditanggung sendiri oleh sanggar. Tentu saja dari hasil penjualan alat-alat musik yang dibuat sendiri oleh Ago dan Bah Anang.
“Ingin seperti Aa Ago, menjadi seniman dan bisa berkreasi,” jelas Mahmud, siswa kelas 6 SD Negeri III Cicalengka ketika ditanya alasan kenapa ia mau belajar di sanggar.
“Karena seniman itu harus bisa membuat selain bisa memainkan, makanya mereka juga tertarik membuat sendiri alat-alat yang mereka mainkan,” tambah Ago.
Sebuah sanggar pelatihan, apalagi yang nirlaba seperti ini tentu saja memiliki banyak hambatan. Dana adalah salah satunya, selebihnya adalah lingkungan sekitar yang notabene bukan lingkungan seni, pemerintah pun tidak tanggap terhadap keberadaan RING’GO meski kata Ago, ia agak pesimis terhadap bantuan dari pemerintah karena toh sanggarnya masih bisa berdiri dan berjalan sampai sekarang. Lagipula, masih kata Ago, mengajukan permintaan dana kepada pemerintah itu ribet, harus banyak konsep dan tetek bengek, padahal ia adalah orang praktisi yang lebih suka bekerja daripada berbicara.
“Kadang ada juga hambatan dari orang tua murid, karena mereka tidak tahu kalau anaknya di sini itu belajar bermusik dan membuat alat musik. Dikiranya hanya bermain-main sehingga mereka melarang,” kata Bah Anang, salah satu pendiri sanggar.
Di Jawa Barat, tentu banyak sanggar-sanggar yang membuat dan memberikan pelatihan memainkan alat musik dari bambu selain RING’GO. Namun, RING’GO memiliki keunggulan di bidang alat-alat yang sudah dieksplorasi. Selain menghasilkan alat-alat musik seperti karinding, celempung baduy, celempung goong, haliwung calung, saluang, goong tiup, sanggar ini juga membuat celempung renteng, saron dari bambu, gamelan bambu, bahkan piano bambu. Saat ini RING’GO sedang bereksperimen dengan alat-alat musik seperti gitar, biola, dan karinding yang terbuat dari daun kawung.
Jika membicarakan tentang prestasi, para peserta pelatihan telah banyak menorehkan prestasi meski bukan di ajang lomba-lomba kesenian. Grup musik Sadulur dengan para personel para peserta pelatihan sudah pernah tampil di banyak event. Misalnya, pada acara-acara sekolah, MUNAS PPI (Pelajar Islam Indonesia) di Gedung Indonesia Menggugat, Minangkala LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) di UIN SGD Bandung, dan di ulang tahun PBHC (Pemuda Pemudi Bumi Harapan Community). RING’GO juga sudah pernah bertarsipasi dalam pameran sekaligus workshop yang diadakan oleh Disnakertrans Jawa Barat.
Ago berharap sanggarnya bisa berkembang lebih besar sehingga bisa lebih banyak menampung peserta pelatihan dan lebih banyak alat musik yang dihasilkan. Kegiatan RING’GO saat ini adalah membuat alat musik dan souvenir dari bambu berupa miniatur berbagai alat musik seperti karinding, calung, angklung, celempung, dan seruling. Pelatihan rutin tetap diadakan seminggu sekali walau setiap hari selalu saja ada anak-anak yang datang untuk sekadar berdiskusi atau memerhatikan kegiatan Ago ketika membuat alat-alat.
Para Personel Sadulur
Pemuda seperti Ago tentu bukan guru formal yang ada di sekolah-sekolah, toh ia sendiri pun tidak pernah menyebut dirinya sebagai guru. Namun dari fungsi dan apa yang ia lakukan terhadap masyarakat dan anak-anak didiknya, peran Ago tentu saja bisa disebut sebagai guru.

“Saya bukan guru, saya hanya ingin berbagi ilmu,” katanya.

Sanggar-sanggar seperti RING’GO yang berbasis pendidikan alternatif ini sayangnya masih luput dari perhatian pemerintah, pun dari pihak swasta. Padahal kontribusi RING’GO cukup besar bagi para peserta didiknya, tentu tidak kalah dengan sekolah-sekolah formal. Ini terbukti dengan banyaknya para pemuda yang ‘terselamatkan’ dari kenakalan remaja bahkan tindak kriminal setelah mereka berada dalam lingkaran RING’GO.
Ago hanyalah salah satu potret ‘guru’ tanpa tanda jasa dari sekian banyak ‘guru’ yang tersebar di seluruh Indonesia. Guru-guru seperti inilah yang kadang lepas dari pengamatan, luput dari kepedulian. Meski seperti yang ia katakan, ia tak begitu mengharapkan bantuan, tapi pantaskah ia berjalan sendirian?

2 Comments

  1. October 22, 2012 at 9:42 pm

    Suka deh. Mantap.

  2. Skylashtar-Reply
    October 24, 2012 at 12:31 am

    Ago dan RING'GO emang keren ya, Jan 😀

Leave a Reply