Resapan hasratmu
endapkan ku di balik asmara yang tertunda
terapung di kubangan darah
sekonyong-konyong aku menabrak tubuh tegapmu

Tercampak, atau mungkin dicampakkan
di ranjang dingin tak bersprei
ku mengiba, menjilati kakimu
tangan keras dan kokoh mengangkatku
aku ditampar!

Kau menggeliat, menari dengan kalap
mataku kabur dan gelap berinai
hanya sapuan angin menyapa
aroma tubuhmu yang menyengat
mendekapku, mendesak
menyesak nafasku yang belum, sampai di kerongkongan

Matamu merah dan jalang
bibirmu menahan amarah
kejora nyala api kecil
kau
limbung, suaramu serak, menyeringai lalu menangis parau
sebuah gunting tertusuk di lambungmu

Kau ambruk dalam pangkuanku

Bandung, Mei 1998
Teruntuk Dani Hamdani di kembara imajinya, “Sayangnya puisi ini tak sempat sampai kepadamu dulu.”

Leave a Reply