AirMataAirMata


Malam itu Ijah benar-benar menyaru jadi hantu. Hantu paling bengis karena hatinya sering kali teriris. Namun, hati yang teriris itu telah ia tinggalkan di pelataran rumah, tepat sebelum ia berjalan mengendap-endap mengarungi malam gelap. Napasnya memburu sementara udara semakin biru. Ijah menyeka bulir air mata yang bergulir di pipinya tepat sebelum kakinya berjingkat memasuki tanah pemakaman. Ada yang harus ia tuntaskan. Segera.

. . .

“Hah? Berapa?” tenggorokan Ijah tercekat mendengar angka yang menghambur dari mulut Bapak.

“Lima ratus ribu, Neng. Tapi katanya bisa kurang karena Mang Atep masih saudara jauh Bapak.”

“Lima ratus ribu cuma untuk memperbaiki makam sekecil itu?” mata Ijah semakin melotot.
Bapak mengangkat bahu. “Bisa kurang jadi empat ratus lima puluh ribu.”

“Kenapa bukan Bapak saja yang nembok? Pan Bapak juga bisa. Biar saya yang beli semen, pasir dan batu batanya. Bisa lebih murah kan? Pasti nggak sampai segitu.”

Bapak menghela napas, wajah Bapak yang digerus usia terlihat sedemikian lelah. “Nggak bisa, Neng. Harus penjaga makamnya yang nembok. Nggak boleh sembarangan orang. Bapak nggak berani.” 

“Nggak berani atau nggak boleh?”
Bapak diam sebentar. “Nggak boleh, juga nggak berani.”

“Memangnya kenapa?” Ijah semakin bertanya-tanya.

“Aduh, Neng. Yang nembok makam itu tidak bisa sembarangan orang. Harus penjaga makamnya, atau orang yang memang ‘bisa’.”

“Pamali kalau Bapak yang nembok?”

“Iya, pamali,” Bapak menyerah.

Omong kosong! Rutuk Ijah. Yang mati dan terbujur di dalam tanah itu adalah putrinya, cucu kedua Bapak. Kenapa justru orang lain yang harus memperbaiki makam? Dan kenapa justru harus memakai uang seharga hampir tiga karung beras? Beras yang bisa menyambung hidup keluarganya selama tiga bulan. 

Ijah mengembuskan napas, kesal. “Kalau begitu, tidak usah ditembok, biarkan saja begitu.”

“Tapi makam anak kamu itu sudah rusak, tanahnya sudah hampir amblas. Nanti kalau tidak ditembok, malah hilang. Tanah makam di daerah sini kan sudah jarang, Neng. Bisa-bisa makam anak kamu ditimpa dengan makam orang lain,” suara Bapak memelas.

“Itu hampir satu bulan gaji saya di pabrik, Pak. Kalaupun saya pakai untuk memperbaiki makam, nanti siapa yang akan membeli beras, membayar listrik, membeli gas dan kebutuhan dapur?”

Mata Bapak berkaca-kaca. Ini kali kedua Ijah menyaksikan Bapak nyaris menangis. Pertama saat pemakaman putrinya, kedua adalah saat ini. 

“Maafkan Bapak, Neng. Gaji Bapak hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Andaikan Bapak bisa membantu.”
Ada lubang di hati Ijah yang kian menganga. Ia meraih tangan Bapak dan menggenggamnya. 

“Bukan salah Bapak. Saya akan mengambil lebih banyak lembur supaya bisa mengumpulkan uang lebih banyak.” 

Bapak mengangguk. Ijah juga mengangguk. Hatinya teraduk-aduk.

. . .


Malam bertambah tua. Ijah menyeka lelehan keringat yang bercampur dengan air mata. Tangannya menggurita, mengaduk semen dengan pasir yang ia bawa. Bagai hantu, Ijah bekerja dalam diam, menumpuk satu per satu batu bata di atas makam putrinya. 

. . .

Ijah meremas amplop cokelat berisi uang gajinya bulan ini. Ia hanya buruh harian lepas di pabrik dengan gaji tiga ribu lima ratus per jam. Gajinya bulan ini mencapai delapan ratus lima ribu rupiah karena beberapa kali lembur, cukup untuk memperbaiki makam putrinya. Tapi putri sulungnya harus membeli buku pelajaran, seragam baru, dan sepatu di tahun ajaran baru. Ibunya harus segera dibawa berobat karena sudah dua minggu sesak napas. 
Ada beras yang harus ia beli, ada uang listrik yang harus ia bayarkan, ada gas, ada minyak, ada gula, ada uang jajan anak, ada segalanya kebutuhan orang hidup. Mereka anggota keluarga yang keberlangsungan hidupnya bergantung di atas pundak Ijah. Dan ada pula kebutuhan orang mati yang kini juga bergelayut di pundak Ijah. 

Ijah tak lagi memiliki suami. Ijah hanya memiliki Ibu, Bapak, dan putri sulungnya yang harus ia beri makan. Ia meremas kembali amplop di tangannya, meremas hatinya sendiri.

“Ibu nggak usah ke dokter, Neng. Uangnya kamu simpan untuk membetulkan makam anakmu,” suara Ibu lemah. 

“Ibu masih hidup, anak saya sudah meninggal. Ibu lebih membutuhkan obat daripada dia,” rahang Ijah mengeras.

Ibu membelalak. Ada luka yang dibaca Ijah. Ah … luka yang tak bisa ia sembuhkan.

“Kasihan anak kamu, Neng …” bisik Ibu. “Makamnya sudah rusak.”

Dada Ijah retak. Kian menyesak.

. . .

Ijah mengusap nisan, bibirnya gemeletar dengan mata tak berhenti berurai. Tangan Ijah yang semakin kurus menumpuk satu per satu batu bata, merekatnya dengan adukan semen dan pasir. Ia bekerja dalam diam, ditemani air mata dan gelap malam.

. . .

Kata Ibu, juga kata Bapak, mereka yang masih muda dan memang bukan penjaga makam dilarang keras memperbaiki makam kerabatnya sendiri. Bisa membawa sial, bahkan kematian. Masih menurut cerita Ibu, mereka yang memperbaiki makam kerabatnya sendiri bisa dijauhkan dari rezeki. Usahanya bangkrut, atau kesialan lain yang tentu saja tak berani Bapak tanggung. Karena Bapak percaya.

Tapi Ijah tidak percaya. Hidup sudah cukup mengajarkan bagaimana cara memamah luka, mengenyam kemiskinan. Kalaupun larangan itu benar adanya, Ijah bersedia. Ia rela tidak diberi rezeki seumur hidup, bahkan rela menukar penggalan napasnya sendiri demi memperbaiki makam putrinya tanpa mengorbankan senggal napas kedua orang tuanya, juga putri sulungnya yang masih hidup. 

Persetan dengan uang lima ratus ribu, aku bisa memperbaiki makam putriku sendiri, dengan tanganku sendiri. Raung hati Ijah.

. . .

Malam itu Ijah benar-benar menyaru jadi hantu. Hantu paling bengis karena hatinya sering kali teriris. Namun, hati yang teriris itu telah ia tinggalkan di pelataran rumah, tepat sebelum ia berjalan mengendap-endap mengarungi malam gelap. Napasnya memburu sementara udara semakin biru. Ijah menyeka bulir air mata yang bergulir di pipinya tepat sebelum kakinya berjingkat keluar dari tanah pemakaman. Ia lega karena tugasnya telah tuntas. 

“Izrail sang pencabut nyawa, ataukah Mikail sang pemberi rezeki, mari berperang denganku. Tak ada dosa yang aku lakukan karena memperbaiki makam putriku sendiri,” gumam Ijah. 
Kemudian ia berjalan mengarungi malam yang kian jengat, meninggalkan makam putrinya yang ia seduh dengan air mata.


Bandung, 9 November 2011 

19 Comments

  1. Langit Amaravati-Reply
    October 23, 2013 at 4:55 am

    Kamu bukan orang pertama yang nangis karena cerpen ini 🙂

  2. October 23, 2013 at 4:51 am

    miris…bikin nangis

  3. October 23, 2013 at 6:55 am

    Aku menyeduh air mataku sendiri setelah membaca ini.

  4. October 23, 2013 at 2:12 pm

    jadi pengen punya novelnya teh..sedih..apakah isinya sesedih ini?

  5. Langit Amaravati-Reply
    October 25, 2013 at 4:40 pm

    Bersulang! 😀

  6. Langit Amaravati-Reply
    October 25, 2013 at 4:43 pm

    Ini kumpulan cerpen, bukan novel 🙂
    Isinya tidak melulu sedih kok, ada juga yang cinta-cintaan.

  7. Langit Amaravati-Reply
    November 7, 2013 at 10:25 am

    Terima kasih sudah mampir, Kang (^o^)/

  8. November 7, 2013 at 10:10 am

    amat teramat dalam…
    alur bahasa nya tidak terlalu sulit untuk dicerna menjadi bulir air mata

  9. December 27, 2013 at 12:22 pm

    daleeeem banget maknanya.:')

  10. January 12, 2014 at 12:47 am

    Narasi dalam cerpen-cerpen anda kuat, khas — saya akan beli untuk koleksi perpustakaan pribadi. Bagus

Leave a Reply