AKIBAT NILA SETITIK, RUSAK SUSU SELURUH KOTA

Pernah dengar peribahasa ini? AKIBAT NILA SETITIK, RUSAK SUSU SEBELANGGA. Atau mungkin yang ini? KEMARAU SETAHUN TERHAPUS HUJAN SATU HARI. Kedua peribahasa itu menunjukkan salah satu kelemahan manusia; bahwa kita memang selalu pandai menilai segala sesuatu dari sisi negatifnya. Tidak peduli seumur hidup seseorang berbuat baik, jika sekali saja ia mencuri, maka selamanya ia akan dianggap pencuri.


Hal seperti ini yang kerap terjadi pada Batam. Kita terlalu sibuk menciptakan kelebihan. Itu bagus. Tapi bagaimana dengan kekuarangan? Apakah lantas harus dibiarkan? Pembangunan, perbaikan, dan pemeliharaan mestinya berjalan seimbang. Agar yang tidak baik menjadi baik, dan yang baik menjadi lebih baik.


Karena saya tidak jago mengenai konstruksi bangunan, kondisi jalan, dan tetek bengek yang menyangkut teknis, maka yang bisa saya soroti adalah masalah-masalah yang memang sering saya perhatikan: MANUSIA.


Apa yang berkenaan dengan manusia? Moralitas adalah salah satunya.Pernah berkunjung ke Jembatan Barelang di malam hari? Saya pernah. Apa yang Anda dapati selain penjual jagung bakar dan bakso tenis? Yang saya dapati adalah berpuluh-puluh pasangan yang bermesraan di pinggir jembatan. Meski gelap, kemesraan bak dramatisasi adegan sinetron atau film-film impor itu tetap kelihatan. Jujur, benar-benar mengganggu pemandangan.

Apa jadinya bila wisatawan melihat semua itu? Apa yang akan mereka pikirkan tentang kota ini? Wisatawan asing saja belum tentu terbiasa, apalagi wisatawan domestik. Apakah Anda juga terbiasa dengan hal itu? Jika Anda menjawab ya, maka Anda dikategorikan sebagai masyarakat yang permisif terhadap tindakan asusila di tempat umum. Melanggar peraturan daerah tentang ketertiban dan UU Pornografi dan Pornoaksi.

Saya percaya bahwa testimoni dari mulut ke mulut lebih efektif dari iklan sehebat apapun. Jadi, bila kita mempromosikan aset wisata Batam sampai mulut berbusa pun, jika sekali saja image kota ini tercoreng, maka membutuhkan waktu seabad untuk memperbaikinya. Bahkan mungkin lebih lama. Karena manusia cenderung mengingat hal negatif daripada kesan positif.

Terus, kenapa saya menulis ini? Supaya seluruh dunia tahu begitu? Nggak juga, karena dekadensi moral terjadi di setiap kota, dan masalah seperti ini sudah menjadi lagu lama yang sampai sekarang belum terselesaikan. Saya hanya ingin membuka mata setiap orang. Mengajak Anda, masyarakat Kota Batam untuk tidak lagi permisif. Tidak lagi memakai mantra ajaib “Bukan urusan gue”.

Saya mengerti bahwa setiap tahunnya Batam selalu kekurangan pasokan listrik, tapi berani berharap bahwa pemerintah mau menambah penerangan di Jembatan Barelang. Kalau di sana terang benderang, semoga saja pasangan-pasangan yang sedang sakaw asmara itu merasa risih, dan tidak lagi syuting sinetron di sana.

Saya juga berbesar hati bahwa Satpol PP akan mengefektifkan razia ketertiban di tempat-tempat umum. Kayaknya keren kalau setiap malam, di jembatan satu ada petugas yang bertanya begini pada semua pasangan: “Maaf Mas, Mbak, bisa saya lihat surat nikahnya? Kalau nggak punya, tolong nggak usah pelukan terlalu rapat dan c…..an di sini. Pegangan tangan saja sudah cukup. Terima kasih.”

Wuih, dijamin jembatan satu kosong melompong setiap malam deh :D. Oh iya, satu lagi. Bisa nggak yah petugas Satpol PP itu sekalian teriak pakai megaphone: “DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN! DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN…!”

Foto jembatan dipinjam dari : www.batamevent.com

4 Comments

  1. April 23, 2009 at 11:20 pm

    1000 kebaikan terhempas 1 kesalahan…satu kalimat yang aku dapet dari buku sobron aidit [judul lupa]

    tetep semangat mengangkat nama batam teh!! ciao!!

  2. Skylashtar-Reply
    April 24, 2009 at 9:46 am

    😀 kalau ngangkat nama aja sih nggak masalah, Sin. Asal jangan disuruh ngangkat Batam ajah. *Kok candaan gue garing gini ya? 😀

  3. Bang Aswi-Reply
    April 25, 2009 at 6:03 am

    Seorang kawan pernah meletakkan kata “Dilarang Buang Sampah Di Sini” tetapi masih banyak yang melakukannya, tapi saat diganti menjadi “Hanya Anjing yang Buang Sampah Di Sini” tiba-tiba saja yang melakukan itu menjadi sangat sedikit. Mungkin larangan yang kurang lebih sama harus diterapkan. Saya yakin ada orang yang mau bertanya seperti itu asal dibayar ^_^

  4. Skylashtar-Reply
    April 25, 2009 at 11:42 am

    Good idea tuh Bamg, tapi kayaknya itu terlalu ekstrem. Heheh. Kalo urusan razia dan nanya2, saya mau tuh meski nggak dibayar 😀 .Asal dikasih seragam sama Satpol PP.

Leave a Reply