Aku Tidak Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana


Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana seperti kesederhanaan yang dikatakan Sapardi dalam sajaknya. Aku tidak ingin bercinta serupa kayu kepada api yang menjadikannya abu. Sebab kesederhanaan tidak melulu mendatangkan kesahajaan sebagaimana tampak dari kata-kata. Kesederhanaan adalah sulur-sulur rumit yang menyaru, bersiap menunggu kita lengah untuk kemudian menikam punggung, dan dada.

Sebaliknya, aku ingin mencintaimu dengan kerumitan semata, seperti gelas yang mewadahi setiap tetes dan uar kopi di pagi hari. Atau seperti pesisir yang bersiap menampung pasir. Barangkali seperti perahu yang terbanting-banting menujumu meski di tengah tikaman gelombang pasang. Sesuatu seperti itulah.

Kesederhanaan akan mendatangkan ekpektasi yang berlebihan terhadap konsep kebahagiaan. Seakan-akan diriku dan dirimu tertautkan begitu saja, sedangkan takdir apapun harus melalui sentuh kita agar mereka utuh. Bukan hanya rajahan di garis tangan atau pertanda di konstelasi bintang-bintang.

Karena entah mengapa, sederhana cinta tidak pernah mendatangkan apa-apa kecuali rasa sunyi dan mati sementara dadaku seringkali terbuat dari duri demi duri. Aku menginginkan deru, kerumitan yang hanya kita sendiri yang tahu. Bukan kepasrahan dalam tunggu hingga jasadku membatu. Sebab cinta, tak pernah sesederhana kata tunggu.

(Catatan sebelum tidur, setelah membaca note FB Bunda Cesi)

Leave a Reply