Engkau tahu betul bahwa kaki-kaki ini sudah mulai lelah berlari.  Ia ingin sejenak menepi, bersandar pada mimpi-mimpi dan ilusi yang aku ciptakan sendiri.  Di dalam kabinku yang kecil dan penat, engkau adalah sayap-sayap sehingga bumiku kembali tak bersekat.
Bagiku, kekasih…
Dunia ini adalah bentangan sandiwara dengan aku sebagai pemeran utama, tanpa pemeran pengganti yang bisa menanggung sakitku.  Darah adalah darah.  Air mata adalah air mata.  Maka jika suatu hari aku buta, maka jemariku hanya ingin merapal wajahmu di kaca jendela.
 
Jika kelak tak ada bahu yang kau sediakan, aku bersandar pada siapa?  Tidakkah Tuhan terlalu jauh untuk aku sentuh?  
Mungkin engkau adalah pelabuhan ketika aku tertatih mencari tempat bersandar sebelum kemudian berlayar.  Tapi haruskah seabad ini tunggu yang harus aku bayar?  
Bumiku ini, kekasih…
Adalah sunyi, dan engkau adalah suara yang aku miliki saat ini.  Mungkin riuh, terlalu banyak suara-suara mengaduh dalam igau panjangku.  Namun, jika kelak aku terbangun, bolehkah sekali saja kupinjam bahumu?
Aku kini bisu.  Dikebiri tunggu yang sudah terlanjur kuteriakkan padamu.  Aku kini kelu.  Ditikam waktu demi waktu ketika harus kuketuk pintumu satu persatu.  
Dalam duniamu yang sunyi, dalam bumiku yang sepi.  Kita hanya sepasang wajah yang harus selalu saling merelakan.  Bukan keterpaksaan yang ingin aku dapat dari bibirmu.  Bukan!  
Kekasih…
Bahumu adalah rasa nyaman yang harus aku bayar dengan rasa tegar.  Maka aku akan menunggumu dengan sabar.
Dengan sabar….
(Cibiru, 28 Januari 2012)

Leave a Reply