Anak-Anak Bukan Untuk Disiksa


Berita-berita yang beredar di Internet tentang penganiayaan anak oleh ibunya sendiri sungguh membuat miris. Ada bayi yang disiksa, ada yang disuapi sambil dipaksa. Macam-macam deh. Sebagai orang luar, paling komentar Anda hanya “Ya ampun, gila kali ibunya,” atau “Kok bisa sih?”. Tapi coba kalau Anda seorang ibu yang memang menghadapi tekanan luar biasa, Anda pasti tahu bagaimana rasanya harus menyediakan berkarung-karung stok sabar dan sadar.

Sebagai single parent yang tidak memiliki pekerjaan tetap alias freelancer, ngekos, dan hanya tinggal berdua dengan Aksa, saya memiliki tekanan yang luar biasa. Dari mulai ekonomi sampai psikologi. Tidak mudah memang mengontrol emosi kalau kebetulan Aksa sedang rewel. Juga tidak mudah bertarung dengan ngemong bayi dan deraan deadline yang nyaris tiada ampun. Tidak ada jalan tengah bagi saya, kalau tidak bekerja keras artinya kami tidak bisa makan. Kalau tidak bisa membagi waktu artinya kami tidak dapat tempat tinggal. 

Tapi namanya hidup harus disiasati, bukan? Saya harus dijaga agar tetap waras dan anak saya harus tetap dijaga tumbuh kembangnya, baik fisik maupun psikologis. Seorang ibu itu harus dijaga tetap bahagia agar berpengaruh baik terhadap anak-anaknya. Agar insiden-insiden mengerikan seperti postingan di Internet itu tidak terjadi pada saya, pada Anda. 

Ada beberapa penyebab (katakanlah) baby blues yang mendera seorang ibu sehingga tega menyiksa anak-anaknya. Mari saya sharing beberapa di antaranya:

1. EKONOMI
Ini menjadi poin pertama meski bukan yang utama. Kata orang-orang uang bisa membeli kebahagiaan. Kata saya, uang hanya sugesti untuk membeli rasa tenang. Logikanya begini, seorang ibu yang sedang memikirkan beras habis, gas habis, uang kontrakan belum dibayar, listrik habis, dan lain-lain jelas lebih rentan emosinya. Bukan tidak mungkin keresahan itu akan dilampiaskan kepada anak-anaknya. 

Secure secara finansial bukan berarti harus kaya raya karena -sekali lagi- nilai uang tergantung pola pikir. Itu sebabnya saya selalu bilang bahwa perempuan harus mandiri secara ekonomi. 

Seperti yang saya katakan di atas, saya single parent dan tidak punya pekerjaan tetap. Itu sebabnya setiap tenaga yang saya keluarkan baik itu layout buku ataupun pekerjaan lainnya tidak pernah saya berikan gratis. Hal ini agar saya secure, karena percayalah, nunggak bayar kosan dua bulan akan membuat emosi Anda tidak stabil. 😀

2. PASANGAN
Bagi Anda yang memiliki pasangan, konflik-konflik internal bisa memicu ketidakstabilan emosi. Beberapa perempuan yang sedang kesal terhadap pasangan biasanya melampiaskan kekesalannya terhadap anak. Ya, itu memang tidak adil. But, it happens all the time. 

Pasangan yang tidak kooperatif juga bisa menjadi penyebab. Misal, Anda sudah mah repot beres-beres rumah, sudah repot bekerja, eh ketika anak menangis, suami Anda asyik-asyik nonton televisi. Apa nggak ingin melemparkan piring? Hahahah.  

Karena Aksa tidak punya ayah yang sibuk nonton televisi ketika dia menangis, maka saya tidak mengalami hal-hal di atas. Tapi konflik tetap ada. Hal yang saya lakukan adalah dengan menjaga agar otak dan hati tetap berada di tempatnya. Konflik saya dengan pasangan adalah urusan saya dengannya, tidak ada hubungannya dengan Aksa. Lagi pula kok rasanya tidak tega mau menyakiti bayi tertampan sedunia itu. 😀 

Bagi Anda yang mengalami konflik-konflik dengan pasangan, coba komunikasikan dengan baik. Ya kali buat anaknya bareng-bareng, masa ngurusnya hanya sendirian? 

3. WAKTU
Seorang ibu itu membutuhkan me time agar emosinya tidak berada di titik kritis terus-menerus. Coba bayangkan, seorang ibu harus bisa makan dalam lima kali suapan, harus bisa mandi dalam waktu 3 menit, harus bisa membereskan rumah dengan tangan gurita. Baru bisa tidur kalau si kecil sudah tidur. Bobo ciang? Jangan harap. 

Luangkan waktu setidaknya 3 jam setiap minggu untuk me time. Titipkan anak Anda ke orang tua atau suami atau pengasuh. Lakukan hal-hal yang Anda sukai dalam waktu 3 jam itu. Pergilah ke salon kalau sedang ada uang. Facial, creambath, meni pedi, atau pijat refleksi. Pergilah ke toko buku sendirian. Pergilah ke taman, menikmati sore nan cerah sendirian, jajan es krim, dan nikmati waktu yang Anda punya sendiri.     

Saya? Aksa disekolahkan dari jam 8 sampai jam 5 sore. Di rentang waktu itu saya menata letak buku, belanja ke supplier kalau ada pesanan sepatu, janji temu dengan klien *sok-sokan*,  beres-beres rumah, dll. Dari jam 5 sore saya berhenti melakukan kegiatan, hanya fokus ke Aksa. Setelah dia tidur, saya melanjutkan layoutan atau mengunggah katalog sepatu ke pages. Tidur jam 1 atau 2 pagi, bangun subuh, mandi, lalu menyiapkan Aksa untuk berangkat sekolah. 

Sejak punya bayi saya jarang sekali bahkan tidak pernah bepergian di malam hari di siang hari pun hanya pergi untuk hal-hal penting. Waktu yang saya miliki sangat berharga. Untuk tetap waras saya harus bisa membagi-baginya secara proporsional. 

4. KESIAPAN PSIKOLOGIS
Anda yang tadinya ke mana-mana sendiri, bebas melakukan segalanya sendiri, mau makan dengan gaya apa pun bisa, mau mandi seberapa lama pun bisa, tiba-tiba semua gerak bebas Anda itu “dijerat” oleh kehadiran bayi yang hidup dan matinya tergantung kepada Anda. Irama hidup Anda berubah seketika. Sekarang, kadang makan harus sambil memangku bayi. Mandi harus secepat kilat, itu pun menunggu bayi Anda tidur atau dijagai. 

Siap atau tidak, Anda harus siap. You are a mother, act like a mother, not a monster

5. PERKARA-PERKARA DI LUAR ITU
Ini insidental, tidak setiap perempuan mengalami nasib “sial” yang sama. Saya tahu, ada ribuan perempuan lain yang mengalami nasib seperti saya: hamil lalu ditinggal pergi. Dibandingkan dengan single parent biasa, single parent seperti saya mendapatkan tekanan yang berbeda. Terutama di faktor psikologis. 

Jujur, rasa marah terhadap ayahnya Aksa sering kali bercokol di dalam kepala. Tapi itu tidak lantas menjadikan Aksa sebagai pelampiasan amarah. He is such an adorable baby. Nggak banyak tingkah, tampan, dan menggemaskan. Sayangable banget lah pokoknya mah :). Mana tega saya jahat terhadap Aksa.

—-

Menjadi seorang ibu adalah sebuah keajaiban. Sebuah kebahagiaan yang tidak dapat ditakar dengan apa pun. Saya ibu yang berbahagia. Semoga begitu juga dengan Anda.

Regards,
~eL 



2 Comments

  1. September 18, 2015 at 2:55 pm

    Aksa, lucunya pakai banget… Bener banget Teh, bayi lucu gak ada dosanya, ngapain ya disiksa. ya kadang aku juga suka kelepasan sih, tapi habis itu nyesel.. hiks..

  2. September 18, 2015 at 5:04 pm

    Tapi hebat ih kamu mah. Nggak mudah lho membelah konsentrasi antara ngemong anak dan menyimak. Kemaren itu aku sempet mikir: Yaelah, nih mahmud bisaan.

Leave a Reply