ANAK-ANAK MATAHARI

“Sialan! Anak-anak sialan!”

Bus jemputanku melaju membelah rel kereta api. Perlintasan beraspal jarang, angkot-angkot nan lancang, serta pemandangan yang membuat mataku kejang.

Mereka di sana, bergerombol di bawah pilar jembatan layang. Mereka di sana. Mereka diam. Tak kulihat satu pun dari mereka yang saling melontarkan kata-kata. Tidak, aku tidak mungkin mendengar karena telingaku dikhianati jarak. Tapi mata ini tidak buta. Tak ada mulut-mulut yang terbuka di sana, mereka memang diam.

Aku ingin meloncat turun dari bus, aku ingin menyeberangi jalan walau mungkin harus menghadang angkot St-Hall-Cimahi yang supirnya buta rambu-rambu itu. Aku ingin sekali merebut kaleng lem dan plastik berisi lem yang terpasang erat di hidung mereka. Aku ingin sekali menampar, menjambak, dan meneriaki mereka bahwa mereka tolol.

Ya, ya. Mereka. Anak-anak remaja itu tengah mabuk lem, tepat di pinggir jalan raya. Di pagi hari saat anak-anak seusia mereka berdesakan di bangku sekolah dan memamah pelajaran moral Pancasila. Tapi mereka tidak.

Otakku memeras kosa kata berupa sumpah serapah agar ia berhenti merasa bersalah. Agar kepalaku tidak jadi pecah.

Mataku yang menatap jengah berusaha berpaling agar pemandangan itu tak harus kusaksikan. Namun seluruh panca indera terpancang kepada mereka; anak-anak itu.

Seharusnya memang aku tak diam, semestinya memang aku berlari keluar dan membenturkan kepala mereka agar mereka sadar bahwa hidup begitu berharga. Teramat berharga untuk dihamburkan dalam kesia-siaan seperti itu.

Mabuk lem!
Tahun berapa ini? Di saat lalu lintas NAPZA sudah mengenal berbagai cara untuk mabuk, mereka mabuk lem! Purba! Dan miskin!

Aku tahu bahwa barangkali mereka tidak memiliki pilihan, atau tidak memiliki keinginan untuk menikmati hidup sebagaimana harusnya.

Ck ck ck! Semakin aku mengingat itu, semakin aku merasa pengecut karena tak berbuat apa-apa selain merutuk dan menulis ini. Padahal sebenarnya aku ingin sekali memeluk mereka semua. Aku ingin sekali mengatakan bahwa dunia ini indah, dan menjalaninya dengan otak cerah tanpa kabut aibon akan membuat hidup ini semakin indah.

Apakah mereka tahu? Sepertinya tidak.

Leave a Reply