ANALOGI PERJALANAN (3)

Ibarat tengah berjalan di lereng terjal, aku tertatih dan berkali-kali terjerembab ke dasar jurang. Seringkali lelah untuk kembali mendaki. Tak terhitung lagi bosan merayap untuk kemudian jatuh kembali. Tapi hidup selamanya adalah perjalanan. Satu langkah berhenti, berarti seribu langkah mundur. Tak ada waktu untuk menepi apalagi berhenti.

Dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, sesekali aku bertemu teman seperjalanan. Walau lebih sering melaluinya sendirian. Ada yang dengan senang hati berbagi bekal, ada yang hanya menawarkan carikan peta, ada pula yang mengajakku untuk mampir ke tendanya dan menikmati kehangatan api unggun kala badai tak tertahankan. Namun, tak sedikit yang mencoba untuk menjegal atau merampas bekal. Beberapa bahkan berhasil membuatku terjerembab ke dalam jurang bersama lebam dan dendam.

Teramat banyak sakit, berjuta-juta luka, beragam perih adalah makanan sehari-hari. Tetapi apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang kemudian ditanggung oleh hati? Rasa tawa dan keceriaan menyublim begitu saja, sedangkan goresan air mata sentiasa tersia dan tak pernah rela beranjak. Aku lemas. Aku meranggas. Akupun kebas.

Rasa sakit itu bagai gaung. Semula satu, lalu diresonansikan dan beranak menjadi seribu satu. Seorang aku, perempuan berumur 27 tahun, tak akan sanggup menanggungnya. Walau sekuat apapun aku berusaha. Lalu aku harus apa?

Bekalku habis. Petaku hilang. Kawan seperjalananku tak ada. Dan tubuhku dipenuhi bilur yang mengucurkan darah hingga aku kerontang. Satu-satunya jalan adalah BERHENTI.

Bukan berhenti berjalan sebab akan membuatku tertinggal lebih jauh. Melainkan BERHENTI hanya menginginkan, BERHENTI mengharapkan imbalan, BERHENTI menunggu terwujudnya mimpi. Aku memulai dengan melepaskan segala sesuatunya. Hatiku bukan benda usang yang mesti kuisi dengan barang rongsokan.

Aku harus tahu kapan merelakan dan kapan harus mempertahankan. Sebab menahan sesuatu yang memang harus terlepas adalah sebuah kekonyolan. Aku tak lagi mengharapkan belas kasihan atau bekal pemberian. Ada banyak dedaunan dan rumput yang masih bisa kumakan di tepi hutan. Aku tak lagi memaksa pejalan lain untuk meminjamkan carikan peta. Toh aku memiliki matahari dan konstelasi bintang-bintang. Tak akan ada yang membuatku tersesat. Aku pun tak lagi berharap banyak akan ada yang mengundangku ke dalam tendanya. Ceruk-ceruk di tepi tebing cukup untukku berlindung. Lagipun, aku sudah kebal terhadap prahara macam manapun.

Berhenti melolong minta tolong seperti orang yang berteriak kehausan di depan sungai besar hanya karena ia terbiasa meminum air dalam kemasan. Berhenti mengeluh aduh seperti orang yang terluka dan sekarat di depan tanaman obat hanya karena ia terbiasa ditangani oleh para dokter yang bertangan steril.

Dan semuanya terasa ringan ketika hati dikosongkan dari segala ekspektasi dan imaji terhadap pejalan lain. Sebab mereka bukanlah tempat yang pantas untuk dimintai pertolongan. Bagaikan awan yang merajuk kepada awan lain supaya ia bisa mendaki gunung.Bagaikan daun yang memohon kepada daun lain agar ia mampu berfotosintesis.

Aku memulai perjalanan sendirian, dan akan sampai di tujuan sendirian. Satu-satunya yang pantas kumintai tolong adalah Ia yang akan kutemui di akhir perjalanan. Karena memang kepada Ia lah kelak aku akan memberikan pertanggungjawaban. Dan jika saat itu tiba, aku ingin bisa tersenyum dan berkata pada-Nya: “Terima kasih karena sudah menuntunku sampai sejauh ini. Dan betapa aku merindukan-Mu.”

*

Leave a Reply