ANALOGI PERJALANAN

Tadi malam ke Carnaval Mall, cari-cari laptop seken. Nggak niat beli sih, cuma survei harga. Nggak sampai lima belas menit langsung cabut, perjalanan diterusin ke alun-alun di Engku Putri, di situ kan ada hot spot area. Ternyata penuh, padahal baru jam tujuh malam. Jadi langsung pulang aja, nggak jadi mampir ke Mega Mall. Lagian mo apa coba ke Mega Mall?

Sudah menjadi kebiasaanku kalau di jalan suka jelalatan. Selain baca semua plang jalan dan toko, aku juga punya kebiasaan memandangi orang-orang. Yang berdiri di tepi jalan, atau sesama pengguna jalan. Pokonya persis kayak anak autis.

Ternyata perjalanan dari Nagoya ke Batam Centre dan sebaliknya memakan waktu lebih dari setengah jam. Padahal kami berada di tempat tujuan hanya dua puluh menitan. Bahkan mungkin kurang.

Dan jujur, aku lebih menikmati perjalanan itu sendiri daripada lihat-lihat laptopnya. Selalu begitu, hingga sejauh apapun aku berjalan, tidak akan pernah merasa lelah dan bosan. Mungkin itu pulalah mengapa aku begitu mencintai hidup. Sekaligus merindukan akhir dari hidup itu sendiri. Karena bagiku hidup seperti berjalan di pematang yang begitu panjang.

Setelah terantuk, terperosok, terjerembab, dan menelan segala macam rasa; aku mulai belajar menikmatinya. Menikmati hidup. Menikmati perjalanan itu sendiri. Meski tak tahu kapan dan bagaimana sampai di tujuan.

Yang aku tahu hanya; terus berjalan.

Leave a Reply