Saya yakin bahwa semua blogger memiliki kebijakan tersendiri mengenai cara memperlakukan dirinya dan blog yang dikelola. Saya tidak ingin mengatakan bahwa yang begini salah sedangkan yang begitu benar. Sebab menjebak diri dalam dikotomi salah dan benar tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Sebelumnya, saya ingin mengajak Anda kembali menelaah pengertian blog dan blogger.

Blog, berasal dari kata web log, yang berarti catatan online (yang berada di web). Pengertian yang lebih lengkap, blog adalah situs web yang berisi tulisan, artikel atau informasi bermanfaat yang diupdate (diperbaharui) secara teratur dan dapat diakses secara online baik untuk umum maupun pribadi.

Blog: 1. a shared on-line journal where people can post diary entries about their personal experiences and hobbies.

Blogger: 1. a person who keeps and updates a blog.

(Sumber: artikata.com)


Dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa blog adalah web berisi catatan pribadi, yang dibagikan adalah hal-hal pribadi. Kalau isinya melulu berita dan reportase, itu namanya media online. Kalau isinya melulu iklan, itu namanya e-commerce. Kalau isinya melulu placement article, itu namanya … saya tidak tahu, mungkin namanya blog kos-kosan.

Tapi tunggu dulu, beberapa tahun terakhir pengertian itu telah bergeser. Pada praktiknya blog dan blogger menjadi frontline media marketing. Ini dekade digital, brand lebih suka memasang iklan di blog dan mengundang blogger ketika mengadakan event daripada mengundang wartawan betulan.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap kesempatan-kesempatan ini, bukan? Naif kalau kita mengatakan, “Saya cuma mau ngeblog dan berbagi dengan pembaca, tidak mau dibayar atau menjadi blog kos-kosan.”

Bohooonggg. Siapa sih yang tidak ngiler ketika melihat blogger pamer gadget hadiah doorprize dari event-event blogger? Siapa sih yang tidak tergoda untuk banting stir dari penulis media militan ke blogger yang bayarannya lebih mahal? Siapa sih yang tidak terketuk hatinya ketika melihat blogger pamer kemenangan di lomba blog yang jumlahnya berkali-kali lipat dari honor cerpen Kompas?

Well, mungkin ada, tapi tidak banyak.

Pertanyaannya adalah: sampai di mana kita menetapkan batasan-batasan agar blog kita tidak tergerus atau berakhir menjadi media online. Sampai di mana kita tahan untuk tidak (sorry) melacurkan diri?

 

EVENT-EVENT BLOGGER, YES OR NO?

Sampai tiga bulan lalu saya selalu merasa berkecil hati dan pesimis ketika melihat teman-teman lain berbagi tentang event-event blogger yang mereka hadiri. Tiga bulan lalu saya selalu merasa sedih ketika melihat blogger lain diundang ke acara launching gadget sementara saya tidak.

Sekarang? Sekarang saya bahkan berani menolak undangan. Songong? Bukan, tapi karena yang mengundang adalah provider A sedangkan saya sudah jadi buzzer provider Q. Memang tidak ada kontrak ekslusif, saya sih cuma concern terhadap kode etik.

Untuk datang ke event blogger itu perlu biaya, Mas, Mbak. Kita juga perlu mengerahkan berbagai macam sumber daya. Waktu, tenaga, pengetahuan, dan lain-lain. Kalau benefit yang kita dapatkan tidak seimbang, untuk apa?

Sebelum membahas tentang biaya, cara hemat, dan (katakanlah) timbal balik, ada beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum datang ke event blogger.

1. TEMA

Anda tahu Ulul atau Nurul Wachdiyyah? Blogger Bandung sekaligus teman satu angkatan saya di Fun Blogging. Ulul berani menolak datang ke event blogger dengan alasan, “Maaf, temanya tidak cocok dengan blog saya.”

Blogger-blogger “berdedikasi” beginilah yang kita perlukan. Misalnya, saya tidak akan datang ke event beauty blogger bertema kecantikan karena ya untuk apa? Pakai eyeliner saja masih tertatih-tatih, kok. Kecuali kalau produk kecantikannya mengusung tema brand lokal, saya akan datang (walau belum tentu diundang sih) karena saya concern terhadap produk-produk lokal.

Oke, contoh lain. Blog saya yang ini akhirnya lebih banyak membahas teknologi. Artinya berhubungan dengan ribuan launching smartphone terbaru, provider, aplikasi, dan perangkat teknologi lain. Saya akan datang apabila diundang atau mengajukan diri karena temanya sesuai. Tapi … ada faktor lain juga yang saya pertimbangkan.

2.KODE ETIK

Ini sengaja saya tempatkan di urutan kedua karena (sorry) saya sendiri masih banyak melihat blogger yang hari ini ngetwit tentang provider A, besoknya ngetwit provider C. Saaayyy, itu namanya face to face, Saaayyy. Cari masalah sama brand.

Seperti yang saya ceritakan di atas, meski blog saya yang ini lebih banyak membahas teknologi (ini gara-gara sering ikut lomba gadget ini), saya tidak akan datang ke event yang diadakan oleh provider kompetitor.

Ini saya kasih bocoran saja, ya. Sebelum meng-hire blogger atau buzzer untuk kerja sama, brand juga memerhatikan media sosial kita. Jadi kalau misalnya Anda kerap datang ke event blogger yang diadakan provider A tapi tidak pernah di-hire jadi buzzer betulan, coba ingat-ingat, berapa banyak provider lain yang pernah Anda twitkan.

Bahkan untuk lomba pun saya hati-hati, kok. Misalnya, ada 2 lomba dari brand smartphone berbeda tapi mengedepankan fitur yang nyaris sama. Bisa dipastikan saya hanya memilih salah satunya. Sebesar apa pun hadiahnya.

Contoh lain, pernah ada 2 lomba yang diadakan 2 e-commerce dengan deadline hanya selang beberapa hari. Saya tergoda untuk ikut kedua-duanya. Tapi bedebahlah saya jika berani-beraninya ikut dua-duanya. Jadi saya cuma ikut salah satunya. Hasilnya? Juara I, dong. *lambai-lambai kamera

3. BENEFIT

Sebelum memutuskan datang ke event blogger, saya harus mempertimbagkan benefit yang akan saya dapat. Seperti kata Teh Ani, benefit itu bukan hanya berupa materi. Bisa saja berupa ilmu, teman baru, jaringan, atau membuka pintu baru. Ini akan saya bahas di subbab lain.

Sayangnya takaran benefit ini relatif cenderung absurd. Ada blogger yang nongol terus di setiap event dengan alasan untuk membuka kesempatan baru. Tapi lupa bahwa kesempatan yang dicari harus dibayar dengan banyak sekali sumber daya.

Tekun itu boleh, tapi sayangilah diri sendiri. Lagi pula, networking macam apa yang akan didapat kalau ketemunya dengan blogger yang itu-itu saja? Jadi, kalau tidak ada “keuntungan” sebagai timbal balik, sudah dipastikan saya tidak akan datang. Maaf, saya sibuk. Pekerjaan saya bukan cuma jadi event cheerleader.

3. LOKASI

Jakarta-Bandung itu cuma 3 jam naik kereta. Saya bisa saja datang ke setiap event blogger yang ada di sana demi kesempatan. Tapi tidak, demi keseimbangan profesi saya yang lain dan kehidupan pribadi saya yang terancam berantakan, saya harus menahan diri.

Jangankan Jakarta atau kota lain, di Bandung saja saya masih mikir-mikir, kok. Kalau event bloggernya berada di lokasi yang susah diakses atau jauh sekali dari Cimahi, biasanya saya skip. Saya tidak mau menua di jalan raya.

Berbeda halnya jika saya diundang khusus seperti event Hangout Bareng IM3 Ooredoo bulan Desember lalu (Ini bukan sponsored post, ini cuma contoh tulisan event dan bahwa saya dipilih sebagai salah satu blogger karena saya memang tidak pernah datang ke event provider lain). Saya bukan tipe orang yang bela-belain ganti kartu cuma agar bisa ikut keliling kota nyobain sinyal. #Eh Lagi-lagi, songong? Bukaaannn, ini karena saya punya bakat terpendam untuk selalu nyasar, di luar maupun di dalam kota. Hadir ke event blogger yang lokasinya ribet itu berisiko, kalau saya ada yang nyulik, gimana? Kasihan kan si Akang. #eh

4. WAKTU

Jadwal harian saya padat merayap. Saya punya banyak kegiatan lain selain datang ke event blogger. Jadi kalau saya datang itu artinya acaranya penting sekali atau saya memang punya waktu.

To be honest, sejak profesi saya bertambah dengan blogger profesional *eheum, kehidupan pribadi saya kacau-balau. Saya tidak punya waktu bahkan untuk diri saya sendiri.

Saya mau sih ngajak-ngajak anak ke event blogger agar sekalian ngasuh. Tapi nggak bisa karena dipikir-pikir, itu artinya saya merampok waktu mereka. Mereka berhak mendapatkan waktu yang berkualitas dengan bundanya yang seksi ini tanpa harus diganggu dengan livetweet.

5. COST

Ini berhubungan dengan benefit. Jadi waktu ngobrol-ngobrol asyik dengan Mak Winda beberapa hari lalu, beliaunya mengatakan bahwa untuk datang ke Jakarta dibutuhkan ongkos taksi sebesar 500 ribu bolak-balik. What? Pikir saya.

Tapi memang iya sih. Untuk datang ke event blogger di Bandung saja, minimal 50 ribu mah keluar da. Kalau tidak ada benefit tanda kutip yang bisa saya dapat, ngapain saya datang? Mendingan uangnya dibelikan susu Aksa.

Masih banyak lho brand yang zalim sama blogger. Ngundang blogger dari luar kota segala tapi tidak diberi ongkos, cuma dikasih makan siang itu pun nasi kotak. Yakali travel bisa dibayar pake review.

Jangan menyamakan diri dengan jurnalis, dong. Jurnalis atau wartawan itu sudah dibayar oleh kantor, lha blogger dibayar ama siapa? Gudibeg? Say, saya nggak bilang kalau blogger itu harus mata duitan, tapi realistis sedikit lah. Anda tahu berapa tarif iklan di media cetak dan online? Satu juta sampai ratusan juta. Berapa banyak artikel di Internet yang akan didapat brand ketika mengundang blogger? Puluhan. Dan gratis. Nggak adil.

Kalau kata saya sih, ini juga cara para blogger mengedukasi brand. You’ll do your efforts, I’ll do my efforts. Itu aja sih.

“Tapi kan ini untuk mencari kesempatan, Teh. Saya blogger pemula yang sedang membuka networking, keluar modal dikit nggak apa-apa.”

Ya terserahlah. Asal jangan sering-sering. Situ sendiri yang menentukan level situ di mana, bukan saya.Β 


BENEFIT VS COST


Saya blogger pemula, pengalaman saya di bidang ini hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang lebih senior. Saya juga sudah sering mendengar kisah-kisah heroik tentang loyalitas. Kisah-kisah heroik tentang blogger yang akhirnya dibayar puluhan juta rupiah. Tapi kita lupa satu hal: mereka yang loyal itu artinya loyal kepada satu brand, bukan yang hari ini ngetwit satu brand besoknya ngetwit kompetitornya.

Nah, ngomong-ngomong soal benefit dan cost, kadang kita harus tetap datang ke event blogger meskipun misalnya tidak mendapatkan benefit berupa materi. Sebagai mamah muda yang setiap kali mengeluarkan uang selalu membandingkan dengan harga susu, saya punya beberapa tip agar fardu kalaku sunnah kalampah, kalau kata urang Sunda mah.

COST

Semacam tip hemat:

1. Transportasi di Dalam Kota

Pilih moda transportasi dan bandingkan ongkosnya. Misalnya, kalau lokasi acara bisa diakses dengan satu atau dua kali naik angkot atau bus, saya biasanya memilih bus atau angkot. Kalau untuk datang ke lokasi saya harus turun naik 3 angkot yang ongkosnya lumayan, saya biasanya naik ojek online.

Kalau ada teman, biasanya saya mengajak barengan supaya bisa share ongkos taksi. Kalau ada teman yang membawa kendaraan, lebih baik nebeng. #eh

2. Ongkos ke Luar Kota

Kadang, ada beberapa event di luar kota yang PERLU saya hadiri. Biasanya saya akan memilih moda transportasi paling murah, paling nyaman, paling cepat, dan paling dekat ke lokasi acara.

Misalnya, ada event di Slipi, saya tidak mungkin naik kereta api ke Gambir. Lebih baik naik Baraya Travel langsung ke Slipi. Karena ongkos kereta itu 120 ribu sedangkan travel hanya 85 ribu, lebih dekat pula dengan lokasi.

3. Konsumsi

Saya tidak rempong kalau urusan makan. Ngafe-ngafe asyik, ayo. Makan di restoran, ayo. Makan di kaki lima pun mari. Tapi ada term & condition-nya. Bujet saya hanya 100 ribu, lebih dari itu artinya akan dikurangi dari pos pengeluaran lainnya.

Saya juga tidak pernah peduli apakah di sebuah event blogger saya diberi makan atau tidak. Asal amplopnya bisa mengkover biaya ngafe. #eh

Oke, begini. Biasanya saya makan dulu di rumah. Saya juga jarang jajan kecuali ngopi.

4. Akomodasi

Biasanya ini untuk event-event di luar kota. Sebetulnya, saya lebih memilih untuk tidur di Sevel daripada menginap di rumah sesama blogger. Karena apa? Takut mengganggu. Apalagi kebanyakan blogger perempuan kan sudah berumah tangga, punya suami, punya anak. Saya merokok, sebisa mungkin tidak menginap di rumah blogger yang punya anak. Kalau menginap di blogger yang single pun harus pikir-pikir dulu, takutnya yang bersangkutan tidak tahan asap rokok.

Belum, saya belum mempertimbangkan untuk menginap di rumah blogger laki-laki, entah kenapa. Yakali mau digorok si Akang. Hahaha.

Well, kalau ada event blogger di luar kota, sebisa mungkin saya berangkat pagi dan pulang hari itu juga. Kalau harus menginap, saya harus memastikan bahwa keberadaan saya tidak merepotkan. Kalau ada bujet untuk menginap di hotel, ya menginap di hotel. Pun, kalau menginap di hotel saya akan membawa pekerjaan lain dari rumah agar waktu saya tidak terbuang percuma.

BENEFIT

Jika saya harus hadir ke event blogger dengan cost besar, saya harus memastikan akan ada benefit yang saya dapatkan. Tentu saja bukan cuma materi da rezeki mah sudah diatur sama Tuhan atuh, aikamu.

Ada beberapa bentuk benefit yang saya pertimbangkan:

1. Ilmu

Setiap event blogger menjanjikan ilmu baru, saya akui itu. Tapi saya juga harus pandai menetapkan skala prioritas. Saya juga harus pandai menetapkan ilmu yang tepat bagi saya dan blog saya.

Misalnya, event blogger tentang cara menanam padi organik. Iya, saya peduli lingkungan dan lebih senang mengonsumsi bahan-bahan organik, tapi saya tidak butuh ilmu cara menanam padi. Itu mah bagiannya Evrina Budiastuti.

“Tapi kan ilmu, Teh. Belajar mah apa aja atuh.”

Ya tapi saya tidak harus datang dan mengeluarkan biaya besar untuk ilmu yang bisa saja saya dapatkan di Internet. Lagi pula, ini bukan ilmu praktis. Saya tidak mungkin menanam padi di halaman kosan, kan? Get real aja sih.

Contoh lain, kelas-kelas advanced blogger itu datangable banget. Di luar kota sih dan saya harus mengeluarkan bujet untuk datang ke sana. Tapi ya ilmunya itu lho. Sayang kemarin sempat gagal datang karena Aksa baru saja keluar dari rumah sakit.

Atau teman-teman tahu bahwa Fun Blogging selalu mengadakan event secara berkala? Ini datangable juga. Ilmu yang didapatkan sudah terbukti membuka banyak pintu baru. Percaya deh sama saya. (Paragraf ini mengandung unsur iklan terselubung)

2. Rekreasi

Blogger juga kadang butuh hiburan, gaes. Contohnya, blogger gathering ke Tahura yang diadakan Teh Ani beberapa bulan lalu. Well, saya sih tidak mengeluarkan cost besar, yang mengeluarkan cost besar mah teman-teman yang datang dari luar kota.

Ini bukan acara yang diadakan oleh brand, tidak ada gudibeg, tidak ada biaya pengganti transportasi dan akomodasi. Tapi kenapa worth it? Karena halan-halan ke gunung dengan udara yang masih bersih itu pantas dilakukan. Duduk 12 jam lebih di depan laptop akan membuat kita cepat mati muda, sekali-kali olah raga lah.

Jadi ya gitu, kalau ada acara yang beneran rekreasi tanpa harus livetweet segala, saya sih mau-mau saja datang.

3. Silaturahmi

Waktu datang ke Jakarta bulan Desember tahun lalu, saya harus mengeluarkan ongkos sendiri. Tapi kok saya datang? Karena dua alasan: satu, karena saya sedang melakukan pencarian. Kedua, karena itu satu-satunya kesempatan saya bisa bertemu blogger dari Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya.

Silaturahmi ini juga harus dibatasi kalau menurut saya. Maksudnya, saya tidak bisa bela-belain datang terus ke setiap event dan harus mengeluarkan cost besar hanya untuk silaturahmi. Pertama, karena ketemunya dengan orang yang itu-itu aja. Kedua, takut cinta lokasi kalau terlalu sering ketemuan.

4. Berbagi

Pelatihan infografis saya kira termasuk event blogger. Sebetulnya ini tidak sengaja, waktu itu Evrina, Teh Anne, dan saya sahut-sahutan di Twitter. Membahas tentang kelas infografis, jadilah diadakan sebuah kelas dengan saya sebagai bintang tamu. Hahaha.

Mmmhhh … terus terang, saya tidak suka mengajar, dengan atau tanpa bayaran. Ngajar cerpen saja yang jelas-jelas dibayar saja saya udah nggak mau, kok. Apatah lagi grafis, di luar kota, saya bukan ahli pula. Tapi, kok saya mau? Ya karena ingin berbagi, sekadar membukakan pintu pengetahuan untuk teman-teman sesama blogger.

Sebelum ada obrolan soal “ganti ongkos”, saya sudah menyediakan bujet untuk ongkos ke Tangerang. Waktu itu eV pernah nanya, “Chan, fee kamu berapa?”. Saya bilang fee saya gratis, kalian tidak akan sanggup bayar saya. Hahaha.

Tapi atas inisiatif mereka, akhirnya dibuat kesepakatan tentang iuran, itung-itung barter ilmu. Tuhan emang maha baik sama blogger salehah. Beneran, deh.

5. Networking

Jaringan ini bisa berupa dengan sesama blogger atau dengan brand. Networking juga ada term and condition-nya kalau menurut saya. Hadir di event blogger brand yang meng-hire saya jadi buzzer atau sponsored post atau yang memiliki kans besar, itu namanya networking. Hadir di setiap event dengan alasan networking itu namanya buang-buang waktu.

Untuk membangun networking ini saya lebih suka memilih satu atau dua kali pertemuan, selebihnya melakukan pendekatan secara pribadi. Pendekatan pribadi ini maksudnya melalui postingan atau komunikasi yang lebih intens. Percaya, deh. Saya lebih jago urusan mendapatkan dan menjaga networking jika dilakukan di media sosial daripada ketika ketemuan.

Well, blogging ini adalah fenomena yang menarik untuk dikaji. Pun dengan karakteristik para blogger. Sejak dulu, sejak terjun ke dunia kepenulisan, saya belajar banyak tentang bagaimana menempatkan diri menjadi perahu kokoh yang mengapung dan punya kendali sendiri, bukan hanya menjadi gelondongan kayu yang terseret arus lalu tenggelam.

Ada berapa ribu blogger di Indonesia? Menempatkan diri hanya sebagai event cheerleader dalam mata rantai dunia marketing digital hanya akan menjadikan kita remah-remah yang mudah sekali ditepiskan.

Saya tahu, datang ke berbagai event blogger adalah hak preogratif Anda. Tapi coba pikirkan, mau sampai kapan Anda punya tenaga? Sorry to say, Anda yang setiap minggu menulis reportase event ada saja yang lupa untuk meningkatkan kualitas tulisan, bahkan lupa untuk belajar ejaan. Anda bahkan lupa cara menulis sambil bersenang-senang.

Anda bukan wartawan yang dibayar kantor untuk menuliskan laporan kegiatan. Anda dan saya adalah blogger, digital enterpreneur. Sudah saatnya kita mengedukasi brand. Sudah saatnya kita mengedukasi diri sendiri untuk meningkatkan kualitas, dedikasi, dan loyalitas. Materi itu kompensasi akhir, akan datang kepada mereka yang memang PANTAS.

Tapi, yang terpenting dari artikel minta digampar ini, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan Anda bahwa kita adalah penulis. Dan penulis yang baik akan tetap menjaga kualitas tulisannya.

Akhir kata, bersatulah blogger-blogger Indonesia! #eh

Salam,
~eL

Semacam tanggapan dari Daeng Ipul: Saya Blogger dan Saya Menulis tentang Langit

Please feel free to share

206 Comments

  1. August 20, 2016 at 7:19 am

    salam kenal mbak langit. saya blogger lahir kmren sore, postingan mbak bagusss sekali buat saya ☺️

  2. June 11, 2016 at 6:33 am

    saya sampai saat ini belum memutuskan untuk menghadiri acara Blogger, ya salah satu alasannya ini hehe

  3. May 2, 2016 at 12:32 pm

    Setuju, sudah saatnya mengedukasi brand.
    Hidup Cimahi! πŸ˜€

  4. April 24, 2016 at 12:18 am

    Baca artikel ini, rasanya pengen teriak, hai brand yang suka anggap blogger murahan, baca ini he he

  5. April 13, 2016 at 2:42 am

    Sedikit sekali blogger yang bermental seperti Teteh ini, hebat bener orang Cimohai nih πŸ˜€ salam kenal.

  6. April 11, 2016 at 9:55 am

    I am loving this so much, perlu ada yg posting begini supaya makin banyak blogger yang KEBUKA pikiran dan nalarnya.

    https://elisamonic.wordpress.com/

  7. April 10, 2016 at 4:34 pm

    Ini aku banget mbak waktu awal-awal dapet undangan event. Awalnya sih seneng, pas skrng fokus jadi food blogger aku mulai milih-milih acara, karena aku pernah di undang event (bukan berkaitan ttg food) dan bener aja aku merasa rugi, cuma keluar transport doang, gak nambah networking dan bahan untuk diposting pun gak ada-_-

    *btw komennya banyak bgt mbak, scrollnya sampe pegel tangan saya haha

  8. April 7, 2016 at 9:46 pm

    Wow betapa berlikunya hidup blogger hehe
    Saya mah ngeblog buat senang-senang. Salah satu “me time” saya adalag menuangkan ide dan kisah dalam bentuk tulisan. Karena memori otak terbatas, biar kenangannya gak hilang ya ditulislah dan kadang dilengkapi foto, gitu doang

    Nah kalau masalah event, saya malah belum pernah ikutan, kebanyakan hari kerja sih, lha saya pan kudu ngangon bocah. Wong dulu mutusin resign karena mau komit ngurus bocah sendiri, kalau tetap ditinggal2 karena event blogger rasanya kok mengingkari komitmen sendiri ya πŸ™‚

  9. April 7, 2016 at 2:49 pm

    Mbak Langit,
    Pada dekade tahun 1990-an di negeri kita mulai masuk yang namanya teknologi, yaitu Komputer. Semua menjadi komputerisme. Negeri kita pun mulai melahap teknologi tersebut (meski kita sudah tertinggal 30 tahun dengan negara adidaya). TV swasta mulai bertambah. Dari sinilah mulai 'riuh' dengan apa yang disebut Industri seni salah satunya yang turut terimbas oleh teknologi tersebut. Maka dari perlombaan dan berebut teknologi tersebut, Industri seni terbagi menjadi 2 kiblat; yaitu Kuantitas dan Kualitas. Mengikuti selera pasar dan tidak. Hingga terjadilah produk yang semrawut saat itu, tapi pasar banyak yang suka. Hehehe memang masyarakat Kita juga yang doyan pada selera itu. Maka terjadilah perang antara kuantitas dan kualitas.

    Indonesia pun menjadi sampah kuantitas, sementara kualitas terpinggirkan dan berlaga di dunia luar. Negeri kita saat itu belum siap dengan perangkat Industri seni, tapi Hongkong, China, Jepang dan India sudah siap dan tidak terganggu ingar-bingar industri seni. Puncaknya di bidang seni; Industri film mati suri sampai 10 tahun, di bidang politik dan ekonomi kita remuk-redam dengan peristiwa reformasi (yang saat ini sudah kehilangan maknanya).

    Mbak Langit,
    Masuk dekade tahun 2000-an. Lagi-lagi Negeri kita dihebohkan dengan malang melintangnya dunia maya. Berjamurlah media sosial dengan segala atributnya dan turunannya. Maka negeri ini menjadi kelimpahan hasil teknologi canggih tersebut yang menyiratkan jarak ribuan bahkan jutaan kilometer menjadi sedekat mata memandang. Fasilitas ini menjadi ajang berpikir dan berbuat kreatif dengan segala aspek dari media sosial tersebut, salah satunya adalah Blogger sebagai peluang untuk berbuat dan berbagi secara kreatif (tentu saja sangat menyenangkan bila menghasilkan uang hehehe..).

    Perkembangan yang membabi buta tersebut secara perlahan membentuk 2 kiblat; persis seperti dekade 90-an, yaitu: kualitas dan kuantitas. Kita hanya menikmati hasil teknologi tersebut dan tentu saja dengan kreatifitas setiap individu pemakainya. Inilah dunia Industri yang selalu menjajakan pilihan bagi kita sebagai manusia yang menggunakannya. Hidup adalah memilih bukan dipilih kan? Persis dalam dekade 2000-an ini perfilman Indonesia lahir kembali dari mati suri, tetapi tetap kembali Indonesia makin tertinggal oleh negara Asia yang tidak mati suri dalam perfilman, namun kelahiran inipun sebuah harapan baru bagi Industri film di negeri kita ini, meski tetap terjadi 2 kiblat, yaitu selera pasar dan selera non pasar (hehehe saya belum mau bilang selera idealisme).

    Mbak Langit,
    Begitu pun dengan mahluk yang namanya Blogger. Seiring dan sebangun dalam ruang Industri (seni?) saat ini, mau tidak mau dan pasti secara perlahan akan terseret pada 2 kiblat seperti di atas, yaitu Kualitas dan Kuantitas. Memilih salah satu kiblat adalah sebuah sikap dari kita, maka kita pun tidak perlu ikut campur dan memaki kiblat yang sudah kita pilih, seperti apa yang dilakukan oleh Bung Anonymous telah memasuki ranah kiblat yang bukan pilihannya, hingga pendapatnya menjadi meracau kesana-kemari, karena tidak paham terhadap kiblat yang bukan pilihannya.

    Mbak Langit,
    Memilih selera pasar (kuantitas) adalah sebuah sikap yang tidak salah dan pilihan itu bermain di ranah 'abu-abu', sedangkan memilih kepentingan kualitas adalah sebuah sikap yang tegas dan tentu saja pilihan tersebut adalah kita sedang mengetuk pintu idealisme kita untuk dibuka dan dijelajahi ranah tersebut.

    Kini tinggal kita yang menentukan pilihan. Selamat memilih bagi para Blogger. (Hihihi kaya Pilkada saja).

    Salam dan jabat erat,
    Agus Safari

  10. April 6, 2016 at 3:43 pm

    Coba kalian pindah ke Jakarta. Hahaha.

  11. April 6, 2016 at 3:31 pm

    Mbak Frida: Yoyoy, Pak Agus ini guru saya juga.

    Anyway, jadi saya tidak perlu membalas komen Bun Any (disingkat biar gemez) karena sudah diwakili oleh Pak Agus. Makasih lho, Pak. *sungkem

  12. April 6, 2016 at 3:20 pm

    Astagaaaa, ada Pak Agus Safari, Chaaaaan.

    Salam kenal, Pak.
    *salim*

    Chan, Pak Agus ini yang ngajar nulis cerpen itu, yaak?

  13. April 6, 2016 at 8:16 am

    Walah mbak kolom komennya jauh bingit, butuh perjuangan yang gigih untuk sampai kesini hehe

    Tapi begitu sampai malah spicles karena sudah baca banyak komen di atas

    Intinya sih tulisan ini nambah ilmu saya banget, tentang banyak hal yang berhubungan dengan perbloggingan

    Kalau sebelumnya saya nggak pernah ikutan kumpul-kumpul karena minder mungkin suatu saat harus dipaksakan juga ya mbak, karena sosialisasi itu penting juga asal ngga mengganggu pekerjaan lain yang lebih utama πŸ™‚

    Salam kenal mbak Langit, saya sudah tahu namanya dari dulu sering disebut-sebut tapi baru kali ini ikutan komentar πŸ™‚

  14. April 6, 2016 at 7:54 am

    Sama Mbak. Di Bandar Lampung juga hihihihi.

  15. April 5, 2016 at 1:46 pm

    Bung Anonymous,
    Kalau menyimak tulisan anda yang didasari dengan penuh emosi (baca: kasar) dan tidak punya etika sebagai seorang Blogger yang punya 100 blog, maka ungkapan tulisan anda itu menjadi tidak karuan apa yang dibahas dan kesana-kemari, ya karena faktor emosi tadi. Saya pikir seorang Blogger sejati (apalagi mencari nafkah untuk anak dan istri) tidak sepatutnya menanggapi tulisan Blogger dengan kalimat yang tidak patut, kalau pun anda mengkritisi dengan pedas sekalipun tidak akan keluar dari koridor 'berbahasa' seorang Blogger yang penuh pengalaman. Bukankah keterampilan berbahasa seseorang mencerminkan kecerdasan dan kejelasan jalan pikirannya?

    Saya tidak paham dengan ungkapan dalam tulisan anda di baris akhir yang mengatakan: “Sekarang ini gak perlu nulis yang nulis itu robot…” Maksudnya apa ya Bung? Padahal anda begitu panjang lebar menulis mengenai pendapat anda tentang tulisannya Langit Amaravati dalam bentuk tulisan, bukan oral (baca: lisan) dan padahal juga anda telah memberitahu kami dengan pengalaman 100 blog, dalam bentuk tulisankan? Nah, sampai di sini dalam jemala saya menjadi rancu dengan kerangka 'berbahasa' anda, bung..?!

    Supaya persepsi kita sama mengenai 'berbahasa' yaitu; bahwa komponen berbahasa itu adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis (maaf tidak bermaksud menggurui, tapi menyamakan dulu persepsi, bung). Artinya empat komponen berbahasa itu pasti akan ada disetiap manusia yang normal dan berbudaya, dengan demikian menulis itu bukan robot, bung. Anda toh pandai menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan 100 blog yang dipaparkan di atas, artinya anda bukan robot.

    Bung, anda telah menyinggung soal Cerpen. Bagi anda cuma cerpen. Apakah anda penulis cerpen juga? Cerpen adalah sebuah karya tulis yang tidak semua orang bisa melakukannya, baik cerpen sebagai karya sastra ataupun pop. Cobalah anda jalan-jalan ke dunia sastra Indonesia, begitu banyak para cerpenis Indonesia yang hidupnya dari cerpen, baik pada jaman sastra lama atau baru sampai sastra modern saat ini. Jangan hinakan profesi seorang cerpenis Indonesia, seperti anda menghinakan seorang Blogger sejati bagi diri anda sendiri.

    Sumbang saran: pakailah tanda baca dengan benar, meski kita masih terus belajar dengan tanda baca dalam bahasa Indonesia. Kalau mau pakai bahasa dengan gaya gaul, pakai gaya gaul dengan maksimal, jangan campur-campur. (Sekali lagi maaf bukan maksud menggurui Blogger yang sudah punya 100 blog).

    Sekedar pertanyaan saja: “Apakah Anonymous itu nama asli atau samaran sebagai blogger, bung?”. Saya kutip ungkapan yang menarik dari seorang Shakespeare dalam lakon Julius Caesar: “Seorang pemberani matinya hanya satu kali, tapi pengecut matinya berkali-kali..”.

    Terimakasih.
    Salam dan jabat erat,
    Agus Safari

  16. Huuft.. Ngos-ngosan banget Kak Uchaaannn aku scrollnya. . .

    *minum es dawet*

    Teh Uchan mah ngerti banget isi hatiku,

    Haruskah aku ungkapkan isi hatiku juga?

    Aku blogger apa, ya?

    Blogger Pelosook, hehehe

  17. April 5, 2016 at 6:53 am

    belajar banyak dari tulisan ini. keren, mbak Langit!

  18. April 5, 2016 at 5:25 am

    kalo aku gag pernah datang acara, wong diundang aja jarang. hihihi

    salam kenal kak., Tulisannya kece

  19. April 5, 2016 at 5:12 am

    ah syukurlah. akhirnya suara hatiku yang terdalam terwakilkan oleh tulisan ciamik ini. akhir-akhir ini terus terang, tren ngeblog diwarnai oleh JR, dan reportase. agak menjemukan dan bosan bacanya. Makasih untuk tulisannya sehingga aku tak merasa terkucilkan karena punya pemikiran seperti dirimu. hanya saja aku tak cerdas dalam menuliskannya :). Jadi tulisan Mbak sangat mewakili

  20. April 5, 2016 at 4:35 am

    Aku setuju banget blogger bukan cheerleader, dan para pengundang juga jd memperlakukan kita semaunya karena kita meletakkan posisi kita di ” situ “. Makanya aku udah tekad in sejak 20016, hanya datang kalau ada benefit yg pantas (ilmu, networking, uang..hehe). Lhaaaa…padahal aku ini blogger apalah. Tapi kupikir kalau waktuku habis ikut event, ngabisin bensin, terus masih harus posting…mending aku bisnis dan nulis buku dan ikut lomba berhadiah jutaan. Duh…kesannya matre?? Iya juga sih, terus kita kerja untuk apa? Gudibekkk?? Haha

  21. April 5, 2016 at 4:33 am

    Bersyukur di kotaku, eventnya masih segelintir dan kompaknya dgn blogger di acara ngilmu. Kebayang pasti kl yg 1 hari smpi 3 event, pasti worthed banget ngejarnya. Buat sy, blogging is fun activity, for caring each other. Terus semangat ya mba.

  22. April 5, 2016 at 4:06 am

    Ikutan jadi 'cheerleader' komen ah. Wkwkw. Kalau di kota besar sih event banyak banget ya. Kl di kota kecil sih ada event malah jadi ajang kopdar gratisan. Untungnya effort ke tempat acara jg g besar

  23. April 5, 2016 at 3:23 am

    Chan, ajarin untuk bikin konten viral dong hehehe πŸ˜€

    Terlepas dari kontroversi yang ada, gw setuju dalam beberapa poin. Jawaban diplomatis, semua kembali ke blogger masing-masing hahaha,,, duh maaf gw nyampah banget jadinya.

  24. April 5, 2016 at 2:45 am

    Tadi sudah nulis komen panjang, karena satu dan lain hal, aku hapus lagi. Hahahaha. Semoga kapan2 bisa ngopi cantik bareng dan ngebrel sepuasnya πŸ˜€

  25. April 5, 2016 at 1:46 am

    Whoaaaa seru banget nih teh. Dapet banyak pencerahan untuk blogger remah-remah serundeng kayak saya. Yang bagian kode etik itu lho. Hehehe. Mungkin yang jangan diluapain itu, bener kata teteh, soal blog sebagai wadah 'seneng-seneng'. (w)/

  26. April 5, 2016 at 12:42 am

    Saya sih belum tau apa-apa soal event karena nyatanya di daerah saya sendiri event blogger itu masih kurang, kalau ada ya syukur kalau gak ada yang gak apa-apa. Soal tipe blogger pemburu event ini mah saya sempat dengar tapi mengabaikannya dan berpikir ahh palingan cuman datang duduk doang. Tapi waduh ternyata lebih kompleks lagi masalahnya.

    lucu juga yah, ada juga blogger tipe pemburu event dan dengan angkuhnya datang cuman mau goodie bag. Yah memang sifat manusia adalah tidak akan pernah puas tapi yah jangan terlalu kelihatan banget lah.

    sip akhirnya saya ngerti ternyata dunia blogger juga ada yang seperti ini

  27. April 5, 2016 at 12:35 am

    Mngkn maksudnya komen Bw nya ga personal. Ketauan skdr basabasi. Wlo bagi gw sih mayan lah ada yg komen drpd sepi. Tp skrg klo ada tombol sosmed sprti likes fb tampil bs ngrasa klo oh ada yg liat hehe

  28. April 5, 2016 at 12:22 am

    Saya ngeblog buat apa ya~ XD buat pamer jalan-jalan doang sih~ xixixi tapi jadi jarang bisa datang ke event karena sering nggak pas lokasi n tempatya~

  29. Ririe Khayan-Reply
    April 5, 2016 at 4:19 am

    Terima kasiiih Mbak, pencerahan sekaligus support banget untuk memilih dan memilah kala ada event yang mengundang blogger.

    Selain faktor macth waktunya, pertimbangan ikut event juga saya lakukan bila jaraknya masih di dalam kota (sekitaran Jogya), dan pastinya urusan keluarga come first.

  30. April 4, 2016 at 7:06 pm

    Rupanya blogwalking sekarang sudah jadi “cuma sekadar” ya, Mas? Padahal cuma sekadar blogwalking itu pakai usaha dan waktu hehehe. Dan pada masanya blogger seneng banget dicuma sekadar blogwalkingin dan dikomenin. Saya termasuk yang seneng sampai detik ini pun πŸ˜€ #norak. Dan bukannya semakin banyak interaksi, semakin dinilai bagus ya blognya oleh pembaca?

  31. April 4, 2016 at 6:48 pm

    Sy slalu sk bc tulisan teteh, trims ya teh utk pencerahannya, krna sy yg trmasuk jrg utk ikutn event krn pkrjaan..slm knl teh πŸ™‚

  32. April 4, 2016 at 5:24 pm

    Tempat penitipan sandal di rak ujung koridor sana,ya. Hahaha.

  33. April 4, 2016 at 5:23 pm

    You know laaahhh. Hahaha.

  34. April 4, 2016 at 5:21 pm

    Sama-sama, semoga bermanfaat.

  35. April 4, 2016 at 5:20 pm

    Simpel, kok. Nulis aja yang bagus kalau kata aku mah. πŸ™‚

  36. April 4, 2016 at 5:19 pm

    Mungkin selain mengedukasi brand kita juga harus mulai mengedukasi pasangan untuk …mmmhhh. Anyway, sudah mencoba modus launching smartphone terbaru? Siapa tahu dibeliin juga. Hahaha.

  37. April 4, 2016 at 5:18 pm

    Salam kenal.

  38. April 4, 2016 at 5:17 pm

    Seperti yang saya katakan di awal postingan ini, setiap blogger memiliki kebijakan sendiri dalam memperlakukan blog dan dirinya.

  39. April 4, 2016 at 5:16 pm

    Terima kasih sudah membaca πŸ™‚

  40. April 4, 2016 at 5:15 pm

    Terselamatkanlah kalian-kalian blogger daerah. Hahaha.

  41. April 4, 2016 at 5:14 pm

    Jadi ketika sekalinya hadir ada kangen-kangennya gitu ya, Teh? Lebih seru sih kalau kata aku mah. πŸ˜€

  42. April 4, 2016 at 5:09 pm

    Seperti yang pernah saya tulis dalam komentar di Facebook, bahasa tulisan tidak memiliki intonasi. Interpretasi tergantung kepada wawasan dan pengalaman pembaca. Gaya saya memang lugas, tapi beneran nggak ada maksud “jahat”, kok. πŸ™‚

  43. April 4, 2016 at 5:04 pm

    Hahaha. Dunia Internet memang selalu penuh kejutan. Saya juga nggak nyangka artikel seperti ini malah jadi viral.

  44. April 4, 2016 at 5:02 pm

    Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

  45. April 4, 2016 at 5:00 pm

    Dalam polemik seperti ini, kebenaran itu relatif. Tujuan saya cuma satu kok: menyadarkan. *eheum

  46. April 4, 2016 at 4:58 pm

    Saya nggak tahu apakah event-event seperti ini akan merambah pula ke luar Jawa. Yang jelas teman-teman di (meminjam istilah Daeng Ipul) daerah sudah tahu situasi di pusat dan sekitarnya. Jadi, jika suatu saat di sana banyak event sudah punya lebih banyak pengetahuan. Demikian πŸ™‚

  47. April 4, 2016 at 4:55 pm

    Barusan lihat, beneran isinya iklan semua. Bwahahah.
    Serah situlah mau namainnya apaan.

  48. April 4, 2016 at 4:38 pm

    lah kalau blog saya mayoritas isinya placement dan review, bisa dikatakan isinya mayoritas artikel iklan, kira2 apa yah namanya hehehhe lha mang fokusnya kesitu

  49. April 4, 2016 at 4:12 pm

    Ikut menyimak dan belajar. Buat saya event blogger masih sangat langka, tinggal di Kalimantan, di kota kecil pulak. Salam kenal, Teh πŸ™‚

  50. April 4, 2016 at 3:48 pm

    Wowww, panjang nian komentarnya. Jadi viral tulisannya,mbak. Aku suka bacanya, emang sih menohok gitu bagi yg ngerasa. Tapi itu tandanya artikel ini benar sih. Buat reminding juga kalo ada undangan event, ya mesti sesuai dg blog. Kayak aku, gak punya balita , enggak mungkin juga hadir kalo brand susu kasih undangan, wkwkwkk

  51. April 4, 2016 at 3:17 pm

    nice thought, baca komen-komen satu-satu banyak bgt ya, thanks mbak, lumayan buat bahan pemikiran

  52. April 4, 2016 at 3:08 pm

    *suka diem2 stalking blog-nya teh Langit, kali ini mau bersuara sedikit πŸ˜€

    Tulisannya luar biasa,cukup tepat sasaran berhubungan dgn fenomena blog/blogger belakangan ini. Viral lho artikel ini..cetarr πŸ™‚

  53. April 4, 2016 at 2:20 pm

    Wow banyak banget yang komentar.
    Gak papa dapet komen yg gak bagus mba, saya bukan blogger terkenal atau artis blog tapi just saran… kita tetap harus mikir perasaan orang kalau nulis hhe

    digital enterpreneur! Ntap! saya setuju banget nih haha

  54. April 4, 2016 at 1:45 pm

    kami di daerah ngga ada pilihan karena memang tidak ada event… πŸ˜€

  55. April 4, 2016 at 1:32 pm

    Wow… ulasannya provokatif ya mbak…
    Tenang… ga bakalan di gampar kok. Malahan kt nih yg berasa ditampar. Nice post

  56. April 4, 2016 at 12:25 pm

    prinsip memang harus dijaga. Seperti juga lainnya, ngeblog pun pakai hati :). So whatever you choose for your blog, stick to it :).

  57. April 4, 2016 at 11:36 am

    Saya suka kalimat di paragraf penutupnya, “….bahwa kita adalah penulis. Dan penulis yang baik akan tetap menjaga kualitas tulisannya.” Hehe…salam kenal, Mbak.

  58. April 4, 2016 at 11:28 am

    *nganga dulu*
    ini kok mewakili suara hatiku banget. aku adl blogger yg cuma diijinkan datang ke event di dalam kota doang, prioritas keluarga jd alasan. cuma dateng pas ada ilmu n ketemu temen2 asinan blogger doang. bahkan sering nolak ajakan or tawaran nulis berbayar tp kudu dateng dulu ke jkt. jauh bo…
    bukan materi yg dikejar. pernah bilang ke suami, ada event dpt gudibek setrika tuh di jkt. kamu mau? sini aku beliin setrika.hihihi asik. nah…apapun itu, teuteup aku mah ga boleh pegi jauh dr rumah.kalo aku ga ada di rumah riweuh bin kacaulah situasi.
    tulisan ini bener2 penenang jiwa n pukpukable banget πŸ™‚

  59. April 4, 2016 at 11:27 am

    *nganga dulu*
    ini kok mewakili suara hatiku banget. aku adl blogger yg cuma diijinkan datang ke event di dalam kota doang, prioritas keluarga jd alasan. cuma dateng pas ada ilmu n ketemu temen2 asinan blogger doang. bahkan sering nolak ajakan or tawaran nulis berbayar tp kudu dateng dulu ke jkt. jauh bo…
    bukan materi yg dikejar. pernah bilang ke suami, ada event dpt gudibek setrika tuh di jkt. kamu mau? sini aku beliin setrika.hihihi asik. nah…apapun itu, teuteup aku mah ga boleh pegi jauh dr rumah.kalo aku ga ada di rumah riweuh bin kacaulah situasi.
    tulisan ini bener2 penenang jiwa n pukpukable banget πŸ™‚

  60. April 4, 2016 at 11:17 am

    Ternyata ribet yah jadi blogger :))

  61. April 4, 2016 at 10:38 am

    Ngeblog memang pilihan. Ada saatnya kita meraba-raba menentukan arah, ada waktunya kita menemukan jati diri ^_^

  62. April 4, 2016 at 10:15 am

    Di kota tempat saya tinggal, kalau saya diundang ke event, saya gak datang.
    Saya malah undang balik mereka ke rumah saya.

    Lha wong mereka datang dari ibu kota ke kota saya. Artinya saya tuan rumah. Tuan rumah yang baik selalu mempersilakan rumahnya untuk disinggahi.

  63. April 4, 2016 at 9:55 am

    Jepara mah jrg event, jd kita buat sendiri deh. yg simple sambil berbagi ilmu

  64. April 4, 2016 at 9:49 am

    ilmu baru teh, ngga sengaja blog walking – soalnya jujur, bukan tipe pembaca yang betah betah mantengin tulisan seabreg gini. tapi karena alur nya dan infonya patut di pertahanin akhirnya keterusan.

  65. April 4, 2016 at 9:37 am

    This comment has been removed by the author.

  66. April 4, 2016 at 9:05 am

    Walah… Aku malah Blogger yg sudah jarang silaturahim, jarang nulis dan kualitasnya menurun. Lebih seneng kalau ada yg Nawarin Review, lebih masuk ke golongan kos kosan tadi bah!

    Setuju sama kode etik tadi… Ada satu brand tapi jarang ngetwit juga

    Thanks sudah sharing

  67. April 4, 2016 at 8:56 am

    Ini artikel wajib baca buat saya yang baru mulai mau nyari identitas sebagai blogger. Blogku mau diarahkan kemana? Lifestyle yang sebenarnya istilah lebih halus dari blog gado-gado, atau blog tentang apa? Bingung. Kalau baca dari uraian Teteh di sini, harusnya paling nggak punya acuan agar orang langsung tahu blog ini tentang apa. Iya kan?

    Soal lain-lain, saya belum bisa komentari kecuali soal datang ke event blogger. Syarat utama ya biaya transportasinya terjangkau, gak perlu nginep dan harus dapat benefit yang jelas. Btw, tertohok nih soal networking. Saya kira sering datang ke event-event blogger itu networking, ternyata buang-buang waktu ya? Hahahaha, sepakat deh.

  68. April 4, 2016 at 8:26 am

    Selama ini belum pernah dapat undangan ke event2 gitu sih. Xixixixi..kita jauh dari keramaian euy πŸ˜€ Kebetulan aja sih ini pas ke Bandung pas ada event juga dan kebetulan suka sama topik. Jadi yuk deh cuss aja. Sekalian kopdaran sama blogger lain.

    Kalau memang gak nyambung sama topik ya jelas skip aja deh, masih banyak blogger lain juga kan?

    Oh iya, terus kapan kita kopdaran Teh? *salahfokus

  69. April 4, 2016 at 7:40 am

    Bener mba, aku memang baru pemula, tapi entah kenapa mulai mikir buat pilih-pilih meski tulisanku masih ambur radul (gak gitu juga sih) tapi berusaha all out dengan tulisan yang menyangkut brand.. kalo udah ngupas brand susu A aku ga bakal ikutan di brand susu B.. kalo udah ngupas aplikasi A aku ga ikutan lomba aplikasi B yang apple to apple… Lalu masalah cost ato biaya transport… Ini nih yang jelek di diriku.. Kalo aku kadung suka eventnya ples aku ga mau ribet, aku berani ngeluarin uang transport lebih ketimbang bejubel di KRL ato busway.. pas nyampe rumah baru nyesel hehehe.. Thank you for reminder.. meski newbie harus tau hal-hal seperti ini ^_^

  70. Alaika-Reply
    April 4, 2016 at 2:17 pm

    Akhirnya sampai ke komentar terakhir juga saya, Chan! Bagi air mineral dingin donk, haus, scroll downnya panjang banget! Hehe. Pro and kontra berjejer rapi di kolom-kolom komentar ini, euy! Dan seperti biasa, Uchan melaju dengan suara hati dan opini yang tersampaikan secara tajam dan matang.

    Kalo aku sih, punya beberapa alasan untuk hadir di sebuah event. Yang paling utama adalah jika event itu diikuti oleh teman-teman yang sudah lama ga ketemu. Jadi lebih ke temu kangen, dengan tentu saja bertanggung jawab untuk tunaikan kewajiban yang tersemat di dalam 'paket' undangan itu. Selain itu, memutuskan hadir atau engga, aku juga akan refers ke tema dan kesesuaian acara bakal match ga dengan passion dan kategori2 yang ada di blogku. Jika iya, dan memang ada waktu, aku akan hadir, sih! Tapi banyakan event-2 sekarang ini juga diselenggarakan pada hari kerja sih, jadi lebih sering ga hadir deh. *kok malah curcol.

  71. April 4, 2016 at 6:31 am

    Dulu awal-awal jadi blogger aku sering ikutan event. Mayan lah buat dikenal sekaligus ngider. Hehe

    Sekarang mulai realistis, karena nggak ada makan siang yang gratis. Yakali seminggu dateng 2-3 acara, kebayang gak tuh bikin reportasenya? Hehe

  72. April 4, 2016 at 6:18 am

    Tulisan yang menarik sekali dibalik pro dan kontranya, terkadang tidak semua event bisa dilahap oleh seorang blogger, cobalah beri kesempatan yang lain juga untuk hadir sehingga tidak itu-itu aja yang muncul dalam sebuah event, orang lain berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk ikut event tersebut :D, semoga dunia perbloggeran makin berkembang πŸ˜€ salam hangat dari blogger dari kota Pontianak, reviewapaaja[dot]com

  73. April 4, 2016 at 5:36 am

    wah eventnya sepertinya seru. penasaran pengen ikut. kalau nanti ada lagi insyaallah saya ikut serta. semoga aja.

  74. April 4, 2016 at 5:13 am

    bikin juga ah. TFS

  75. April 4, 2016 at 5:09 am

    Tulisan yang bagus mbak, meski tidak semua saya setuju, tapi namanya beda otak pasti beda pemikiran, salam

  76. April 4, 2016 at 3:53 am

    Ahhh… iya banget inii.. aku aja yg drg ke eventnya skali2 suka mrasa bingung nulis dr sudut pandang mana lagi yaa.. salutlah tapi sama tmn2 yg tyap hari smp wiken jadwalnya full acara blogger, bs nulis liputan yg banyak n urusan rumah beres. Klo saya? Lah dtg ke 1 event di siang hari abis jemput anak pulang sekolah n pulang selepas isya aja udh bikin besoknya kudu tidur siang. Hihi.. thx ya ush nulis ini. Jd ngingetin jg. Meski balik lg ke yg punya blog tp etika itu perlu banget..

  77. April 4, 2016 at 3:47 am

    Wah keren…adanya haters berarti ada perhatian yang lebih. Terlepas tulisan mba Langit menyindir ku ataupun tidak ..saya hanya ingin melihat sisi positif yang ingin disampaikan lewat tulisan ini…dan menjadikannya sebagai pembelajaran dan cermin agar bisa lebih baik dari kemarin. Makasi tulisannya mba Langit.

  78. Agung Prass-Reply
    April 4, 2016 at 10:24 am

    Oke tulisannya. Terbersit dari hati. hehehe…
    Nitip sandal ya kakak ^_^

  79. Susindra-Reply
    April 4, 2016 at 10:19 am

    Blogger daerah izin menjejak di sini mbak. Ikut belajar menjadi blogger yang tidak kehilangan identitas di sini

  80. April 4, 2016 at 2:55 am

    Suka saya tulisannya Teh, sangat mencerahkan πŸ™‚

  81. April 4, 2016 at 2:54 am

    Suka saya tulisannya Teh, sangat mencerahkan πŸ™‚

  82. April 4, 2016 at 2:34 am

    Eh, ada Teh Ida. πŸ˜€

  83. April 4, 2016 at 2:32 am

    Mare, cocokkan jadwal, Teh.

  84. April 4, 2016 at 2:32 am

    Hasil obrolan kemarin: kalau mau dibikin khusus untuk nyari duit, ya bikin yang khusus. Ndak usah dicampur-campur, kasihan pembaca.

  85. April 4, 2016 at 2:22 am

    hihihi di Padang enggak ada event blogger Mbk, jadi jarang banget isi reportase, kecuali acara pelatihan kepenulisan.

  86. April 4, 2016 at 2:15 am

    Ah mbak ini bisa baca pikiranku ato gimana sih?

    Baru aja beberapa hari lalu aku memutuskan untuk meluruskan kembali tujuanku buat ngeblog, karena aku mulai jenuh dengan hingar bingar lomba lah, job review lah, event lah. Gara-gara mengejar itu semua, blog ku jadi kacau, berantakan, kehilangan identitas!

    Oke, aku nggak bilang kalo aku bakal nolak itu semua, nggak. Tapi yang pengen aku tekankan, aku gak mau jadi penjilat untuk mengejar itu semua. Mau diundang ya syukur, nggak yaa gapapa.

    Dan satu lagi, gara-gara mengejar yang seperti itu, pembacaku (yang dulu 95% bukan dari kalangan blogger) perlahan mulai menghilang. Gak ada lagi komentar dari “pembaca beneran” yang bener bener suka sama tulisanku. Yang ada, sekarang blog ku lebih sering dipenuhi oleh komentar dari blogger lain yang cuma sekedar blog walking..

  87. April 4, 2016 at 2:15 am

    Seru baca tulisan (dan komentarnya juga) hehehehe… ^_^

    Itu kasian yang mrepet di atas sampe typo

  88. April 4, 2016 at 2:07 am

    Sambil nangis nggak angguk-angguknya? Bwahahah.

  89. April 4, 2016 at 2:06 am

    Bargaining position dan bargaining power, itu yang harus kita punya.

  90. April 4, 2016 at 2:05 am

    Makasih Beb. πŸ˜€

  91. April 4, 2016 at 2:04 am

    Sesekali ikutlah, seru kok.

  92. April 4, 2016 at 2:04 am

    Istilahnya keren, kaaann? *halah

  93. April 4, 2016 at 2:02 am

    Nih, kembaliannya. Bwahahah.

  94. April 4, 2016 at 2:02 am

    Udah boleh jadi menteri belom, nih? *ditabok

  95. April 4, 2016 at 2:01 am

    Silaturahmi juga sering aku jadikan pertimbangan ketika datang ke event blogger.

  96. April 4, 2016 at 1:59 am

    Dalam hal ini, kita sama-sama belajar. πŸ™‚

  97. April 4, 2016 at 1:58 am

    Yang senior-senior kayak Teteh mah pasti udah paham betul lah perkara beginian.

  98. April 4, 2016 at 1:58 am

    Sudah saatnya, kan? πŸ™‚

  99. April 4, 2016 at 1:56 am

    Kayak kopdar Kompasiana kemarin itu, yak? Itu asyik banget sih kalau kata gue karena bisa ketemuan ama temen-temen yang sehari-hari cuma bersinggungan di dumay. Sayang kemarin gue nggak ikut.

  100. April 4, 2016 at 1:55 am

    Silakan, please feel free to share.

  101. April 4, 2016 at 1:52 am

    See? Tidak sulit kan memertahankan idelisme?

  102. April 4, 2016 at 1:52 am

    Artikel food combining? Hahaha.

  103. April 4, 2016 at 1:51 am

    Tantangannya kurang greget emang kalau di kota yang tidak terlalu banyak event, but positifnya, kita masih bisa menjaga keseimbangan.

  104. April 4, 2016 at 1:50 am

    Eheum.

  105. April 4, 2016 at 1:50 am

    Aku sendiri mempertimbangkan banyak hal sebelum datang ke berbagai event.

  106. April 4, 2016 at 1:45 am

    Positifnya, kita lebih bisa menjaga konten blog gita. Iya, nggak?

  107. April 4, 2016 at 1:45 am

    Ini merupakan salah satu tulisan yang mencerahkan. πŸ™‚

    Saya sebenarnya sudah lama kepikiran tapi memang ragu untuk menulis di blog tentang pemikiran ini

  108. April 4, 2016 at 1:44 am

    Benefit dan dedikasi memang harus seimbang.

  109. April 4, 2016 at 1:41 am

    Kalau yang udah punya tema khusus mah agak enakan ya, Ceu. Nggak kayak kita-kita yang lifestyle tapi ujung-ujungnya jadi udah kayak toko kelontong: semua ada. Hahaha.

  110. April 4, 2016 at 1:00 am

    Haduhhh… ngakak baca komen hater nya teteh. Pan dia gak tau aja si teteh ini eksis banget :p

    Buat ibu rumah tangga macam kita ya sekarang memang harus memilah milih event mana yang bisa didatangi, jangan kalap juga.
    Dulu saya juga kalap, setiap event blogger di datengin ujung ujung sakit. Event terakhir yang saya datengi ya itu yg pas ZTE ketemuan kan kitah teh *klo masih inget*

    Anak juga jadi korban, harusnya butuh perhatian emak nya eh ini malah emak nya rempong sendiri.

    Dan akhirnya ada tulisan teteh yang bener bener bisa mewakili isi hati saya.

    Soal rejeki mah gak kemana. Tapi jangan lupa juga ya tugas sebagai istri dan ibu di rumah. Aihh… pengen peluk tetehh XD

  111. April 4, 2016 at 12:44 am

    Aaaa… seneng baca artikel seperti ini, Teh. Saya ngeblog juga baru, boro-boro diundang, ngepost rutin juga jadi susah. Tetapi membaca insight seperti ini tetep asik, anggap aja pelajaran sebelum jadi blogger gaul. πŸ˜€

    Entah kenapa ngerasa lucu sama komen haters di atas-atas saya. :)) Bahasan artikel Teteh ke mana, dia ngomongnya ke mana. Terima kasih sharingnya.

  112. April 3, 2016 at 11:30 pm

    ciyeee uchan punya haters ciyeeee

  113. April 3, 2016 at 11:27 pm

    Mas Toro mah keren dan baik hati, ramah dan tidak sombong *halah

  114. Anonymous-Reply
    April 3, 2016 at 11:19 pm

    Gila, Komentar gua di hapus haaaa Memang licik orang yang satu ini! Jangan sok belaga mendefenisikan blog segala dah! Kalau orang seperti lo sih enak ada kerjaan tetap, kalau seperti kami ini mencari dollar dari blog? Inilah tipe penulis pecundang yang menulis gak tentu arah ujung' an nya mencela orang karenanya gak di undang? Bearti repotasi, kontribusi lo di dunia blogger Indonesia itu gak ada? makanya nama lo gak pernah di undang? Gua bukan tipe blogger yang sering di undang, gua pencari nafkah untuk anak bini gua dari blog tapi tulisan lo ini sangat tajam dan sok mengajarkan Blogger Indonesia. Apa kontribusi lo dalam dunia blogging ini? Apa sering sharing tentang SEO, buat template, mengajarkan newbie tentang metode blogging? Enggak? gak ada bukan bahkan nama lo itu di forum-forum gak pernah kedengaran. Blog aja masih kecek gini. Tulisan ya, cuma cerpen,curhatan atau hinaan saja. Eh, asa lo tau masih banyak orang hebat di Indonesia ini dari pada lo. Eh, lo blogger bandung ya? buat nama urang badung jelek wae. Tulisan ini kalau dipublikasikan di forum gua rasa banyak mastah yang panas. Tolong sedikit bekarya lah angkat nama baik blogger bukan malah saling menghina, najis tau! Sayang blog ini masih pake cepot kalau pake WP gua bisa saja hack ni dan gua ancurkan biar lo tau rasa…. Template free boleh nyolong aja bangga haaaa benerin dulu ni blog baru belajar ngomong dan nulis. Gua punya lebih dari 100 blog aja biasa aja gak pernah sok karena gua fokus ngafkahin akan bini bua bukan kaya lo akwkakkwak. Sekarang ini gak perlu nulis yang nulis itu robot lo tau AGC? gua kira blog ini aca ecek'' apa lagi AGC wkkawkka salam blogger jiss

  115. April 4, 2016 at 3:47 am

    Love this. Saya kadang memiliah dan memilih event mana yang bisa saya hadiri dan juga liat kondisi, ini penting ga ya untuk saya hadiri sampai saya harus meninggalkan kerjaan dan keluarga, dan tulisan ini seenggaknya membuat mata saya terbuka lebar, makasih teh Uchan πŸ™‚

  116. April 4, 2016 at 2:15 am

    Happy blogging, teh eL ^_^
    Terima kasih tulisannya.

  117. Maya Siswadi-Reply
    April 4, 2016 at 1:44 am

    Tulisan ini kembali mengingatkan saya akan nasehat suami yang pernah berceramah panjang lebar soal ini. Konteksnya mirip. “Jangan mau dibodoh2i brand yg ga menghargai blogger”. Huhuhu. Itu sebabnya beberapa bulan ini saya mulai membatasi diri.
    Eh, saya pernah menulis yang hampir mirip di soal cost, tapi beda konteks, yang ini lebih to the point. Hahahaha.

  118. April 3, 2016 at 4:11 pm

    Setuju dengan om Anonymous di atas ane ^_^

  119. April 3, 2016 at 4:08 pm

    Akhirnya, blog saya malah banyak curcol org-org Korea tuh, hehehe. Eh, ada lho acara keceh yg ngundang blogger daerah bayar PP trs ksh HP mahal lg. Smg tahun ini saya dan mbak diundang ya πŸ™‚

  120. Anonymous-Reply
    April 3, 2016 at 2:51 pm

    Udah berapa lama ngblog? Udah ngerasain berapa ribu dollar dari blog? Kalau lo udah nyicipin manisnya dollar gua rasa lo gak bakalan nulis artikel tolol kaya gini. Dan kalau di denagr para member dan master blogger mampus lo. Nama baik lo mau dikemanain? Jangan sok dan baru belajar nulis aja udah kaya gini ^_^ Mana bawa defenisi blog segala haaaa Lol banget dah!! Eh, pahami dulu apa itu e-commerce? Asa tulis aja lol tau haaaaa Pengen gua share rasanya di Blogger Indonesia biar tau rasa!

  121. April 3, 2016 at 2:01 pm

    Wuih banyak sekali yang komen ya. Langit keren ah!

  122. April 3, 2016 at 1:56 pm

    Alhamdulillah…untung saya tidak terjerumus di dalam “Pesona Event Blogger”. Nuhun teh postingannya…

  123. April 3, 2016 at 12:54 pm

    menulis sambil bersenang-senang. *noted*
    semoga saya bisa belajar banyak sebagai orang yang baru.

  124. April 3, 2016 at 12:35 pm

    Saya juga banyakan nolaknya, soalnya kerjaan Di kantor Lebih penting *gaya* padahal mah efek ga Bisa ijin keluar kantor, haha.

    Kalo saya mah kebanyakan dateng Krna temanya. Kalo temanya ga sesuai, Suka ga Bisa nulisnya aka ga Ada ide, hehe (maklum blogger remahan peyek)

    Tfs, Mbak

  125. April 3, 2016 at 12:04 pm

    Gw banyak setuju nya, CONCERN sama kode etik ini JUARA Banget.

    Gw banyak nolak undangan atau ngebuzz kalo ngak sesuai tema dan ngak sesuai benefit plus plus nya.

    Tapi sesuai awal tujuan gw ngeblog berbagi kebahagiaan dan membuat pembaca tersenyum. Kalo dapat plus2 itu alhamdulillah bonus kerja keras

  126. April 3, 2016 at 11:58 am

    Kalo yang ngundang berpotensi nyinyir dan kebanyakan tuntutan juga perlu dimasukkan blacklist. Udah jauh dan luangin waktu buat dateng malah dicuekin dan disuruh review genk nero *malah curhat

  127. April 3, 2016 at 11:33 am

    Saya setuju dengan tulisan Teh El. Pun saya setuju sama siMbok.

    Asli, saya datang ke sebuah acara bukan karena pengen dapat duitnya atau gudibeknya, memang dasarnya pengen ketemu teman-teman saja. Ada yang baru, hati senang. Kalau ketemu yang itu-itu lagi, ya mau bagaimana? Tapi lihat-lihat lagi juga sih…

  128. April 3, 2016 at 10:49 am

    Tulisannya teh Langit selalu ngena banget di hati,, *love it πŸ™‚

  129. April 3, 2016 at 9:42 am

    stuju dengan poin poinnya. udah punya term sendiri buat brand yg mau numpang iklan.

  130. April 3, 2016 at 9:34 am

    Ah, saya jadi mupeng dengan ilmu infografis yg dibagiin kemarin di bekasi. huhuhuhu…saya malah pemilih abisaa. soalnya ngajuin proposal izinnya ga gampil hehe. jadi yaa diatur2 dipikir2 mana yg sangat2 berat bobot elmunya. gitu ;D

    semoga kapan2 saya bisa nimba ilmu sama Mbah chan

  131. April 3, 2016 at 9:09 am

    Halo mbak. Huahahaha aku setuju.
    Dulu aku iri loh sama blogger yang selalu ada di event ini itu. Juga semua lomba hempon merk apa aja diikuti, lah eksis banget. Tapi kok JD ga punya kepribadian. Tapi mungkin itu mah pikiran aku yg iri aja ga dapet undangan sebanyak itu pun males ikutan segala macem lomba.
    Kadang juga ngerasain, kita yang matre lantaran mikirin transport atau gimana. Padahal dibalik itu, beneran ninggalin Rumah dalam keadaan seadanya, buang energi, huahahahaha. Tolong ya brand, di perhitungkan hehehehe. Nice post mbak

  132. April 3, 2016 at 9:08 am

    Plak.. kayaknya banyak yang tertampar sama tulisan Teteh.. Tapi kayaknya bakalan tetep ada 2 jalan, yang pegang prinsip “Blog urang kumaha urang” sama prinsip “Tetap sejalan sama tema dan have fun saat nulis”
    Semoga idealisme saya di dunia blogging masih dikuatkan..

  133. April 3, 2016 at 8:17 am

    Sebuah lagu yang “jujur” dengan ketukan nada “sarkas” yang kental. Perlu keberanian tinggi untuk menulis seperti ini, karena akan banyak reaksi, yang keumumannya adalah: “iya, setuju, tapi….” dan kelanjutannya adalah pembelaan diri, hehe. Sukses ya chan.

  134. April 3, 2016 at 6:46 am

    Suka sama tulisan ini.Soalnya ada juga sih blogger yang dalam sebulan datang ke tiga brand kompetitor.

  135. April 3, 2016 at 6:21 am

    Salam kenal, Teeeh. Iiiih. Iya banget. Kadang aku ngerasa gak enak nolak undangan. :”D Tapi postinganmu bikin melek mata bangeeet!

  136. April 3, 2016 at 6:11 am

    Kudu ngopi bareng ini mah, iraha nya?

  137. April 3, 2016 at 6:06 am

    menulis karena kecintaan hehe, tapi jujur, emang bosen klo liat isi blog iklan semua. Tapi balik lagi, itu pilihan masing2 yaaa, mungkin ada yg bahagia dgn menulis seperti itu ^^
    Nice share teh..

  138. April 3, 2016 at 6:05 am

    Tos dulu atuh πŸ˜€

  139. April 3, 2016 at 6:02 am

    Sama-sama, Teh. Semoga bermanfaat.

  140. April 3, 2016 at 6:00 am

    Eheum. Makasih lho, Mak, udah mampir.

  141. April 3, 2016 at 5:21 am

    Juharaaaa ….

    Klik share

  142. April 3, 2016 at 4:54 am

    nuhun sharingnya teh….
    blogger emak2 kayak saya ini mmg hrs banyak diingetin, krn kadang kebablasan hehehe

  143. April 3, 2016 at 4:42 am

    Intinya sama sih mbak, sama saya. Kalau dana ada buat berangkat, ya berangkat. Itung2 ketemu temen2 dan jalan2. Kalau nggak ada dana, ya nggak saya paksakan, kecuali saya dapat “sesuatu” yang bermanfaat. πŸ˜€

  144. April 3, 2016 at 3:12 am

    Wah, mantap sekali ulasannya, Teh. Emang event2 yg ngundang blogger banyak yg menggiurkan. Tapi selektif itu tetep perlu. Aku jg lebih banyak pertimbangan ke bagi waktu. Selalu ingetin diri sendiri bahwa waktu kita gak cuma keambil buat dateng ke event, tapi juga menulis reportase setelahnya. Sekarang jadi banyak event yg skip deh. Kecuali jika dateng ke acara yg bikin kita enjoy & ketemu temen2 sesama blogger, sesekali masih perlu.
    Soal ongkos & sumber daya yg kita keluarakan juga setuju pisan. Aku sih masih beredar di event yg ada di Kota Bandung aja, & cukup ngangkot sekali-2x. Jadi ongkos sih gak pernah jebol, hehe.
    Nice sharing :).

  145. April 3, 2016 at 3:01 am

    Saya suka sekali pemikiran2 mbak. (y) saya juga pilah-pilih hadir di acara. Kalau gak sesuai hati, yo gak hadir. Kalau hadir di acara tapi gak diwajibkan nulis review, kebetulan itu acara gak pantes2nya ditulisin, yo saya juga ogah nulis meski sekadar basa-basi. Menuh2in blog aja. Eh! Tapi kalo acaranya mantap banget, dengan sukarela saya tulis di blog.

  146. April 3, 2016 at 2:34 am

    Setuju sama pendapat Mbak Langit πŸ˜€
    Salam kenal, Mbak πŸ˜€

  147. April 3, 2016 at 2:29 am

    Saya mending datang ke undangan kawinan, gak kudu reportase πŸ˜‰

  148. April 3, 2016 at 2:03 am

    Komplit dan jelas

  149. April 3, 2016 at 1:31 am

    Hmm, susah yah buat jadi blogger yang idealism,punya prinsip dan mampu menolak tawaran event. Kalo sayah mah masih blogger abal-abal, Ceu. Diajak ke sini mau, diajak ke sana mau. Di suruh nulis ini mau, disuruh nulis itu mau. Apalagi menerima bayaran. Semoga segera menemukan passion blog, biar blog personal sayah bisa berubah fokus satu hal. Nice sharing, Ceu..

  150. April 3, 2016 at 1:07 am

    Akuuu sukaaa dehhh bacanyaa
    Mba, kita udah pernah ketemuan belum sih, kayanya seru ketemuan sama kamu. πŸ˜€

  151. April 3, 2016 at 12:47 am

    Hihihi… anyway busway…saya selalu suka tulisanmu yang lugas seperti ini. Terlepas ada kalimat yang menyindir atau tidak, ini adalah sebuah keterbukaan dari seorang langit Amaravati. Jujur kalau buat saya yang masih bau kencur sering mupeng lihat honor JR dan hadiah lomba yang boleh dikata jarang saya capai. Termasuk banjirnya lomba blog kuliner, lomba foto kuliner yang menyertakan brand produk tertentu. Dalam hal lomba lomba berbrand ini meski saya suka masak…tidak serta merta saya ikuti walau hadiahnya fantastis..sebab selain ngeblog saya juga berusaha menjaga brand. Saya mengusung Dapur Sehat Bunda…karenanya saya tidak menerima tawaran job review dari produk yang tidak sehat menurut kriteria saya, tidak ikut lombanya bila mensyarakat menyertakan foto produk mereka.
    So far aye setuju sama mpok Langit deh… dan akan saya jadikan sebuah pertimbangan dalam menerima dan menolak undangan. Makasi ya mpok…nice sharing

  152. April 3, 2016 at 12:36 am

    Ah saya mah santai. Dateng ke event biasanya karena kangen dan pengen ketemu temen-temen, bukan karena mikirin dapet benefit atau nggak, dapet amplop atau nggak (wait, what?!), dibayar atau nggak, karena tujuan saya dateng ke event memang bukan untuk itu sih πŸ˜€

    Aduh kok repot sekali jadi blogger ya? Seolah-olah ini profesi yang paling gimanaaaa gitu di dunia ini. Banyak sekali rambu-rambunya. Pusing saya, mbak :)))

  153. Donna Imelda-Reply
    April 3, 2016 at 7:24 am

    Sejak dulu, sejak terjun ke dunia kepenulisan, saya belajar banyak tentang bagaimana menempatkan diri menjadi perahu kokoh yang mengapung dan punya kendali sendiri, bukan hanya menjadi gelondongan kayu yang terseret arus lalu tenggelam. >>> Nih… ini kuncinya. *kalo gue sih ya heheheh….

  154. April 3, 2016 at 12:14 am

    Setujuhhh sama komen ini hihihiiiii

  155. April 2, 2016 at 11:54 pm

    Hahaha istilah baru “blog kost kost an” seperti biasa. Cetaarrr

  156. April 2, 2016 at 11:49 pm

    Adem banget baca artikel ini mbak. Keren!
    Thanks for reminding us as a blogger!
    Eh tapi aku masih blogger nggak ya? *menatap nanar blog yang terabaikan*

  157. April 2, 2016 at 11:38 pm

    Senang sekali membacanya

  158. April 2, 2016 at 8:02 pm

    wah ulasan yang lengkap bisa jadi masukan

  159. April 2, 2016 at 7:03 pm

    Finally, ada yang 'menyuarakan' isi hatiku. Halah. πŸ˜‰ Anyway, aku juga pernah begitu terobsesi harus hadir ke acara ini-itu, tapi lama-kelamaan malah berantakin hidupku sendiri.

    Iyap, harusnya blog itu bukan jadi 'media online' dengan rentetan tulisan ulasan melulu kecuali kalau memang berencana bikin portal.

  160. April 2, 2016 at 6:40 pm

    akhirnya bisa baca juga..
    Mantap tulisannya. *Untung udah jarang datang ke event πŸ˜€

  161. April 2, 2016 at 5:41 pm

    Tapi aku seneng lho ikut ODOP walau sering keteter. Seneng nulisnya, nggak ada ketentuan dan nggak harus menang kayak di lomba. Hahaha.

  162. April 2, 2016 at 5:38 pm

    Jadinya malah konflik horizontal ya, padahal mah sayang.

  163. April 2, 2016 at 5:35 pm

    Dulu aku masih datang-datang aja, temanya belakangan. Sekarang mulai selektif. πŸ˜€

  164. April 2, 2016 at 5:24 pm

    Ini niatnya tip hemat, kenapa jadi begini yak? >.<

  165. April 2, 2016 at 5:17 pm

    Diplomatis ini tulisannya. Keren El!
    Yuk atuh urang ka tahura deui, eh ka Stone Garden weh yuk πŸ˜€

  166. April 2, 2016 at 5:06 pm

    Balik lagi ke alasan jadi blogger ya haha. Datang acara sesuai tema itu wajib banget buat saya. Bagian yang ilmu menanam padi bikin ngakak.

  167. April 2, 2016 at 5:00 pm

    Sebenarnya jengah ya ngomongin aktivitas blogger lain. Aku pernah tanya, masa iya dirumah nggak berantakan ditinggal event hampir tiap hari, ibu2 jam 23.00 masih livetweet launching dan jalan2 keluar kota cuma jeda sebentar2 aja. Tapi malah dibilang nyinyir, menghakimi, dll. Padahal itu bukan karena keluargaku perfect, justru krn enggak maka aku pengin teman2 lain hati2. Tapi ya gitu deh, dibilangin pada nggak bisa, ya terserah aja kalau pada mau berantakan. Syukurlah kamu nggak mau begitu.

  168. ulu-Reply
    April 2, 2016 at 10:47 pm

    Wah hatur nuhun, teh! Nama saya disebut hahahaha. Padahal saya kalo komen nolak gitu gak enak juga sih. Awalnya dulu nolak2 pake alasan palsu, ada acara lain padahal mah gak ada. Tapi sekarang saya lebih berani nolak dgn alasan emang temanya gak sesuai. Temanya bukan kepribadian saya banget sih, gak suka hahahaha. Ternyata kalo saya lebih berani nolak pake alasan tema gak cocok, saya gak ditag-tag undangan acara random lagi hahahaha.

    Saya setuju dengan semua isi tulisannya hahahaha. Yang saya sadari sekarang, my path (atau our path) as a blogger bisa jadi gak sama dengan blogger2 yg lain. Beda cara, beda pilihan. Kesadaran lainnya sih saya pengen punya daya tawar, punya kualitas sebagai blogger yang harganya gak receh karena emang saya pengen dibayar mahal.

    Makanya punya sikap itu perlu, serius dan mau mengembangkan diri juga wajib banget, sebagai bagian dari edukasi brand sekaligus sebagai daya tawar kalau ada yg tertarik pake jasa saya. Begitulah hehehhe. Tulisannya tajam banget, kalau saya yang nulis pasti urang beak, teu wani urang mah hahahhahaa nuhun sudah mewakili suara hati saya juga, Teh!

  169. April 2, 2016 at 3:17 pm

    Hm… sangat merasa diingatkan.

    Makasih Mba.. πŸ™‚

  170. April 2, 2016 at 2:46 pm

    banyak job beda provider itu berarti gak boleh ya mbak… ooo.. *nyimak*
    oh iya, boleh ajarin aku tentang infografis nya gak? gratis ya… #eh

  171. April 2, 2016 at 2:11 pm

    Saya kehabisan kata. Superrrrrr!

  172. April 2, 2016 at 1:55 pm

    Baru beberapa hari lalu saya mutusin buat lebih straight sama ngambil keputusan datang ke acara apa pun. Eh, pas banget malam ini baca artikel ini πŸ™‚

  173. April 2, 2016 at 1:26 pm

    Love it kak eL. Supeerrr :* *bacanya pelan-pelan sambil menghayati

  174. April 2, 2016 at 12:33 pm

    Iya saya setuju di point benefit apa yg blogger dapatkan. Banyak juga brand yg ngajak jalan2 berhari2, semua dibayarin, tapi ga kasih uang harian. padahal ini juga penting.

  175. April 2, 2016 at 12:20 pm

    Bunda suka banget isi tulisan ini, objectif banget. Alhamdulillah, bunda selama ini sudah mengambil langkah yang benar karena mengikuti event-event kebanyakan yang berkaitan dengan Penulisan. Bunda penulis pemula berusia Senior, hehe… Disamping itu bunda mengikuti event untuk menjaga agar my brain selalu fresh, untuk menjaga jangan sampai otak bunda cepat beku. Mengemai uang lelah itu nomor kesekian. Yang penting bunda bisa enjoy. Juga menengenai transport selalu yang paling ekonomis yaitu “ngojek” sejauh apa pun. Taksi sekali-seali karena atas desakan dari anak yang mengkhawatirkan “ketuaan” bunda, hehe…

  176. April 2, 2016 at 12:18 pm

    Whoaaah curhatnya panjang πŸ˜€

  177. April 2, 2016 at 11:57 am

    Teh, kemarin ilmunya kurang, itu nulis panjang-panjang begini idenya dari mana wkwkkk
    Kalo aku milih alasan pergi ada tiga, ada kesempatan buat Hana senang2, sesuai tema blog, dan yang terakhir ilmu lah. itu harus, nggak bisa ditawar. Makasih diingetin Teh

  178. April 2, 2016 at 11:25 am

    Hahaha kalau teteh nulis ini tahun kemarin, aku berasa digampar hahaha.

    Untungnya sekarang sudah tobat, datang ke event blogger yang memang menghasilkan, gak cuma seseruan datang.

    Dan tulisan teteh bener banget, setujuuuu…

  179. April 2, 2016 at 11:05 am

    Dapat ilmu baru lagi… loyal terhadap satu brand… okey Teteh.. makasih yaa buat ilmunyaaa…

  180. April 2, 2016 at 10:34 am

    Ah tulisan keren…

  181. April 2, 2016 at 10:32 am

    *Angguk angguk*

  182. April 2, 2016 at 10:31 am

    Panjang ulasanya tapi aku baca semya lho, jadi walau blogger pemula tetep harus punya harga diri biar brand2 itu nggak seensknya

  183. April 2, 2016 at 10:30 am

    Ah aku suka isi tulisannya

  184. April 2, 2016 at 10:09 am

    Makasih sharingnya mbak…nutrisi buat saya yang belum pernah ikut acara blogger…

  185. April 2, 2016 at 10:00 am

    Baru sadar kalo blogger itu digital entrepreneur. Nge plak diri sendiri T.T

  186. April 2, 2016 at 9:57 am

    100 untuk teteh. dah itu aja.. πŸ™‚

  187. April 2, 2016 at 9:57 am

    bersatulah blogger2 Indonesia, udah kyk pejuang 45 kak El πŸ™‚

  188. April 2, 2016 at 9:50 am

    Pas banget mbak….namun utknsmentara ini emang sering ketemunya dengan orang yang itu itu juga… Tapi slama mayerinya keren, okelah dulu 😎

  189. April 2, 2016 at 9:42 am

    Terimakasih sharingnya Mbak, pelajaran banget buat saya. Tulisannya menginspirasi utk blogger pemula seperti saya πŸ™‚

  190. April 2, 2016 at 9:41 am

    Keren tulisannya inih…
    Sukaa banget Ceu Uchan…

    Tiap blogger punya passionnya masing2, asal jangan dijadiin tmpt mendulang emas aeee
    Karena buat eykeh Ngeblog have fun deh, sakasampeurna.. kalo ada event ya tempat sosonoan hahhaa..

    Nuhun ceu, reminder buat akuh juga dan semuanya

  191. April 2, 2016 at 9:37 am

    Setuju banget terutama pas yang bagian mengudaksi brand

  192. April 2, 2016 at 9:30 am

    Inilah yang bikin saya sampai saat ini belum memutuskan untuk menghadiri acara Blogger hahahaha.
    Selain alasan tema, jarak dan budget juga jadi alasan sih

  193. April 2, 2016 at 9:16 am

    two thumbs up buat Unchan…
    suka bnget sama artikel ini. mengedukasi sekali untk bisa jadi blogger yang pintar. *eh
    Insyaallah… hhee
    ijin share ya, teh ^_^

  194. April 2, 2016 at 9:14 am

    Typo pas lihat rundown acara dan isi acaranya kurang berbobot buat aku.

  195. April 2, 2016 at 9:13 am

    Aku sekarang selektif ikutan acara blogger. Walaupun diundang anggota dewan dan nginep di hotel skip kalau rundown acaranya nggak berbobot.

  196. April 2, 2016 at 9:01 am

    Komplit dan selalu “bergizi”.

  197. April 2, 2016 at 9:01 am

    Komplit dan selalu “bergizi”.

  198. April 2, 2016 at 3:56 pm

    “Anda bahkan lupa cara menulis sambil bersenang-senang.”
    ini nih..ODOP jadi bikin nulis kejar setoran, nunggu anak tidur
    tapi tetep semangat ikut sampai akhir…

  199. April 2, 2016 at 8:50 am

    sip..banget dah.., untungtnya ngeblog ditempat mencil gini..jadi suka-suka….. dan ga berasa tersinggung.. walaupun mau senggol bacok mhhahaa..

    apa pun yang dishere..ambil baiknya..buang paketnya..

  200. April 2, 2016 at 8:40 am

    Cetar sekali memang artikel ini, Teh ^o^

  201. April 2, 2016 at 8:38 am

    Kereeeeen ulasannya teh
    Aku jugaaa pilih2..padahal rumahku tangerang jakarta doang bisa naek krl…tp yg kupertimbangkan apa ongkos transpot cukup klo rajin ikutan event tp ga sesuai benefit yg didpt…

  202. April 2, 2016 at 8:38 am

    Di kotaku mah jarang ada event kayak di kota besar..jadi kalo pas ada undangan, cocok waktunya diusahakan datang. Kecuali kalo temanya melenceng jauh dari apa yg biasa aku tulis ya aku nggak mungkin datang.

  203. April 2, 2016 at 8:30 am

    Top tulisannya mba .. suka banget bacanya trrutama yg bagian kode etik alias etika itu. Emang sih ngejar benefit tapi bukan berarti semua tawaran diterima mentah2 yA. Thanks for sharing

  204. April 2, 2016 at 8:14 am

    Aku mah banyak nolaknya, wong blog aku isinya makanan semua :3

    Makasih sharingnya, Ceu. Love this.

  205. April 2, 2016 at 10:53 am

    Sejak beberapa bulan ini, aku akui sih, agak selektif untuk ikutan acara undangan untuk blogger. Menghitung untung ruginya, secara ada anak sama suami jg yg punya waktunya, ya pas weekend. Apalagi kalau acaranya pas ngajar, mikir dua kali. Kecualiiii… Kalau temanya bagus, baruuu, ijin πŸ˜€

  206. April 2, 2016 at 10:37 am

    tulisan cakep inih..intinya, menulislah dengan hati n hati2..bukan karena pesanan brand semata..#eh

Leave A Comment