ARE YOU FEEL SUCK WITH YOUR JOB? YES I AM

“Kerja adalah cinta yang mengejawantah”

Gibran

==

Setiap kali mengirimkan resume, aku selalu menulis seperti ini di bawah poin karakter:

  • hardworker
  • enthusiatic person
  • fast learner
  • high motivation
dan yaaa… janji-janji muluk lain yang akan membuat si pemberi kerja ngiler. Aku tidak tahu bahwa janji-janji itu akan berbalik menjadi bumerang bagiku.

Yes, I am hardworker. Yes, I am fast learner and high motivation person. But I’m not write if I am a single parent, am I? It means, single parent itu butuh duit buat ngasih makan anak, bukan butuh kerjaan yang menyiksa. Huhuhuhuh… T_T
Kerja bagiku adalah ajang aktualisasi diri. Agar otakku dapat terus berfungsi dan beregenarasi. Tapi memamah sekian banyak dokumen dengan gaji pas-pasan akan membuat siapa saja menggerutu, cepat atau lambat. Including me the hardworker person.

Ya ya ya, rezeki itu ada yang ngatur, bukan?

Tapi mari kita telaah poin-poin yang membuat aku bosan sebagai ‘hardworker person’ ini:

  1. Jam kerja aku 47 jam per minggu ==> lebih 7 jam dari yang dianjurkan disnaker.
  2. Setiap hari lembur selama 3 jam ==> for free a.k.a loyalitas a.k.a nggak dibayar.
  3. Setiap hari setelah lembur itu, seringkali bawa kerjaan ke rumah ==> begadang, anak nggak keurus, mata sembab, dan mood berada di ambang PMS.
  4. High preassure ==> kalau bandeng di presto mah jadi enak, nah kalau orang diberi terlalu banyak tekanan malah stess. Jadinya setiap weekend aku membutuhkan waktu untuk dekompresi dengan cara hibernasi.
  5. GAJI ==> Ini masalah paling krusial, padahal telah dijanjikan setelah 3 bulan masa percobaan, kalau kerja aku bagus, gaji bakalan di-adjust. Well, sekarang emang udah di-adjust, tapi telat. Tapi lagi, alhamdulillah ^^
Meskipun demikian, I enjoy my job so much. Memang pada dasarnya aku workaholic dan jiwa buruh. Jadi walau nggak mau lembur pun, kalau melihat kerjaan di meja masih numpuk, ya dikerjain juga.

Tapi akhir-akhir ini aku dilanda sebuah kebosanan yang tidak bisa didefinisikan (lebay). Entah kenapa jadi males masuk kantor, maunya ngendon di rumah, baca buku, pergi ke salon, arisan, clubbing, nongkrong di cafe….(stop!) itu bukan aku, bukan aku!

Ada yang menyarankan aku untuk cuti dan liburan ke Singapura atau ke Lombok sekalian bulan madu dengan Vino Bastian (again?). Tapi apa daya, bujuk rayu backlogs dan e-mail-email persuasif dari buyer selalu membuatku liur dan luluh. Balik lagi ke meja, balik lagi ke meja. Gituuuuuu…

Nggg…untuk memotivasi diriku sendiri, sebaiknya aku juga membuat list yang membuat aku betah kerja, cekidot:

  1. Aku sudah menguasai bidang kerjaku ==> bukan expert, tapi cukup bisa diandalkan.
  2. Teman kantor yang asyik ==> Setiap hari ketawa-ketiwi sambil ngomongin tempat spa dan karaoke yang keren. Hahahaha…
  3. Punya atasan yahud ==> Si Ibu yang satu itu emang pekerja keras, pinter, ulet, dan ESQ-nya jempolan. Pokoknya perfect lah.
  4. Letak geografis ==> Tidak terlalu jauh dari rumah jadi nggak capek di jalan walau macet gila-gilaan.
  5. Ada bis jemputan ==> Berguna di tanggal tua jika kehabisan ongkos, walau sebenarnya jarang kugunakan karena selalu kesiangan (Yeah, blame me on this)
  6. Dikasih makan siang ==> Berupa ikan asin, sesekali telor rebus bumbu cabe, kadang goreng (anak) ayam. Hahaha… It’s okay sih karena pada dasarnya aku mah si pemakan segala.
  7. Ada warung Teh Imas di samping PT ==> Tempat ngutang, tempat nongkrong dan bergosip dengan bapak-bapak setiap makan siang (ya, aku gaul dengan bapak-bapak^^)
  8. Uniform casual ==> berupa hem putih dan celana jeans, gue banget gethooo lhooo…
  9. Antaran lembur ==> pake mobil dinas berupa Innova, Avanza, dan lain sebagainya. Dianter sampai depan gang sehingga sering membuat tetangga salah paham.
  10. Perusahaan ini menerimaku sebagai staf meski aku hanya lulusan SMK sementara perusahaan lain menolakku begitu saja. That’s the most important thing.

Setelah menimbang, mengingat dan memutuskan, sepertinya aku batal ‘pindah lapak’ karena walau bagaimanapun perusahaan ini telah berbaik hati memberiku kesempatan untuk belajar dan mengembangkan karier. Yeah, cari kerja di Bandung yang berpenduduk jutaan sementara lapangan kerja cuma ribuan itu susah.

Mungkin aku harus mempertimbangkan untuk cuti dulu selama beberapa hari dan kabur bersama Vino ke Eropa untuk menikmati summer camp atau apa dulu (teuteup? bawa-bawa? Vino?)

Ah sudahlah, toh aku juga betah kerja di sana. Suck and tired just temporary, bentar juga sembuh lagi.

Please feel free to share

Leave A Comment