Bagaimana Rasanya Jika Suami Anda Dicuri?

“Bagaiamana jika suami Anda dicuri?”

Kalimat itu dilontarkan seorang perempuan kepada saya di sela-sela obrolan ringan yang malah menjurus ke topik paling rentan; poligami. Saya tidak bisa menjawab, saya tidak bisa memberikan pendapat. Karena jawaban saya tentu tak akan jauh-jauh dari kata ‘bakar’, ‘pencit’, dan sesuatu seperti itu. Jika pertanyaan seperti ini diajukan beberapa tahun yang lalu, barangkali saya akan berkata ‘Memangnya kenapa? Perempuan lain itu kan hanya ingin kamu berbagi’. Tapi tidak hari ini, saat ini pertanyaan itu lebih sulit dijawab daripada pertanyaan mengenai berapa jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh saya. 

Seorang teman yang lain pernah berkata, selama ini para perempuan sering salah. Yang sering menyakiti perempuan bukanlah laki-laki melainkan para perempuan itu sendiri. 

Pemikiran seperti itu membawa saya kepada pemahaman bahwa manusia -terlepas dari gender- adalah makhluk bebal yang rela menjajah dan menumpahkan darah untuk kesenangannya sendiri. Kekuasaan, jabatan, harta, cinta, adalah motivasi yang seringkali membuat manusia lebih hewan daripada hewan. Ini bukan hanya masalah egoisasi, bukan hanya masalah empati. Ini masalah nurani. 

Perempuan itu, masih dengan isak kembali berbicara.

“Rasa sakit yang pernah saya rasakan mungkin tidak pernah kamu rasakan. Tapi kamu perlu tahu bahwa sakit ini tidak akan pernah hilang.”


Tidak, saya ingin berkata tidak! Saya ingin berlari kepadanya dan melarungkan pelukan, mengurangi rasa sakit yang tengah ia rasakan. Saya ingin berkata bahwa saya tahu, iya saya tahu. 
Saya tahu apa yang ia rasakan, saya tahu pedih seperti apa yang sedang mengeram di dadanya. Saya tahu luka seperti apa yang tengah menganga dan menjajah pertahanan air matanya. Saya tahu, percayalah bahwa saya tahu. 

Cinta adalah entitas paling besar yang pernah kita temukan, namun sebesar apa pun ia, kita tak pernah ingin berbagi. Apalagi jika cinta itu dicuri. 

Perempuan mana yang akan bertahan dari tikaman bayang-bayang ketika suaminya mengirimkan berbagai pesan mesra kepada perempuan lain? Ketika suaminya menyentuh perempuan lain? Ketika suaminya berbagi selimut dengan perempuan lain. Tidak akan pernah ada perempuan yang bertahan. Saya tidak akan bertahan. Tidak akan pernah. 

Kita, para perempuan, ternyata adalah musuh bagi kaum kita sendiri. Sekarang saya yang ingin bertanya kepada Anda, BAGAIMANA RASANYA JIKA SUAMI ANDA DICURI?

3 Comments

  1. October 21, 2013 at 7:24 am

    Belom punya suami, ntar aja dijawabnya. Etapi, jangan sampeeee…

  2. October 23, 2013 at 1:57 pm

    *berfikir* *menebak-nebak segala kemungkinan*

  3. November 1, 2013 at 11:37 pm

    biasa aja..karena saya tidak pernah merasa memiliki,jadi segala sesuatu yang diambil oleh seseorang tidak terlalu menjadi masalah buat saya..

Leave a Reply