#BahagiadiRumah, Perjalanan Mencari Tempat Pulang

Bahagia, tak ada satu orang pun yang mampu mendefinisikan kata ini dengan tepat, tidak pula saya. Sebab bahagia bagi setiap orang selalu memiliki klausul yang berbeda. Hal yang membahagiakan bagi saya belum tentu membahagiakan pula bagi Anda, pun sebaliknya.

Lalu rumah, apa definisi rumah sebetulnya? Tempat berlindung dari terik dan badai? Sebuah bangunan yang berdiri megah? Ataukah sekadar tempat singgah? Sama dengan bahagia, kata ini juga memiliki definisi yang berbeda-beda.

RUMAH BAGI SAYA

Hingga usia 30 tahun, saya adalah seorang pejalan, perempuan yang terseok-seok dari satu stasi ke stasi lainnya hanya demi mencari sesuatu: tempat pulang. Tadinya saya berpikir bahwa rumah adalah sebuah pernikahan, tempat bahu lelaki bernama suami berada, tempat ketika setiap pagi saya bisa menyajikan secangkir kopi, tempat saya bisa berlindung dari amuk gelombang kehidupan. Tapi saya salah.

Pernikahan tak memberikan apa-apa kecuali lebam dan bekas luka yang sampai hari ini sukar untuk hilang. Bertahun-tahun, saya hidup dengan suami pemabuk, tukang pukul, dan yang terakhir, suami saya pergi bersama perempuan lain.

Namun, perjalanan saya mencari rumah tidak berhenti sampai di situ. Saya tidak lagi mencari, melainkan “membangun” rumah saya sendiri. Tahun 2014, ketika usia saya sampai di angka 31, hanya lebih tua 3 tahun dari Tabloid Nova yang tahun ini merayakan NOVAVERSARY, ulang tahunnya yang ke-28, saya memutuskan untuk “membangun” rumah sendiri.

MEMBANGUN BAHAGIA

Awal tahun 2014 itu, saya tengah mengandung anak ketiga. Dengan hanya berbekal baju, buku, dan komputer, saya memutuskan untuk ngekos di Cimahi. Tentu saja sendirian karena anak pertama saya masih tinggal bersama orang tua saya di Bandung, sedangkan anak kedua saya sudah meninggal bertahun lalu.

Saat itu saya tengah patah hati, ayah dari anak saya pergi entah ke mana. Maka dengan hati yang masih patah, saya berusaha membangun kebahagiaan saya sendiri. Tidak mudah membangun kebahagiaan sekaligus menemukan rumah bagi saya dan janin yang tengah saya kandung. Saya harus hidup serba hemat, tidur di atas sleeping bag karena waktu itu belum bisa membeli tempat tidur, dan menahan rasa sakit hati ketika setiap orang bertanya tentang bapak anak saya.

Tapi hidup cukup berbaik hati pada saya. Dengan bekal komputer itulah saya belajar untuk survive. Belajar untuk mulai membangun kebahagiaan saya sendiri. Seperti yang sering dikatakan oleh guru ngaji saya ketika kecil, mereka yang terus-terusan berusaha suatu saat akan menemukan pintu rezekinya.

Dalam rangka membangun kebahagiaan itulah, selama dua tahun saya mengusahakan beberapa hal:

1. Mengoptimalkan Keahlian

Seorang perempuan berusia kepala 3 dan hanya lulusan SMK tentu tak mudah mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Lagi pula, bekerja di luar rumah adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan. Saya ingin tetap bekerja dan memiliki penghasilan tanpa meninggalkan rumah, meninggalkan anak-anak saya. Maka seperti panduan karier yang saya baca di Tabloid Nova, saya mulai mengoptimalkan berbagai keahlian yang saya miliki. Salah satunya di bidang tata letak buku.

Pertengahan tahun 2014, saya beruntung karena diminta untuk menjadi penata letak lepas di sebuah penerbitan major. Itu adalah kesempatan besar yang tak mungkin saya sia-siakan. Saya pun terus belajar tentang seluk-beluk tata letak buku, membaca berbagai tutorial, menyempatkan waktu untuk berlatih setidaknya 2 jam sehari. Well, sampai hari ini pun saya masih tetap latihan.

2. Mencoba Bertarung di Ranah Baru

Membuka online shop yang menjual sepatu dan tas khusus produk lokal Bandung bagi saya adalah sebuah “perjudian”. Saya yang selalu berpikir tidak pernah bisa jualan akhirnya berhasil mengalahkan stigma yang saya jejalkan ke dalam kepala sendiri. Meski omzetnya belum sampai berjuta-juta, tapi sampai hari ini online shop masih berjalan dan terbukti berperan serta dalam membangun kebahagiaan. Kebahagiaan saya maupun kebahagiaan para kustomer.

3. Membuka Pintu Baru

Dulu, blog ini hanyalah sebuah buku harian, blog yang entah memiliki pembaca atau tidak. Sejak bulan September 2015, blog yang saya miliki ini memiliki fungsi lain. Saya menganggapnya sebagai pembuka pintu rezeki yang lain.

4. Berdamai dengan Luka

Untuk terus berbahagia, di luar maupun di rumah sendiri, saya harus siap berdamai dengan hal-hal yang membuat hati saya sakit. Dua tahun belakangan, saya tidak lagi bertanya tentang berbagai macam cobaan yang diberikan Tuhan. Saya justru menganggapnya sebagai ekspresi kasih sayang. Dengan begitu, saya selalu diingatkan untuk tidak berpegang dan meminta tolong kepada hal lain kecuali kepada-Nya.

Saya tidak lagi bertanya mengapa ayah anak saya pergi atau mengapa pernikahan saya selalu berakhir dengan perpisahan. Saya sudah selesai dengan itu, yang perlu saya lakukan adalah berdamai dengan semua rasa sakit lalu melanjutkan hidup.

5. Bahagia dengan Apa yang Saya Miliki

Saya punya tempat berteduh, tempat untuk melepas lelah. Saya bekerja di bidang yang saya cintai. Saya punya anak ketika perempuan lain mungkin belum diberi rezeki. Saya punya segalanya. Maka saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Karena setiap manusia yang hidup di muka bumi memiliki rasa sakit mereka masing-masing, yang membedakan hanyalah ada yang terus mengeluh, dan ada yang bersyukur.

BAHAGIA DI RUMAH

Hari ini, ketika saya mengingat kembali masa-masa ke belakang, akhirnya saya bisa menemukan definisi sendiri tentang rumah dan kebahagiaan.

1. Bahagia di Rumah Adalah …

Ketika saya bisa mengatakan, “Di sinilah rumah saya.” Iya, di sinilah rumah saya, kamar kos berukuran 4×4 meter yang menjanjikan perlindungan terhadap terik dan hujan. Kamar yang selama dua tahun ini menjadi saksi hidup saya dan Aksa, saksi betapa kami tidak pernah berhenti berjuang.

Kamar kos yang setiap hari saya jaga kebersihannya agar menjadi tempat tinggal yang sehat bagi saya dan Aksa. Kamar kos tempat rak buku favorit saya berada, rak yang saya isi dengan buku yang saya beli dengan keringat sendiri.

Di sinilah rumah saya, tempat kos penuh tanaman yang membuat udara selalu segar. Di sinilah rumah saya, kamar kos dengan teras tempat Aksa memarkir sepeda roda tiga kesayangannya.

2. Bahagia di Rumah Adalah …

Ketika saya berada di tempat yang tepat. Tempat saya berdiri tegak layaknya karang. Menjadi bahu dan punggung bagi anak-anak saya. Tempat saya bisa berkarier tanpa harus meninggalkan mereka.

Berpuluh tahun silam, ketika saya masih kecil, saya punya sebuah buku harian yang di dalamnya berisi mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan. Penulis, desainer, dan fotografer adalah di antaranya. Tapi ketika keluar sekolah dan tidak punya biaya untuk kuliah, mimpi-mimpi itu seakan padam. Mungkin itu sebabnya mengapa saya memutuskan untuk menikah, berusaha mencari kebahagiaan di jalan lain.

Tapi di sinilah saya hari ini, berada di garis nasib yang tepat. Satu demi satu mimpi masa kecil telah saya wujudkan. Menjadi penulis, iya. Menjadi desainer, iya. Menjadi fotografer? Sekarang saya sedang belajar memotret.

Iya, saya bahagia di rumah ini, tempat saya membangun mimpi-mimpi.

3. Bahagia di Rumah Adalah …

Ketika saya bisa menyaksikan anak saya lahir dan tumbuh. Ketika saya ada saat Aksa mengucapkan kata pertamanya, saat ia memulai langkah pertamanya, saat ia belajar tentang hidup.

Inilah rumah saya, kebahagiaan saya. Tempat saya menjadi bapak, menjadi ibu.

4. Bahagia di Rumah Adalah …

Ketika saya berada di tempat yang membuat saya merasa aman dan nyaman. Tempat keluarga kecil saya berada. Tempat orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya berada, bersama saya.

♥♥♥

 

Hidup, sejatinya memang sebuah perjalanan untuk mencari tempat pulang. Seperti halnya Nova yang sudah semakin dewasa di usianya yang ke-28 ini, saya yakin tabloid yang kerap saya baca sejak masih kecil ini pun sudah melalui banyak sekali tantangan dari tahun ke tahun. Pun dengan saya, sebagai perempuan, sudah banyak peristiwa yang saya mamah.

Tapi, hari ini, ketika saya sudah menemukan rumah, bahagia tak lagi terletak di langkah kaki. Kebahagiaan saya yang sesungguhnya berada di dalam sini. Sebab bahagia bukan di mana, tapi dengan siapa kita melewatinya.

Cheers,
~eL

63 Comments

  1. May 30, 2016 at 7:13 am

    semangat mbak untuk berbahagia ke depan, kalo capek ketemu anak rasanya udah ilang kabeh

  2. May 30, 2016 at 2:15 pm

    Aku speechless…
    Anak adalah alasan kenapa kita harus selalu bahagia ya teh

  3. May 30, 2016 at 7:16 am

    kenapa aku jadi ikutan terharu ya Teh bacanya. Salut lah sama ketegaran Teteh El.. Tetap semangat menjalani hidup ya teh

  4. May 30, 2016 at 7:18 am

    waow… bahagia di rumah adalah… ketika kita berdiri di tempat yang tepat..
    …..
    waow postingan ini bener bener menggambarkan bagaimana usaha seorang wanita tangguh dalam menghadapi beratnya hidup ini.. waow..

    btw mbak boleh tahu nama font yg dipake di gambar?? pas banget ama seleraku tuh..heehehe

  5. May 30, 2016 at 7:18 am

    Aku yakin mbak El sudah bahagia. Bahagia karena sudah berhasil mengalahkan kesedihan masa lalu

  6. May 30, 2016 at 7:21 am

    yang paling saya suka “bahagia dengan apa yang kita miliki”

    Karena kadang orang tidak merasa bahagia dengan apa yang mereka punya

    tapi meras memiliki setelah kehilangan yang mereka punya

  7. May 30, 2016 at 7:26 am

    Iya, anak-anak adalah penyembuh 🙂

  8. May 30, 2016 at 7:29 am

    I will, o/
    Teh Rani juga ya, da mamah-mamah mah harus setrong dan cemungudh eaa clalu. *ini napa jadi alay, yak?

  9. May 30, 2016 at 7:31 am

    Itu font Futura Familly. Aku pake 3: Futura, Futura Md BT,dan Futura Light.

  10. May 30, 2016 at 7:32 am

    Iya, saya bahagia dengan apa yang saya miliki sekarang. 🙂

Leave a Reply