Bandung di akhir pekan adalah refleksi bagaimana seharusnya sebuah kota besar berjalan; penuh, macet, sesak, dan pengap. Ya, seakan-akan semua kendaraan di seluruh penjuru kota ditumpahkan oleh udara, berlomba, berdera, memenuhi jalan raya. 

Polutan adalah sahabat lekat di hari Sabtu dan Minggu. Berjibaku menusuk setiap paru-paru. Tiada ampun bagi siapa saja yang nekad berkeliaran di jalan-jalan pada hari itu. Wajah-wajah yang ditemui berusaha menyembunyikan kesal, terjebak dalam berbagai amsal. Wajah-wajah itu, yang berderet di bawah plang jalan dan papan iklan, atau terjebak dalam berbagai kendaraan merindukan kekosongan, lari dari segala macam keributan. Pulang kepada harapan akan sebuah kota yang nyaman.

Namun Bandung sendiri semisal gadis yang tengah berahi, berdandan sedemikian rupa untuk menyambut setiap tamu; pendatang atau bukan. Dinyalakannya lampu-lampu dan papan penuh pertanda menuju kesenangan. Wisata belanja, tempat penginapan, malam-malam yang tak terlupakan; apapun hingar bingar yang bisa disediakan oleh sebuah kota besar. 

Di akhir pekan, Bandung sudah menjadi kota tujuan berbagai orang yang ingin menghabiskan liburan. Mobil-mobil dengan berbagai plat nomor dari luar kota berkunjung, saling menikung, menciptakan udara pengap oleh mendung. Sabtu dan Minggu sudah menjadi semacam ritual relaksasi sekaligus eksekusi bagi penduduk Bandung sendiri. Sekresi dari segala ekspektasi.

Infrastruktur, jikapun hal ini masih bisa diperbaiki adalah apa yang kita sebut amaran peradaban. Bila Bandung diibaratkan seorang gadis, maka jejalan adalah bedak dan gincu murahan; penuh lubang, sesak, dan mengkhawatirkan. Jalanan di kota ini sudah tidak bisa lagi menampung segala macam muntahan kendaraan, sudah waktunya menata dan berhenti menjadi kota yang tertatih-tatih hanya demi sebuah pengakuan. 

Lihat itu! Akhir pekan menjadi semacam ladang cacian ketika orang-orang mengeluh, mengaduh, berpeluh, tapi sama sekali tak melakukan apa-apa kecuali menelan dan berdiam. Tata kota sudah menjadi isu sosial berdampingan dengan kemiskinan; sama sekali tak bisa dipecahkan. Berbagai solusi yang ditawarkan dan sempat dipikirkan pada akhirnya hanya jadi wacana dan utopia tersendiri. Tak ada realisasi. 

Anehnya, ketika Bandung menjadi kota yang banyak dikutuki bahkan oleh orang-orang yang datang dari luar kota, namun kota ini selalu dirindukan, selalu menjadi tujuan di setiap kesempatan. Entah apa yang menarik, tapi kata mereka kota ini masih cantik. Meski jika diingat-ingat, Bandung yang dulu benar-benar kota elok dan pesolek kini hanya jadi kota yang mampu bersolek tanpa melihat warna yang tepat. Padahal, dari waktu ke waktu keramaian semakin tak terkendali, Bandung menjadi kota yang lupa diri. 

(Cibiru, Minggu 6 Mei 2012)

Leave a Reply