Seakan infotainment saja belum cukup, seakan sinetron pembuat sakit jantung saja belum mengesalkan, seakan reality show yang tidak real saja belum memenuhi kuota untuk membuat orang bunuh diri, maka mulai sekarang bermunculan lagi lah tayangan-tayangan horor di layar kaca kita.
Barangkali Anda masih ingat ketika beberapa tahun yang lalu di televisi muncul satu acara yang isinya mencari mahluk halus dengan cara menempatkan sukarelawan di sebuah tempat yang dicurigai banyak ditemukan penampakan. Itu baru satu, kemudian muncul lusinan acara lain dengan tema yang sama meski dikemas dengan diversifikasi asal-asalan. Setelah masyarakat Indonesia melalui KPI memprotes, tayangan-tayangan menyesatkan itu dihentikan.

Tapi sekarang tayangan-tayangan itu muncul kembali. Meski formatnya lebih ‘light’, tapi tetap saja itu semua adalah perpanjangan durasi dari acara-acara pendahulunya dan memiliki benang merah yang sama: mahluk halus.
Mula-mula satu, lalu beranak pinak jadi lebih dari lima tayangan. Dan itu semua cukup untuk membuat seorang anak jadi pengecut dan orang-orang dewasa dicuci otak.
Bukan! Itu bukan untuk pembuktian. Itu hanya kerjaan para produser yang berusaha menjual apa saja demi iklan yang kemudian bermuara ke ujung yang sama: UANG. KITA SEMUA DIPERBUDAK UANG.
Jika kisah manusia-manusia malang dalam sinetron saja sudah tak laku dijual karena pola pikir masyarakat Indonesia semakin bijak dengan tak lagi jadi manusia-manusia masokis yang keranjingan rasa sakit, maka disodorkanlah aksi-aksi reality show yang dulunya memang benar-benar real tapi semakin hari semakin direkayasa, lagi-lagi demi rating. Rating artinya iklan, iklan artinya uang. Pusaran setan.
Lalu ketika dipergoki bahwa reality show tak lagi real, maka muncul satu acara reality lagi yang bertajuk agama (ini untuk mengelabui MUI dan KPI?). Tapi tahukah Anda bahwa salah seorang pelaku pesugihan itu pernah muncul dalam satu sinetron sebagai peran pembantu dan figuran? Tahukah Anda bahwa Anda telah dan masih dibohongi?
Entah karena KPI kehilangan akal sehat atau negara sudah begitu kehilangan kontrol sehingga acara-acara bertajuk pembuktian keberadaan mahluk halus itu kembali ditayangkan. Indonesia adalah negara kesatuan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu artinya semua masyarakat Indonesia beragama, dan dalam semua agama mengajarkan bahwa mahluk gaib itu memang ada. Mereka hidup di tengah-tengah kita. Tapi apakah dengan begitu kita berhak untuk melakukan pembuktian?
Tukang dagang adalah tukang dagang. Ketika tidak ada barang dagangan yang bisa dijual, maka kepercayaan dan rasa takut pun dipasarkan. Ketika kisah cinta sudah basi di layar kaca, maka giliran hantu-hantu lah yang disuguhkan ke tengah-tengah kita. Dan kita bodoh karena mau menontonnya. Kita bodoh karena mau saja diperalat para tukang dagang itu.
Apa efek positif dari tayangan-tayangan hantu itu, coba? Supaya kita percaya bahwa setan itu ada? Atau supaya kita tahu setan itu seperti apa? Atau supaya kita hati-hati dan jangan cari masalah dengan mereka? Oke, sekarang kita tahu kalau setan itu bisa berupa perempuan berambut panjang dan berpunggung bolong. Lalu apa? Apa gunanya? Apakah dengan begitu kita jadi mulai terbiasa dan tidak kaget jika suatu hari kita bertemu dengan mereka? Tak kenal maka tak sayang, kata pepatah.
Lagipula, rasanya lucu. Tayangan-tayangan itu semua mempunyai maksud yang sama: bahwa ada dunia lain selain dunia fisik yang bisa kita sentuh ini. Dan untuk memuaskan hasrat keingintahuan, maka dibuatlah acara untuk mengetahui bagaimana bentuk mereka, suara mereka, seberbahaya apakah mereka, sembari lari terbirit-birit ketika sudah bertemu. Tolol!
Tayangan-tayangan seperti ini berbahaya bagi akidah, sebenarnya. Selain menyesatkan, acara-acara ini juga membuat orang-orang pengecut semakin pengecut. Dan parahnya lagi, tayangan seperti ini memang dibuat dan didramatisasi sedemikian rupa bukan untuk tujuan mulia seperti mendekatkan diri Anda kepada Tuhan. Bukan, tayangan-tayangan ini dibuat untuk haya satu tujuan: menjual ketakutan. Semakin kita menontonnya, maka semakin naiklah rating dan iklan. Semakin banyak iklan, maka semakin kaya lah mereka yang berada di balik pembuatannya. Sementara kita mendapat apa? Kita hanya akan mendapatkan sugesti yang salah, rasa takut, rasa ngeri, dan kemerosotan iman yang sayangnya tidak kita sadari maupun rasakan.
Salah satu peran kita sebagai penonton adalah bijak dalam memilih. Jangan mau dijejali sugesti. Jauhkan anak-anak kita dan diri kita dari tontonan yang tidak akan memberi manfaat apa-apa selain menambah beban kengerian di dada. Percayalah, mahluk-mahluk halus itu akan tetap ada meski kita menonton mereka di layar kaca.

Leave a Reply