Selain berasal dari rekrutan oleh PT-PT, masyarakat urban di Batam juga berasal dari mereka yang datang kemari atas inisiatif sendiri. Tentu saja bukan untuk melancong atau sekedar berkunjung, melainkan untuk mengadu nasib dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Mereka yang datang ke Batam berasal dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Mulai orang Aceh sampai Papua sana. Indonesia dengan beragam suku, agama, budaya, sosial ekonominya dapat ditemui di sini. Unik memang, karena dengan begitu aku bisa belajar tentang kebudayaan masing-masing daerah tanpa harus jauh-jauh berkunjung ke daerahnya.


Keragaman penduduk juga membuatku belajar tentang adat istiadat dan kebiasaan masing-masing. Belajar bertoleransi dan beradaptasi. Untung saja di sekolah dulu nilai PPKN ku 9,8. Jadi aku adalah orang yang bermoral dan berjiwa “Bhineka Tunggal Ika’ (narsis dot com).



Meski logat sundaku nggak bakalan hilang hingga tujuh turunan, tapi di sini aku membiasakan diri untuk tidak memanggil semua orang dengan sebutan ‘Akang’ dan ‘Teteh’. Jadilah aku terbiasa memanggil mereka dengan sebutan khas daerah masing-masing. Kalau ketemu orang Padang yang kira-kira usianya lebih tua, kupanggil ‘Uni’ dan ‘Uda’. Orang Palembang; ‘Ayuk’ dan ‘Kakak’. Orang Batak; ‘Kakak’ dan ‘Abang’, atau ‘Ito’. Orang Sulawesi; ‘Daeng’, ‘Wa ode’, ‘La ode’. Orang NTB; ‘Dae’, ‘Ina’, ‘Ita’. Orang Jawa: ‘Mas’ dan ‘Mbak’.


Semua suku (maaf, nggak maksud SARA, hanya untuk mengidentifikasi keragaman budaya) mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Dengan begini, aku harus pandai-pandai bersikap. Harus pintar menempatkan diri di lingkungan yang majemuk sehingga tidak terjadi gap budaya. Juga berusaha meminimalisir rasa sukuisme, dengan cara mengedepankan rasa sebagai warga Indonesia yang setanah air. Jadi khasanahku sebagai manusia yang berpancasila semakin kaya. Sepanjang mereka masih mengakui SBY sebagai presiden dan merah putih sebagai bendera pusaka, maka dari suku manapun ia, tetap kuanggap sebagai saudara sebangsa dan setanah air.


Terlepas dari karakter pribadi masing-masing yang kayaknya udah genetis dan nggak bisa dirubah, letak geografis dan stimulasi lingkungan berpengaruh pada pembentukan karakter umum semua suku. Justru inilah yang bikin seru.


Dulu aku heran kenapa ada orang yang mengaku adik kakak padahal berasal dari ibu dan bapak yang berbeda. Ternyata bagi orang Batak, selama satu marga, maka mereka adalah saudara. Di manapun mereka berada. Hebat nggak tuh? Pernah juga sih berniat ngambil marga supaya bisa punya saudara di mana-mana :D.


Seperti yang udah aku bilang sebelumnya, semua suku mempunyai karakter umum yang berbeda-beda. Ada yang bagus ada juga yang kurang bagus. Itu sebabnya di Batam ini, kita harus pandai bersikap netral kalau nggak mau menyinggung perasaan orang lain. Misalnya, jangan coba-coba memanggil ‘Kakak’ pada orang Batak laki-laki yang baru dikenal. Percaya deh sama aku, itu bisa menimbulkan huru hara. Aku juga harus melebarkan hati dan memupuk rasa legowo ketika berinteraksi dengan orang Palembang, karena mereka biasanya tidak ‘menyaring’ kata-kata ketika menyampaikan kritikan. Beda denga kami orang Sunda yang selalu berusaha memilih kata-kata ‘indah’, bahkan ketika sedang marah sekalipun. Jeleknya, kami jadi kebanyakan makan hati dan cepet tua karena selalu memendam unek-unek.


Adaptasi dan toleransi. Kedua kata inilah yang menjadi kunci sukses dalam berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda.


Satu tips dari aku supaya bisa sukses di perantauan: jangan memicu huru-hara yang berbasis suku. Karena selain mengganggu stabilitas keamanan nasional, eh kota, hal itu juga bisa membuat hidup kita nggak tenang. Bisa dengan cara dikeroyok oleh orang-orang se-paguyuban, atau di black list dari peredaran sosial.


So, Batam memang miniaturnya Indonesia. Di sini, berbagai suku bangsa ada. Mau sukses dalam berinteraksi atau malah dikucilkan, semua tergantung kita bukan?


One Comment

  1. May 4, 2009 at 8:03 am

    Kak,
    Emang ya,di indonesia ini banyak banget suku budayanya.Gw smp di Bogor,bahasa mereka yang campuran sunda kasar dan betawi,terdengar kasar di sini : Cirebon.Makanya gw mulai belajar bahasa ini.Tapi,anehnya banyak banget yang make bahasa yang gw pake di Bogor.Padahal gw pingin beradaptasi,bukan mempertahankan.Terus,bener juga.Kita bisa mennyinggung perasaan orang kalau gak tahu bagaimana ciri khas budaya mereka.Disini,di Cirebon ini gw udah liat cukup banyak orang yang tersinggung kalau ngobrol sama orang cirebon juga,tapi menggunakan bahasa betawi (diubah ke gaul).Makanya gw kalau ngomong sama orang,liat siapa orangnya. 😀

Leave a Reply