Nonton acara ‘Be A Man angkatan II’ di Global TV tadi malem mengingatkanku waktu Pusdiklatsar dan asrama dulu. Mengingatkanku pada obesesi masuk Angkatan Laut selulus SMK sehingga mau-maunya disiksa sama Bapak: lari pagi dan sore setiap hari dengan rute Babakan Sukaresik-Sutami-Sukamulya Indah-Babakan Jeruk-Babakan Sukaresik. Belum lagi latihan karate sejak SMP, tiga tahun di Paskibra, dan ikut latihan fisik klub sepakbola Bapak. Eh, pas udah lulus semua persiapan itu tak berguna karena tahun 2001 AL tidak menerima taruna perempuan. Sial!
Selama nonton aku ketawa ngakak-ngakak (sorry ya Jeng kalo gue tertawa di atas penderitaan kalian). Lucu aja ngeliat mereka tergopoh-gopoh ketika disuruh bangun dan langsung senam pagi. Ada yang masih pake rol rambut, ada yang masih pake daster sambil bawa-bawa boneka, kebanyakan cuma pake sendal jepit dengan PDL (Pakaian Dinas Latihan) awut-awutan, sementara sepatu boot malah ditenteng-tenteng, bukannya dipake. Wuakakakak… aku baru tahu bahwa cewek jadia-jadian ternyata lebih ribet dari cewek beneran.
Dia asrama dulu kami selalu siap sedia, sepatu tepat di bawah tempat tidur, karena pelatih sering sweeping malem-malem. Jadi dalam hitungan sepuluh sejak pintu kamar didobrak, kami sudah siap dengan PDL lengkap.
Yang lucu lagi waktu mereka disuruh push-up karena 2 teman mereka terlambat datang. Ya ampun… kemayu! Andaikan maskulinitas bisa ditrasfer, mau deh mentransfer tomboynya aku dan meminta sedikiiiiit saja feminitas mereka.
Di Paskibra kami terbiasa makan kurang dari tiga menit, mandi kurang dari lima menit, dan melakukan segala sesuatu tidak lebih dari sepuluh hitungan.
Melihat mereka (para siswa be a man) menjerit-jerit dan menyumpah-nyumpah ketika disuruh tiarap dan merayap di atas (maaf) kotoran kebo membuatku bersyukur karena terlahir dan tumbuh sebagai perempuan betulan. Jadi tidak memerlukan ajang seperti itu untuk mengukuhkan status genderku. Meski sewaktu aku kecil sampe usiaku 15 tahun, sulit membedakannku dari anak laki-laki. Tapi aku masih merasa diriku perempuan; tanpa keinginan untuk merubah penampilan fisik ataupun ada penyimpangan orientasi seksual.
Rambutku tak pernah lebih dari sebahu, seminggu tiga kali latihan karate dan memukuli anak laki-laki sebagai sasaran latihan, membantu Bapak membetulkan genting, memasang batu bata, mengecat rumah, sampai dikira tukang bangunan beneran. Puncaknya adalah saat ditaksir cewek satu sekolah. Sejak saat itu, aku belajar bagaimana seorang perempuan bersikap.
Meski tidak gampang mengubah watak dan gaya berpakaian; tapi kutanggalkan juga jeans robek, t-shirt belel, spyderbelt, dan segala atribut yang membuat penampilanku terlalu ‘laki’. Hasilnya? Jadi centil sampai sekarang (ehem!)
Aku tidak yakin mereka akan berhasil keluar dari camp dengan penampilan dan sikap yang baru. Pengalaman pribadi; tak mudah mengekang sisi lain dari dalam diri kita. Contohnya aku, meski dari penampilan aku terlihat seperti ibu-ibu muda berumur 26 tahun yang lembut hati dan penyayang :D, tapi yah… kadang sisi itu muncul juga. Pernah suatu hari lagi jalan di parkiran Puri Garden, tiba-tiba ada mobil sedan yang mau keluar dari tempat parkir en ga pake lihat-lihat dulu apakah di belakang dia ada orang apa nggak. Si sopir ga pake ngeliat spion, ga pake lampu sen, mundur aja seenak udel dia. Sebelum mobil itu beneran sukses nabrak aku, bodi belakangnya udah penyok duluan. Ulah siapa? Lha, aku kan hanya mempertahankan diri 😀

Leave a Reply