Begitu Banyak Kesedihan

Ada begitu banyak kesedihan ketika hari-hari terlipat ke belakang. Jejak-jejak yang dulu kita pijak senantiasa mencegat, membuat jurang-jurang dan palung yang semakin hari semakin dalam. Aku kerap bertanya, adakah pagi bagi kita berdua? Aku kerap berprasangka, bahwa kau memang tidak pernah ingin kita bersama. Ya, aku tahu, menikam kepala sendiri lebih menyedihkan dan menyakitkan daripada berdamai dengan keadaan, atau dikebiri berbagai macam keinginan dan kemungkinan. 

Tak ada yang lebih menyedihkan ketika akhirnya kau kembali dalam teriak. Padahal aku tahu, padahal aku mahfum, bahwa kau hanya ingin dibiarkan sendiri, berjalan sendiri. Tanpa dikekang seperti kuda dalam kandang. Kau hanya tak ingin, kebebasan ataupun asmara membuat langkahmu timpang. Namun kau harus tahu, bahwa selamanya, itu akan tetap menjadi seteru. Mau tak mau. 

Ya, keluarkanlah segala serapah yang kau punya. Toh, bagiku, tak pernah ada pembeda. Aku akan tetap menjadi seseorang yang menggenggam kesalahan. 

Leave a Reply