Jadi teringat kepada belalang tua di sisi daun, yang hampir jatuh tapi ia tak jatuh. Sebuah keterpaksaan dan ketahanan yang janggal. Ketika hidup sudah sedemikian rapuh bahkan untuk sebuah kata juang. Ia melompat, kakinya menjerat erat. Lembar-lembar daun menyentuh tanah namun ia tetap berpegang, memutuskan untuk berjuang. Benar-benar keputusan tanpa kegamangan kecuali untuk makan. Meski tidak selalu demikian.

Belalang tua yang malang. Yang hidupnya dihabiskan dengan membujang karena mungkin ia lebih memilih mati ditikam kerontang daripada harus diperas berahi untuk kemudian mati dimakan betina sendiri. Baginya hidup adalah pilihan-pilihan yang teramat sulit, melulu dibelit rasa sakit.

Belalang tua di daun yang nyaris luruh. Kaki lelah mencengkram, tungkai bosan bertahan. Tapi bagaimana jika si belalang tua itu ternyata betina? Masih kesepiankah ia? Setelah entah berapa kepala pejantan ia mamah demi alkah-alkah yang kelak ia telurkan. Demi apa? Demi keberlangsungan hidup belalang tentu saja, demi panggilan berahi yang pasti terasa nyeri. Betapa menyakitkan menyaksikan pasangan sendiri terpapar pengorbanan sedemikian besar sementara ia akan terus sendirian.

Belalang tua di daun renta. Kelak menjejak tanah dan berkalang di dalam atau di atasnya.

*Dari judul lagu Iwan Fals

Leave a Reply