Berderaplah Kaki-kaki Hujan

GELISAH. Itu yang aku rasakan ketika mendapati kisah-kisah bertumpukan di dalam folder netbook. Dikirim ke media massa dan dimuat, sudah. Diposting di blog pribadi, sudah. Diposting di blog keroyokan, sudah. Ada satu yang belum aku lakukan; menerbitkan semua kisah itu ke dalam satu kumpulan cerita.
Bertahun-tahun aku menggelontorkan semua yang menyesak di dada ke dalam berbagai cerita. Aku sendiri banyak berkaca, banyak mengeja, banyak menata serpihan di dada ketika harus membaca cerita-cerita yang aku gubah. Aneh memang, bagi sebagian orang, karya apapun yang telah dilepas kepada pembaca maka tali dengan penulisnya seakan diputus seluruhnya. Namun, tidak demikian denganku. Cerita-cerita itu menyaru jadi hantu, setiap saat bercokol di tebing pintu, ingin digenapkan, ingin dihantar kepada dunia nyata, bukan hanya janin-janin yang berkelindan di dalam kungkungan bernama file komputer dan pendar layar di dunia maya.
Keterhubungan ini bukan ilusi bagiku, sebab aku selalu menempatkan diri sebagai seorang alkemis yang menyisipkan a piece of me ke dalam setiap cerita apapun yang aku gubah. Mungkin itu sebabnya pembaca selalu merasakan unsur kedekatan, rasa kelekatan, bahkan tidak bisa membedakan apakah kisah-kisah itu nyata atau imajinasi belaka. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa setelah setiap karya dilansir ke media, maka mereka akan berkontemplasi, meremukkan segala benteng orientasi dan tendensi, mencipta menjadi zat cair yang mengisi kisi-kisi hati setiap orang yang ia temui. Tapi akulah ibu dari zat cair itu, dan mereka selalu memiliki jalan untuk kembali kepadaku. Kembali menjadi hantu-hantu.
KEMATIAN. Ya, bertamunya Izrail yang setiap saat bersiap di depan pintuku adalah salah satu penyulut. Aku tak pernah tahu kapan akan dijemput, kapan akan direnggut dari taman bermain bernama hidup. Keabadian adalah konsep utopis karena apapun yang fana akan menemukan akhir. Tapi dengan lahirnya semua karya ke dalam bentuk nyata, setidaknya aku ingin menghujamkan jejak kepada dunia bahwa aku pernah ada. Sehingga jika suatu saat aku pergi, akan ada yang bisa dikenang oleh orang-orang yang aku cintai.
Dua puluh tujuh kisah, dua puluh tujuh janin-janin gelisah, dua puluh tujuh cermin yang bersiap pecah. Kaki-kaki Hujan, akan berderap ke arah Anda, bergelung di pangkuan dan menghantarkan apa saja. Tak ada paradigma yang coba aku jejalkan melalui kumpulan cerita ini. Tidak ada keterpaksaan untuk menyamakan perasaan atau kesan. Tidak ada jejaring apapun yang coba aku lilitkan di dalam benak Anda. Tidak ada apa-apa kecuali mencoba menghantar hidup. Hidupku, hidup Anda, hidup semua orang.
Bersama serbuk doa paling lantang, aku hantarkan kumpulan cerita ini kepada Anda. Semoga ia berderap, terus berderap.
Bismillah….

Leave a Reply