Duduk di bangku paling belakang bus kota, saya mengeluarkan Majalah Tempo edisi Agustus 2016 yang dicuri dari lobi hotel beberapa minggu lalu. Edisi khusus Hari Kemerdekaan dengan wajah Chairil Anwar di sampul depan. Edisi khusus yang sialnya berbahasa Inggris, tapi saya baca juga meskipun dengan terbata-bata.

Tempo, seperti biasa, selalu menulis esai atau apa pun itu dengan baik. Terlebih lagi ketika mereka membicarakan Chairil, ikon Pujangga Baru yang kita puja hingga hari ini. Saya bahkan punya teman yang bercita-cita mati di usia 27 tahun. “Biar seperti Chairil,” katanya. Waktu itu saya hanya menganggap ia gila. Tapi ketika saya kembali membaca tentang Chairil di majalah curian itu, saya baru sadar mungkin teman saya itu tidak gila.

“Chairil faced heavy critism, but it seems that everybody is prepared to forgive him, because Chairil was a rebel, like a part of the Indonesian nation that once existed and is still missed.”

Begitu yang dikatakan Tempo di tebing akhir salah satu halamannya. Saya menghela napas panjang, melarungkan pandangan ke luar jendela bus, menyisiri jalanan Kota Bandung yang tengah gerimis. Di jalanan itulah, empat tahun lalu, seorang perempuan memeluk koran berisi cerpen yang ia gubah. Cerpen pertama yang dimuat di koran. Halaman cerpen itu kemudian ia gunting lalu membingkainya seperti sebuah piagam penghargaan. Sebuah kebanggaan.

Dada saya berangkat sesak ketika mengingat pekerjaan saya yang sekarang. SEO content writer, desainer, blogger. Tiga pekerjaan yang beberapa tahun belakangan menghidup saya. Lalu ke mana Langit Amaravati si cerpenis? Yang miskin tapi bahagia setiap kali karyanya dimuat di media? Yang hanya dibayar dengan beberapa ratus ribu, tak jarang pula hanya dengan ucapan terima kasih, lebih sering karyanya dimuat tanpa kabar dan tak dibayar.

Pernahkah Anda merindukan diri Anda sendiri?

Saya pernah. Sering.

Ketika duduk di bangku belakang bus kota dengan majalah di pangkuan itulah saya tahu bahwa mengerangkeng diri dengan alasan realitas adalah sebuah kejahatan. Setiap kali ada seseorang yang bertanya mengapa saya tidak menulis cerpen lagi, saya selalu menjawab bahwa belum ada ide atau alasan tolol lainnya. Padahal yang sebetulnya terjadi adalah karena saya sibuk dengan urusan perut.

Anda yang mengawali menulis dari fiksi (orang-orang menyebutnya sastra) pasti tahu bagaimana rasanya ketika kata-kata bergerak perlahan menjauhi Anda. Begitulah saya setahun terakhir ini. Yang saya miliki tentang cerpen hanyalah sisa-sisa “masa kejayaan”. Ketika cerpen saya hadir di koran-koran. Dan kapankah itu? Seabad? Dua abad? Rasanya seperti triliunan tahun yang lalu.

Di bangku belakang bus kota itulah saya tahu bahwa saya merindukan diri saya sendiri lebih dari apa pun. Langit Amaravati yang cerpenis, bukan Langit Amaravati yang “pandai” mereview produk dan menulis tutorial. Kerinduan itu semakin bertambah-tambah ketika saya pulang dan kembali membaca cerpen-cerpen yang saya gubah.

“Menang lomba blog barangkali akan memberimu makan, eL. Tapi tulisanmu hanya akan jadi remah-remah lalu hilang dimamah masa dan zaman. Sedangkan cerpen-cerpenmu akan terus ada, setidaknya cerita di dalamnya, akan terus menghantui benak orang-orang.”

Ya, saya merindukan diri saya sendiri. Mungkin eL si cerpenis ini ingin seperti Chairil juga: berkarya, lalu mati muda.

6 Comments

  1. tati y. adiwinata-Reply
    September 25, 2016 at 5:18 pm

    Hayu ah berkarya lagi de….ade kayaknya leb8h keren jadi cerpenis deh…cius

    • LangitAmaravati-Reply
      September 26, 2016 at 12:26 pm

      Tenang, Teh. Nanti bikin cerpen lagi kalau inget. Hahaha.

  2. September 27, 2016 at 8:38 am

    Saya tunggu cerpennya lagi Mbak El… 😉

  3. September 28, 2016 at 10:11 am

    Pastinya cerpen2 di masa lalu itu keren2 ya, Chan. Jadi penasaran pengen cepet2 baca cerpen di “Payudara”. Kapan ya?

    • LangitAmaravati-Reply
      September 29, 2016 at 12:53 pm

      Belum beres-beres cetaknya juga. Hahaha.

Leave a Reply