sebagian buku inventaris TBM Anak Matahari

“Bermimpilah!”

Pesan singkat itu datang dari seseorang beberapa hari yang lalu. Saya sakit hati, benar-benar sakit hati. Mungkin keinginan yang saya utarakan adalah sebuah kemustahilan; sesuatu yang tak bisa ia penuhi atau janjikan. Tapi ia benar, saya harus bermimpi, sebab manusia tanpa mimpi adalah manusia yang nyaris mati. Hidup seperti apa yang digeluti manusia tanpa mimpi? Barangkali hanya ada kehampaan dan kekosongan. 

Maka saya bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Tahukah Anda bahwa mimpi-mimpi baik akan terealisasi juga dengan baik? Tahukah Anda bahwa seseorang yang tengah meniti jalan takdirnya akan senantiasa diberi bantuan? 

TBM Anak Matahari belum genap berdiri, tapi segala macam kemudahan telah saya miliki. Informasi tentang bagaimana mendirikan TBM saya dapatkan dengan mudah, orang-orang yang saya hubungi pun sangat welcome dan mendukung. Banyak dukungan moral dan semangat yang membuat saya betul-betul terlecut. Pun dari Salwa yang biasanya cuek dengan semua kegiatan saya. Kali ini dia begitu antusias.

“Bun, buku-buku abdi juga boleh kok buat taman baca,” itu katanya. 

Sampai sekarang, sudah ada dua orang yang mau menyumbangkan buku. Ini membuat saya makin bersemangat karena di punggung saya ada amanah yang harus saya tanggung. Ketika saya bingung bagaimana membeli rak, tiba-tiba ada transferan honor tulisan. Hehehe … how lucky I am. 

Jika mimpi-mimpi itu bisa membuat hidup saya semakin berarti, maka saya akan terus bermimpi. 

Leave a Reply