BERPISAH DENGAN LUKA

Perpisahan, meski dipulas dengan kata penghiburan apa pun, mestilah terasa menyakitkan. Perpisahan, walaupun dilandasi oleh alasan logis segunung pun, tetaplah terasa menyesakkan.
Namun setiap hal di dunia ini tak pernah selibat, selalu memiliki pasangan. Ada pergi, berarti ada kembali. Ada malam, berarti ada siang. Ada tangis, sudah tentu ada tawa. Pun dengan pertemuan, suatu hari pasti bertemu dengan pasangannya: perpisahan.
Perpisahan kali ini tak ada tangis. Tak ada kaki berat terseret serasa dibebani baja setengah ton. Yang ada hanyalah perasaan lega. Bahwa aku pada akhirnya kembali. Kembali kepada satu-satunya tempat pulang yang pintunya tak pernah tertutup: RUMAH.
Bertahun aku menganggap bahwa Batam adalah rumah kedua setelah Bandung, tempat asa bermuara. Di Batam inilah kupancangkan harapan demi sebuah kehidupan yang lebih baik. Datang kemari dua tahun lalu tanpa membawa uang sepeser pun kecuali berbekal sebuah kepatuhan dan rasa bergantung kepada seseorang. Bercita-cita suatu hari nanti dapat membawa serta Salwa dan kenangan akan Najwa. Tapi apa mau di kata, aku manusia yang hanya memiliki peran untuk berusaha. Tanpa bisa ikut campur atas hasil yang akhirnya kutuai.
Dan di sinilah sekarang aku berada sekarang.Di ruang tunggu Bandara Hang Nadim. Bersiap pulang membawa dua tas besar sisa prahara. Berstatuskan seseorang yang tak lagi diinginkan untuk dimiliki seseorang.
Mungkin aku akan menyesali kata-kataku ini, tapi toh harus kulapalkan: selamat tinggal luka!

Hang Nadim, 3 Maret 2010
Catatan yang telat kuutarakan

Leave a Reply