BERSAMAMU

Skylashtar Maryam

Lempengan-lempengan tangisku menyatu dalam deru
Dalam geliatan prahara yang membungkamku
Karena pesonamu berubah maya
Tak hanya warna biru cinta…

Sampai detik ini, mengingatmu ternyata masih saja menyakitkan.
Membayangkan kau menyerahkan geloramu padaku, sedangkan hatimu kau titipkan pada wanita lain.
Bisakah tubuh dan jiwamu berada pada tempat yang sama? Yaitu tepat di sampingku.

“Sampai kapan pun aku tak pernah rela kau duakan.”
“Aku tak pernah mencintaimu, jadi untuk apa aku harus membela hatimu?”
“Kau hanya tak pernah tahu bahwa kau mencintaiku.”
“Aku tentu tahu apa yang bergerak di hatiku.”
“Bila kau bahagia, dengan siapa kau membaginya?”
“Tentu dengannya, orang yang aku cinta.”
“Jika kau merasa amat gembira, siapa yang kau ajak tertawa?”
“Dia, aku senang membuatnya tertawa.”
“Dan jika hatimu dilanda kemelut, siapa yang kau ajak berbagi kabut?”
“Entahlah… tapi biasanya aku datang menemuimu, bukan?”
“Bila kau ingin menangis, di mana kau tumpahkan air matamu?”
“Mmmhhh… bukankah kau selalu mengajakku ke pantai dan menyuruhku meluapkan air mata? Kau akan duduk diam di sebelahku yang sedang tersedu-sedu.”
“Jika kau gundah di tengah malam, apakah wanita itu yang kau telepon untuk kau ajak berbagi cerita?”
“Mana mungkin? Aku tak tega mengganggunya. Lagipula, lebih enak berbincang denganmu.”

Hanya aku yang pantas kau bagi tangis,
Sedangkan untuknya yang ada hanya rasa manis.
Denganku kau mengikis lembaran sendu, sedangkan untuknya yang kau bungkus hanya rindu.
Bersamaku, kita mengubah gundah jadi sampah, sedangkan dengannya,
serapah kau selipkan di tepian bambu,
Lalu kau jejalkan padaku.

Kemudian hanya kelu yang disisakan angin
Padahal desirnya telah berlalu berabad lama
Tinggalah gema residu udara
Padahal dentingnya mendayu seribu tahun lalu
Di puncak itulah kesadaranmu

Setelah kau bosan meneriakkan cinta pada gadismu
Yang tak pernah rela mendengar, hanya pandai menceracau

Setengah putus asa kau datangi aku,

Tersedu sambil melapal rindu
Rindu yang tak pernah kau sadari pernah ada
Meski jendela hatimu terus terbuka,
Karena kau tak pernah menyibakkan tirainya

“Aku datang…”
“Aku tahu, karena kau tengah berada di sini sekarang.”
“Aku sedih, putus asa, dan tak tahu lagi mesti bagaimana!”
“Kemarilah, berbaring di sini. Selalu ada tempat untukmu di dadaku.”
“Berikut peluknya?”
“Memangnya kau tak mau hangatnya?”
“Aku ingin keduanya.”
“Kemari, berbaring di sini, bersamaku, kau akan mendapatkan segalanya….”

Lobam, 27 Juli 2006

Leave a Reply