Bersedihlah, Menulislah


“Puisimu bagus, tapi saya tahu bahwa banyak yang harus kamu tebus untuk membuat puisi sebagus ini.”

Kata-kata yang dilontarkan Kang Ferry Curtis terngiang pagi ini. Kata-kata yang tidak saya sadari ketika saya menyerahkan puisi untuk dimusikalisasi. Kata-kata yang baru saya tahu artinya setelah saya meminum kopi pertama hari ini. 

Ia benar, perjalanan hidup telah banyak menempa saya menjadi perempuan yang memiliki banyak kosakata maha tajam. Kadang dalam arti harafiah, kadang dalam arti kiasan. Barangkali seperti kata Teh Em, setiap puisi lahir dari pengalaman empiris penulisnya. Saya tak dapat mengingkari bahwa hidup yang terjal telah membuat puisi-puisi saya sedemikian kelam. 

Untuk mencapai kualitas diksi sesakit sekarang, entah berapa lama saya harus mengasah pedang demi pedang, mengarungi perang demi perang. Tidak seluruhnya saya menangkan, memang. Kadang saya pulang sebagai pecundang, prajurit yang malang. 

Kesedihan dan rasa sakit adalah jantera yang menyulut inspirasi bagi para penulis, entah kenapa. Dalam kasus saya, rasa bahagia sulit untuk dijadikan sebagai landasan berkarya. Sebaliknya, letupan-letupan emosi entah itu sedih atau marah adalah suluh paling ampuh. 

“Kamu mah penulis masokis,” kata salah satu teman. 

Ia -sekali lagi- benar. Seorang penulis boleh menjadikan pengalaman hidup yang mana saja agar ia bisa berkarya, agar ia terus meng-ada. Maka rasa sakit yang manakah yang harus kita dustakan? Bersedihlah, bersakit-sakitlah, lalu menulislah. 

Inspirasi tak pernah mengenal kata mati. 

Selamat pagi,
Langit Amaravati

Leave a Reply