Bincang Pedang

(Sebuah Catatan Sakit Jiwa)

Aku dan benakku yang ular ini tak menginginkan apa-apa kecuali sebuah bincang tanpa pedang. Menjadi waras dan digerus realitas lebih menyakitkan daripada menjadi orang gila yang meracau di atas kertas. Seperti kata kawan kita, ia akan selalu menunggu di luar rumah sakit jiwa. Padahal, tahukah kau? Rumah sakit jiwa itu bukan penjara melainkan tempatku merdeka. Jeruji dan kisi-kisi kadang lebih menentramkan hati daripada omong kosong tentang egoisasi dan eksistensi.

Persetan dengan anak-anak benak yang keluar dari semua mulut-mulut kerpak. Mulut-mulut peradaban yang dikuasai persepsi orang-orang tentangku, tentang apapun yang keluar dari kepala dan mulutku. AKU TIDAK PEDULI!

Barangkali aku memang gila karena tidak bisa menerjemahkan apa-apa yang berjejal di dalam dada kepada suara sehingga setiap ucap kerap menjadi tikam dan sekam. Barangkali aku memang tidak waras karena telingaku tertutup getas-getas sehingga setiap bunyi dari mulutmu tak pernah memiliki arti, tak pernah kumengerti. Bahasa apa yang kita berdua pakai untuk berkomunikasi? Jangan berusaha menjawab! Setiap pertanyaan yang terucap dariku bukan untuk dituntaskan. Jangan repot-repot.

Cih! Perempuan seperti apa yang menggadaikan dirinya kepada neraka yang satu ke neraka yang lain? Yang menukar kemerdekaannya dengan kewarasan yang satu ke kewarasan yang lain? Padahal di dalam dirinya selalu bertumbuh kecambah-kecambah sakit jiwa untuk ia bertahan dalam dera. Kecambah bangsat yang membuat inangnya sendiri dicap sebagai orang sesat.

Demi buih kopi dalam cangkirku yang nyaris tandas, mari berTuhan pada kertas. Mari sama-sama bisu, sebab orang gila ini sudah bosan mendengar racau kacau dan sengau. Dari mulutmu, terlebih lagi dari mulutku.

.adslot-overlay {position: absolute; font-family: arial, sans-serif; background-color: rgba(0,0,0,0.65); border: 2px solid rgba(0,0,0,0.65); color: white !important; margin: 0; z-index: 2147483647; text-decoration: none; box-sizing: border-box; text-align: left;}.adslot-overlay-iframed {top: 0; left: 0; right: 0; bottom: 0;}.slotname {position: absolute; top: 0; left: 0; right: 0; font-size: 13px; font-weight: bold; padding: 3px 0 3px 6px; vertical-align: middle; background-color: rgba(0,0,0,0.45); text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap; overflow: hidden;}.slotname span {text-align: left; text-decoration: none; text-transform: capitalize;}.revenue {position: absolute; bottom: 0; left: 0; right: 0; font-size: 11px; padding: 3px 0 3px 6px; vertial-align: middle; text-align: left; background-color: rgba(0,0,0,0.45); font-weight: bold; text-overflow: ellipsis; overflow: hidden; white-space: nowrap;}.revenue .name {color: #ccc;}.revenue .horizontal .metric {display: inline-block; padding-right: 1.5em;}.revenue .horizontal .name {padding-right: 0.5em;}.revenue .vertical .metric {display: block; line-height: 1.5em; margin-bottom: 0.5em;}.revenue .vertical .name, .revenue .vertical .value {display: block;}.revenue .square .metric, .revenue .button .metric {display: table-row;}.revenue .square .metric {line-height: 1.5em;}.revenue .square .name, .revenue .square .value, .revenue .button .value {display: table-cell;}.revenue .square .name {padding-right: 1.5em;}.revenue .button .name {display: block; margin-right: 0.5em; width: 1em; overflow: hidden; text-overflow: clip;}.revenue .button .name:first-letter {margin-right: 1.5em;}a.adslot-overlay:hover {border: 2px solid rgba(58,106,173,0.9);}a.adslot-overlay:hover .slotname {border-bottom: 1px solid rgba(81,132,210,0.9); background-color: rgba(58,106,173,0.9);}a.adslot-overlay:hover .revenue {border-top: 1px solid rgba(81,132,210,0.9); background-color: rgba(58,106,173,0.9);}div.adslot-overlay:hover {cursor: not-allowed; border: 2px solid rgba(64,64,64,0.9);}div.adslot-overlay:hover .slotname {border-bottom: 1px solid rgba(128,128,128,0.9); background-color: rgba(64,64,64,0.9);}div.adslot-overlay:hover .revenue {border-top: 1px solid rgba(128,128,128,0.9); background-color: rgba(64,64,64,0.9);}

Leave a Reply