BLOCK SIXTEEN SEVENTH UNIT [WAJAH TERBELAH]-1

Aku punya cerita yang mengendap sejak tiga tahun lalu. Mo dibikin cerpen, kepanjangan. Mo dibikin novel juga kependekan. Akhirnya semua serba nanggung. Ya udah, aku posting di sini aja dikit-dikit. Ntar juga kan jadi bukit. Hehe.Iya, kalo aku dah dapet wangsit, baru cerita ini aku lanjut lagi. Karena satu bab bisa nyampe sepuluh halaman, jadi aku posting per sub-bab aja. Biar yang baca nggak sumpek pek pek. So, enjoy the story!
===

TINTA-TINTA DI LEMARI SYAMSA

Keheningan dormitory 16 unit 7 tiba-tiba terkoyak. Teriakan Syamsa mengejutkan semua orang. Bukan teriakan sih, tepatnya raungan. Aku, Tyanka, dan Feyya yang sedang duduk di ruang tamu berhamburan ke kamar, tempat Syamsa meraung tadi.
Syamsa terduduk di depan lemarinya yang terbuka. Menangis dan memaki-maki. Menangis, lalu memaki lagi. Kami jadi geli.
“Gilanya Syamsa kumat, yah?” bisikku di telinga Tyanka.
“Hush!” Tyanka mengerling, telunjuknya mengarah pada lemari yang terbuka. Ya ampun! Baju-baju Syamsa acak-acakan terkena noda hitam. Noda tinta yang entah berasal dari mana.
“Ada yang ngiri sama aku. Semua bajuku disirap pake tinta. Hu…hu…hu…” Syamsa menuding-nuding.
Feyya mengacungkan sebuah t-shirt. “Kok bisa kayak gini, sih?”
“Pasti ada yang nggak suka sama aku. Ngaku aja! Dasar sialan!” Syamsa melotot memandangi kami.
“Aduh, kamu jangan nuduh kami kayak gitu, dong! Siapa tahu kamu lupa naruh tinta di situ, terus tumpah,” Tyanka berusaha menyabarkannya.
“Aku nggak pernah naruh tinta di situ, tauk!” setengah berteriak Syamsa mengelak.
“Udah, deh, nggak usah maen nuduh-nudahan dulu. Mending kita cuci aja semua baju lu, Syam!” saranku pada cewek Lampung itu.
Semua mengangguk setuju. Akhirnya kami kerja bakti nyuciin baju-baju Syam yang seabreg. T-shirt keren en jeans Syamsa nggak ada yang selamat. Malah makin terlihat parah karena terkena cairan pencuci. Kami pasrah.
Kejadian siang itu sempet bikin heboh. Meeting dorm yang diadain pada malem harinya malah nambah runyam suasana. Semua saling tuduh, saling mengelak dan nyari alibi. Tapi hasilnya nol, sang pelaku tidak ditemukan. Bisa saja itu orang luar, tapi kayaknya nggak mungkin. Lemari Syamsa terkunci. Dan tak pernah ada tamu sejak beberapa hari lalu. Apa pelakunya orang dalam, yah? Huh! Malah aku yang pusing.
Sebenarnya, Syamsa bukan tipe cewek yang menyenangkan, sih. Manja, sombong, suka perintah-perintah. Mentang-mentang gajinya paling besar diantara kami berempat belas. Iyalah, dia kan dapet over time terus.
==
KARMA PUN MENIMPA DESWI
Insiden bertinta itu sudah lewat satu bulan tanpa diketahui pelakunya. Tapi Syamsa sudah kembali tenang. Bahkan jadi gila belanja. Beli baju dan jeans baru.
Lalu kehebohan terjadi lagi. Uang deswi raib tapi berbekas. Ya, bekasnya berupa guntingan-guntingan uang itu yang dimasukkan dalam sebuah amplop. Deswi uring-uringan dan menuduh kami bertujuh sebagai pelakunya. Aku, Tyanka, Feyya, Kenang, Herena, Galuh, dan Wa Ode Kanaya.
“Kalian kan nggak satu shift sama aku, jadi waktu aku kerja kalian pasti ada di dorm,” begitu tuduhnya.
“Yeee… mana buktinya? Buat apa kami ngelakuin hal itu? Kami nggak punya dendam kok sama kamu!” Wa Ode Kanaya jadi sewot.
“Berapa sih uangnya?” tanya Galuh, leader dorm kami.
“Tiga juta, tahu! Banyak, tuh!” Deswi menjawab geram.
Kami melongo. Tiga juta? Dan yang tertinggal hanya serpihannya? Orang bodoh, pikirku. Kenapa nggak diambil aja sih uangnya? Kan lumayan tuh, daripada cuma digunting-gunting kayak gitu.
“Bisa nggak di lem lagi, Wi?” tanyaku sambil nyengir.
“Nih, lem aja sama kamu!” Deswi melemparkan amplop itu ke arahku. Isinya berhamburan.
“Kayaknya nggak mungkin dilem deh, Kay! Duitnya udah jadi bubur kayak gitu,” bisik Kenang.
“Please deh, Ken! Lu pikir gue serius?” kadang jadi ngedadak kena darah tinggi deh kalau ngomong sama Kenang. Kenang suka tiba-tiba lemot.
“Eh, diadaur ulang aja! Kita bikin bubur kertas, terus dibikin kertas baru, terus…” Feyya dan Wa Ode Kanaya serentak menjitak kepalaku.
“Aduh!” aku meringis kesakitan. “Kira-kira bisa dijual nggak yah kertas daur ulang dari duit?” tambahku.

Galuh melotot ke arahku. ‘Stop joking!’ begitu perintah tatapan matanya

“Kita lapor polisis aja, Luh!” Bias yang sedari tadi diam angkat bicara. Untung Syamsa nggak ada, kalau ada suasana bisa tambah runyam.
“Jangan dulu. Itu bisa merusak citra dorm 16 unit 7. PT nggak mau main-main untuk urusan kayak gini. Besok aku lapor ke Pak Gun dulu, siapa tahu HRD punya solusi untuk masalah ini,” Galuh menolak usulan Bias.
Yup! Kalau polisi turut campur. Masalahnya bisa tambah runyam. Sekarang aja, semua orang saling mencurigai. Shift yang satu mencurigai shift yang lain. Jadi, sejak kejadian itu, terjadi semacam perang dingin di dormitory kami.
Perusahaan tempat kami kerja dibagi dalam dua shift, shift A dan shift B. Anehnya, peristiwa naas selalu menimpa shift A, akhirnya kamilah yang di shift B yang jadi sasaran kecuriagaan mereka. Anehnya lagi, anak-anak yang terkena musibah emang agak nyebelin. Karma kali, yah?
==



Leave a Reply