Ketika menulis ini, saya sadar bahwa saya telah melanggar kode etik blogger dan buzzer. Tapi, di atas itu semua, saya kira ada yang lebih penting untuk disikapi: nurani. 

Sejak aktif di media sosial bertahun-tahun silam, sudah lama saya mengambil posisi sebagai pengamat. Isu demi isu bermunculan dari mulai gesekan sesama penulis terkait plagiarisme, Pilpres, working mom vs fulltime mom, sampai isu yang menuai pro dan kontra beberapa hari lalu: event blogger. 

Mengenai event blogger yang saya tulis, banyak yang menanggapi dengan positif, lebih banyak lagi yang negatif. Status-status bernada nyinyir yang justru datang dari teman-teman saya sendiri berlalu-lalang di timeline, ada yang mengancam akan meng-hack blog saya, sampai meme-meme yang konon juga dibuat untuk menanggapi tulisan saya. 

Tanggapan saya? Saya tidak peduli. Pun saya tidak sedang mencari sensasi. Untuk apa? Menuai view? Supaya terkenal? Maaf-maaf nih, Mas, Mbak, sejak tiga bulan lalu saya aktif kembali di dunia blogger pun saya sudah diperhitungkan banyak orang, kok. Oke, yang ini memang sengak, Anda boleh tampar saya sekarang. 

Kali ini saya ingin membahas hal lain. Isu yang beberapa minggu ini mengusik nurani saya sebagai blogger. Anda boleh setuju boleh tidak. Boleh nyinyir di media sosial atau membuat postingan sanggahan. Silakan membuat meme sesuka hati Anda.  



PELARANGAN OJEK ONLINE

Anda ingat tidak, bulan Desember tahun lalu sempat dikeluarkan Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 tentang Kendaraan Pribadi (Sepeda Motor, Mobil Penumpang, Mobil Barang) yang Digunakan untuk Mengangkut Orang dan/atau Barang dengan Memungut Bayaran? Saya sempat menulis tentang ini di sini. Surat pemberitahuan bertanggal 9 November 2015 ini kemudian ditarik kembali setelah menuai banyak sekali kecaman dari netizen. 

Reaksi netizen tentu saja bermacam-macam, tapi kebanyakan kontra terhadap surat itu. Surat kepada Tuan Ignatius Jonan yang saya tulis, saya akui sangat reaktif alih-alih responsif. Setelah itu, seperti biasa, saya menarik diri dari keriuhan. 

Saya kira urusan pelarangan angkutan umum ini sudah selesai sampai saya membaca berita bertajuk “Saham Blue Bird dan Taxi Express Naik Usai Terbitnya Surat Pemberitahuan”. Saya bertanya-tanya, lebih tepatnya gelisah, “Ada apa sebenarnya?”

Anggaplah saya iseng dengan membaca semua berita tentang fluktuasi saham ini, sampai harus report-repot ngecek ke bursa efek. Dan memang, saya menemukan fluktuasi yang jika dijadikan grafik akan terlihat gagarinjulan

Ada beberapa kesimpulan yang saya ambil dari ribut-ribut ini:

1. Bukan tentang Aplikasi

Reaksi para netizen termasuk saya waktu itu adalah bahwa surat pemberitahuan itu tentang aplikasi, padahal bukan. Ini tentang plat kuning dan plat hitam. Ya kalau tentang moda transportasi berbasis aplikasi mah, Blue Bird juga kena atuh da pada bulan yang sama meluncurkan aplikasi My BlueBird. Saya datang ke acara peluncurannya dan sempat membuat review mengenai aplikasi ini.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena kesalahan media relation atau markomnya Organda kalau kata saya mah. Coba Anda perhatikan, berita di media pada waktu itu malah lebih mengedepankan transportasi umum konvensional vs transportasi berbasis online. Di era digital, melarang “ojek online” sama dengan cari masalah kalau kata saya mah. 

Mungkin, karena kesalahan point of interest inilah kemudian surat itu ditarik kembali. Mungkin lho, ya.


2. Organda

Surat pemberitahuan ini diinisiasi oleh Organda. Nggak perlu analisis intelijen untuk tahu ini, baca saja pernyataan-pernyataan orang Organda di media. Dan Anda tahu siapa ketua Organda periode 2015-2020? Adrianto Djokosoetono, Direktur PT Blue Bird Tbk,. 

Naif kalau saya bilang ini tidak berkorelasi. 


3. Politisasi

Saya tidak tahu mengapa Presiden Jokowi sampai harus repot-repot ngetwit dan membela ojek online. Dengen ngetwit begitu hanya menunjukkan bahwa Menhub tidak becus, termasuk saya waktu itu. Siapa yang paling diuntungkan dengan adanya konflik horizontal di dalam badan eksekutif? Prabowo? DPR? Bukaaannn. 

Situasi sosial politik akan berimbas kepada satu hal: harga saham. 

Ini bukan “perang” kita. Kita, para netizen hanyalah ikan di kolam Internet. Surat pemberitahuan itu bisa saja hanya “test the water”. Iseng-isengnya menteri dan para petinggi Organda.



CAMPAIGN BLOGGER & BUZZER

Saya pikir masalah taksi dan ojek online ini sudah selesai. Saya pikir ini hanyalah gejolak biasa yang sebentar ingar sebentar padam. Sampai pada suatu hari di pertengahan bulan Maret, saya mendapatkan surel pemberitahuan campaign baru. Campaign itu diberi judul “SELAMATKAN MASA DEPAN TRANSPORTASI INDONESIA”. Begitu saya membaca isinya yang lebih kepada transportasi online vs transportasi konvensional, reaksi saya adalah: bangke!

Saat itu saya memang tergoda untuk mengajukan proposal berisikan satu kalimat: kalian berani bayar saya berapa? Tapi tentu saja saya urungkan karena dibayar berapa pun saya tidak akan mau. 

Yang kemudian jadi kekhawatiran saya adalah posisi blogger dan buzzer. Terbayang tidak sebesar apa konflik horizontal yang akan terjadi jika ada blogger yang nekad mengambil campaign ini? Untuk itulah saya menulis ini, mengajak Anda untuk menelaah bersama-sama posisi kita.

 Ada beberapa poin yang menjadi kekhawatiran saya:

1. Konflik Horizontal

Asal Anda tahu, ada beberapa blogger yang menjadi driver Go-Jek, tidak sedikit pula yang suami atau saudaranya menjadi sopir taksi konvensional. Go-Jek dan taksi telah menjadi kendaraan para blogger untuk datang ke event-event

Kalau ada blogger yang memutuskan untuk mengambil campaign ini, dan kemungkinan besar akan viral. Yang akan terjadi bukan konflik transportasi konvensional vs transportasi online, tapi blogger vs blogger. 

Kita semua tahu bahwa blog telah menjadi ajang kampanye berbagai macam isu. Kenapa? Karena blog bersifat testimoni pribadi, dan pembaca akan lebih percaya yang dikatakan blogger daripada media cetak maupun online. Tidak percaya? Hellow, memangnya Anda pikir job review itu untuk apa? CSR-nya brand? 


2. Blogger Sebagai Cyber Army

Tadinya saya sempat pula berpikir bahwa campaign ini berasal dari para pemilik tansportasi berbasis online, semacam metode playing victim. Tapi setelah dipikir ulang, mereka tidak perlu melakukan ini karena tanpa meng-hire blogger atau buzzer pun transportasi online ini sudah mendapat dukungan dari netizen. “Dibeking” presiden pula. 

Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa campaign ini adalah bentuk keputusasaan korporasi transportasi konvensional. Saya tidak tahu siapa yang menjadi konsultan media mereka, bisa jadi salah satu konsultannya adalah blogger juga, yang jelas langkah mereka serampangan. 

Saya juga bertanya-tanya, jika pertarungan antar korporasi sudah berani dibawa ke ranah blogger, berikutnya apa lagi? Memangnya kita dianggap apa? Cyber army? 


3. Blogger Bayaran

Ini topik yang rentan. Saya tidak tahu berapa bayaran untuk campaign ini karena memang tidak disebutkan. Yang jelas, si pemilik campaign bisa saja beranggapan bahwa blogger dan buzzer hanyalah orang-orang yang bisa dibayar. 

Anda mengerti kan maksud saya?


4. Media Bumper

Anda tahu bumper? Kalau ada tabrakan, bumper inilah yang memiliki kans besar untuk kena duluan. Kalau media online betulan yang di-hire lalu terjadi keributan yang tidak diinginkan, misalnya pro kontra di kalangan netizen, mudah sekali menempatkan media online sebagai “pesakitan”. Media online vs netizen, kita tahu siapa yang akan menang. Selesai.

Kalau sesama blogger yang menulis tentang ini, perdebatannya tidak akan selesai sampai seluruh es di Antartika mencair. 


5. Subjektivitas

Meskipun tidak semua jurnalis media online memiliki dedikasi dan paham kode etik jurnalistik, tapi mereka agak sulit “dibeli”. Mungkin mereka belajar dari kesalahan strategi surat pemberitahuan beberapa bulan silam sehingga mengambil strategi yang berbeda. 

Perlu tenaga besar untuk memengaruhi media massa, juga perlu keahlian seorang media relation kawakan agar transportasi konvensional ini dicitrakan baik di setiap berita. Pun, berita yang ada akan sangat objektif, tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap pola pikir masyarakat.

Berbeda kalau yang menulis adalah blogger. Saking subjektifnya, pembaca yang tidak peka akan menganggap bahwa tulisan si blogger adalah testimoni pribadi, panggilan hati nurani, padahal tidak. Berapa banyak dari kita yang sanggup berada di batas-batas nurani jika dibayar? Jangankan ikut campaign yang jelas-jelas dibayar, postingan lomba saja banyak kok yang terkesan “menjilat”. 

DEMO

Beberapa hari saya menunggu postingan campaign sambil berdebar-debar. Ternyata tidak ada, kalaupun ada mungkin tidak viral. Saya bernapas lega, berbaik sangka bahwa tidak ada blogger atau buzzer yang cukup gila untuk ikut campaign ini. Sampai … demo Blue Bird terjadi.

APA LAGI INI? Pikir saya.

Ini saya benar-benar ingin tahu, siapa sih konsultan media Blue Bird? Mbok ya cerdas sedikit. Kalau ingin mengambil hati masyarakat bukan begitu caranya, itu mah kayak cowok yang ditolak cewek terus mukulin siapapun cowok yang jalan sama cewek gebetannya. Maaf-maaf nih ya, kekanak-kanakan. 

Di isu-isu seperti ini, akhirnya kita semua jadi para spekulan, termasuk saya. Jadi, spekulasi saya adalah bahwa demo ini adalah “senjata” terakhir, senjata yang kemudian menjadi bumerang. Anda pernah membaca buku Memoirs of Geisha? Ada adegan pertarungan sumo, intinya adalah si pesumo berbadan besar dikalahkan oleh pesumo berbadan kecil. Jurusnya cuma satu: memanfaatkan kekuatan lawan. Begitulah saya memandang demo ini.

Tapi, karena saya cenderung memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak harus saya pikirkan, ada beberapa hal yang saya cermati:


1. Gejolak Arus Bawah

Anda ingat apa isu yang diangkat oleh para sopir taksi itu? Kesenjangan pendapatan. Iya, benar, masalah duit dan perut anak bini. Siapa yang tidak terketuk hatinya dengan isu seperti ini? Maka beramai-ramailah para netizen berkomentar soal ini. Selain demo di Jakarta, media sosial memanas dengan pro dan kontra. 

Pernahkah Anda bertanya mengapa perusahaan taksi konvensional ini tidak bertarung di ranah regulasi? Padahal sudah jelas kan undang-undang plat hitam dan plat kuning ini ada? Padahal sudah jelas kan sepeda motor memang bukan untuk transportasi publik? 

Karena efeknya berbeda. Siapa sih yang akan peduli dengan perusahaan taksi yang sedang berusaha menegakkan undang-undang? Lagi pula, sudah ada instruksi presiden untuk membina para start up di bidang transportasi. 

2. Koflik Horizontal

Anda tahu bahwa para driver Go-Jek di beberapa kota adalah para ojek pangkalan? Anda tahu bahwa banyak sopir taksi yang pada akhirnya menyeberang ke taksi online? Masyarakat kelas bawah sendiri sudah lama mengambil sikap seperti jerapah, menyesuaikan diri. 

Kenapa harus demo segala? Supaya rame aja. Supaya masyarakat menganggap bahwa gesekan itu benar-benar ada. Oke, memang ada. Tapi tidak separah isu yang diangkat ketika demo. 

Di mana para petinggi taksi Blue Bird ketika demo terjadi? Di mana para ketua Organda ketika para sopir Blue Bird melakukan sweeping? Di mana para pemilik start up ketika driver mereka dipukuli? 


3. Salah Strategi

Ketika situasi masih panas, Blue Bird dengan semena-mena mengeluarkan kebijakan taksi gratis. Waktu itu saya tertawa. Mereka meremehkan kekuatan netizen. Taksi gratis ini akhirnya cuma jadi lelucon. 


Blogpost ini sudah semakin panjang, perlu Anda tahu bahwa saya tidak dibayar oleh perusahaan taksi konvensional maupun oleh transportasi online. Perlu juga Anda tahu bahwa saya menulis ini sebagai blogger yang khawatir dan gelisah terhadap posisi blogger di perang korporasi besar. Saya tidak memihak keduanya. 

Sebelum Anda menetapkan posisi Anda di mana, tolong ingat beberapa hal. Satu, Blue Bird dan mungkin akan diikuti perusahaan transportasi konvensional lainnya sudah punya sistem reservasi online via aplikasi. Tolong jangan lagi ribut soal metode reservasi yang satu online yang satu tidak. 

Dua, para sopir taksi dan opang bisa bersinergi dengan kemajuan teknologi. Mereka tidak setolol yang kita kira. Yang harus kita cermati adalah mengapa selalu terjadi pergesekan di arus bawah?

Tiga, ini bukan konflik kesenjangan sosial. Go-Jek dan sebangsanya bukan UMKM sehingga patut Anda bela mati-matian dengan alasan sharing economy dan bla bla bla. Bulan Agustus tahun lalu Go-Jek mendapatkan suntikan dana sebesar US$ 200 juta dari Sequoia Capital. 

Empat, pada saat start up-start up ini mendapatkan investasi triliyunan, saham transportasi konvensional kembang-kempis di pasaran. Ini bukan tentang nasib para opang atau para sopir taksi konvensional, Saudara-Saudara. Ini tentang korporasi-korporasi besar.
 
Lima, dengan adanya campaign yang saya sebutkan di atas. Itu berarti posisi blogger mulai diperhitungkan. Diperhitungkan sebagai peluru, pihak bayaran yang hanya dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang bahkan kita sendiri tidak tahu. 

Terus terang saya sedih. Monetesasi blog ternyata hanya berujung kepada ini. Job review, reportase, campaign, placement article, afiliasi, dan lain-lainnya itu membuat kita mudah sekali dijadikan alat. Itu hanya satu campaign, dan saya yakin akan ada campaign-campaign lainnya yang tidak kalah mengerikan. 

Baru berapa tahun monetesasi blog ini mulai marak? Tapi kita sudah sampai pada titik nadir ini. Hari ini cuma korporasi-korporasi yang menjadikan blogger sebagai peluru, besok mungkin kita akan dijadikan alat kampanye politik. Atau mungkin sudah?

For the God Sake, wake up! 

Itu sebabnya mengapa senior-senior saya selalu menekankan, dedikasi, dedikasi, dedikasi! Memonetisasi blog sah-sah saja. Toh memang sudah zamannya. Tapi izinkan saya mengajukan satu pertanyaan: demi uang, maukah Anda hanya dijadikan peluru? 

Salam,
~eL

 

48 Comments

  1. April 6, 2016 at 8:21 am

    dunia perblogeran bakal makin hot nih kayaknya ya mbk,kudu rajin2 ngadem nih, byr bs milah milih, dan ngadem yg paling enak di dpn kulkas *ahay

  2. April 6, 2016 at 8:24 am

    Ini bagus nih kalau merek kulkas minta endors. Bwahaha.

  3. April 6, 2016 at 8:26 am

    *puk-puk Uchan*

  4. April 6, 2016 at 8:27 am

    Mencerna tulisan ini berat rasanya… kok jadi mengerikan gini urusan blogging. Miris aja ngebayangun mereka yang masih berkutat dengan urusan perut dan nggak ngerti sepelik ini bahwa dibalik sebuah job, blogger dijadikan peluru atau martir politik kok rasanya harus narik nafas panjang dulu baru mencernanya.

  5. April 6, 2016 at 8:44 am

    Tulisannya sangat bernas…dan saya satu pemikiran masalah demo kemarin…saya juga sempet tertawa denger ada yang menggratiskan dan saya punya pemikiran kebijakan itu takkan bisa membeli keloyalan konsumen. Good job. Tapi kayanya atmosfir per bloggeran akan semakin panas mba Ucan

  6. April 6, 2016 at 8:47 am

    Cariin duda dong buat pukpukin aku. Hahaha.

  7. April 6, 2016 at 8:50 am

    Dalam setiap profesi, selalu ada isu seperti ini. Pun di dunia kepenulisan biasa. Aku sih nggak aneh lagi, Mbak.

  8. April 6, 2016 at 8:53 am

    Perlu banyaj belajar lagi biar bisa menulis seperti Mbak Amarawati. Sebagai blogger pemula, saya suka tulisannya Mbak begitu mengalir dan enak di baca meski lumayan panjang ulasannya.

  9. April 6, 2016 at 8:54 am

    Ini tulisan panas terakhir, kok. Janji deh. 😀

  10. April 6, 2016 at 8:58 am

    beberapa kali baca tulisan mbak eL ini, suka dengan cara penuturannya, apapun temanya hehehhe

Leave a Reply