Sejak setengah bulan yang lalu, aku telah menginvestasikan uang di sebuah rental buku yang terletak di dekat sekolah Salwa. Bukan, bukan sebagai salah satu pemilik saham atau menyumbang banyak buku untuk dipinjamkan, tapi menjadi member dan membeli voucher novel. Setelah mendapatkan member card yang chic (bentuknya seperti kartu ATM dan berwarna biru), aku langsung meminjam tiga buah novel. Sebenarnya aku lebih suka member card itu berwarna ungu dengan background kupu-kupu, ada namaku di situ (bukan cuma nomor), dan foto close up ukuran 4x6cm. Tapi kata penjaganya, fasilitas itu hanya akan didapat jika aku bersedia membayar uang pendaftaran sebesar 150 ribu. Well, kurasa nomor dan warna biru saja sudah cukup.

Dengan adanya sang voucher (voucher adalah kata ajaib kedua setelah diskon), aku akan mendapatkan diskon 30% untuk peminjaman minimal 3 buah novel. Dan aku pun jadi gila, dalam arti positif tentunya.

Sebagai pengangguran tak bertuan dan tidak memiliki penghasilan, tentu saja aku tak sanggup membeli semua novel yang aku inginkan. Maka rental itu adalah surga. Seperti Thinker Bell (toko baju anak-anak), seperti gerai Fladeo, seperti sepatu-sepatu Yongki Komaladi setelah diskon 70%, seperti toko tas di BTC yang menjual tas berbagai macam model, warna, dan ukuran, serta mematok harga: all 35 ribu.

Banyak novel John Grisham, Shidney Sheldon, Clara Ng, Stephen King, chicklit, teenlit, bahkan Dan Brown. Jadi, setiap hari aku membaca paling sedikit dua novel berdurasi tak kurang dari 400 halaman. Penjaganya menobatkan aku sebagai pembaca novel tercepat sepanjang sejarah rental buku mereka. I’m proud of myself. Mungkin kalau aku bisa membaca lima novel dalam satu hari, aku akan dapet diskon 50%. Siapa tahu, kan?

Sampai saat ini, aku sudah membaca semua karya Clara Ng, kecuali Tea For Two, Dimsum Terakhir, dan Indiana Chronicle. Well, memang jauh dari kata semua, tapi setidaknya aku sudah membaca banyak. Aku bahkan menandai buku-buku Pearl S.Buck dan Shidney Sheldon di ‘my want to read list’, tapi nanti saja, sekarang aku lagi suka metropop dan chicklit.

Ada dua buah buku yang sangat sangat sangat ingin kubaca: Perfume (Pattrick Suskind), dan Virgin Suicide. Kedua buku ini direkomendasikan oleh teman, dan untuk urusan buku, aku memang selalu merasa harus terprovokasi. Keduanya berisi kisah pembunuhan dan novel best seller. AKU HARUS MEMBACANYA. Karena aku tidak ahli dalam menulis chicklit apalagi teenlit, maka aku merogoh ke dalam otak psikopatku dan memutuskan untuk jadi penulis cerita misteri. Jadi aku harus membaca kedua buku itu,dong. Terserah apa kata orang, aku sudah memutuskan.

Buku memang selalu menggairahkan, lebih menggairahkan daripada para finalis L-Men. Sejak kecil aku selalu memiliki alasan -dalam istilahku- sedikit memanjakan diri dengan buku. Aku selalu berhasil membujuk diriku sendiri untuk batal membeli sepatu boot selutut bermanik-manik indah, tapi tidak pernah benar-benar berhasil menyimpan uang jika berhadapan dengan mahluk indah bersampul keren dan ada jutaan kata di dalamnya ini.

Seperti keyakinanku bahwa sepatu paling keren sedunia adalah sepatu yang dirancang oleh Yongki Komaladi, aku pun yakin bahwa suatu hari nanti aku akan punya rental buku sendiri. Dengan katalog-katalog yang dilengkapi sinopsis dan resensi (tentu saja aku yang membuat sinopsis dan resensinya). Aku akan duduk di belakang konter, menjerat setiap member untuk membaca lebih banyak dari hari ke hari. Dan aku bebas membeli buku apa saja yang kuinginkan dan yang sedang tren di pasaran tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara waktu itu belum tiba, aku bisa memulainya dengan meminjam dan membaca buku banyak-banyak. ^_^

Leave a Reply