Brak!

Potongan mimpi berserak lantak ke atas lantai bersama kepingan hatiku. Mungkin juga hatimu. Warna matamu memerah, berbau anyir darah.  Sedangkan di luar malam kian jengat dan masa-masa menelisik terlipat. Engkau mencaci aku memaki. Kita berdua berubah dari manusia menjadi serigala-serigala. Saling mencakar, saling menikam, saling merajam. 

Demi malam yang teramat suram! Telah kudedah segala amarah. Engkau yang hanya bertahan karena rasa kasihan, dan aku yang tetap bertahan karena firasat sialan. Pada akhirnya jejalan kita tak pernah bertemu kecuali onggokan nisan-nisan. Yang demi Tuhan, sama sekali tak bisa dibawa berjalan. 

Pergi dan larunglah segala kesedihan-kesedihan! Aku bukan perempuan yang di dadanya tersimpan kehangatan seperti yang selama ini engkau harapkan. 

Aku ini petarung, sayang!
Di tanganku tersarung pedang-pedang mendung. Di punggungku terbebat segala macam belati murung.  

Aku ini pembangkang, sayang!
Bermanis-manis hanya topeng usang yang mungkin dipakai perempuan lain, tapi bukan aku. Karena dari mataku bergulung gelombang-gelombang. Sebab dari mulutku terlahir janin-janin ular. 

Maka engkau bebas sekarang, tidak lagi dibajak jerjak-jerjak. Merasa bebaslah! Gapai apapun yang ingin kau gapai. Berjalanlah! Berlarilah! 

(Aku hanya cermin, terima kasih sudah berkaca meski engkau lelah dan berdarah-darah)

Leave a Reply