Tolong katakan, apa merek baju favorit Anda? Sepatu merek apa yang sering Anda pakai? Tas merek apa yang membuat Anda bangga ketika memakainya? Di mana Anda nongkrong ketika akhir pekan? Sayur dan buah-buahan dari negara mana yang biasa Anda beli? 

Apakah itu tas merek mentereng seharga puluhan juta yang Anda beli di Singapura? Ataukah baju-baju merek luar yang dengan bangga Anda beli di mal padahal Anda tidak tahu bahwa baju-baju itu dibuat di Bintan sana? Bisa jadi Anda lebih senang memakai sepatu merek terkenal hanya karena prestise sampai-sampai rela membeli barang-barang KW. Ataukah Anda adalah salah satu netizen yang sering mengunggah foto gelas kopi berlogo perempuan bermahkota lengkap dengan keterangan check in supaya orang-orang tahu bahwa Anda adalah masyarakat urban kekinian? 

Jika itu yang terjadi, selamat! Anda sudah berkontribusi kepada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. 

Tidak, saya tidak ingin mengatakan bahwa yang Anda lakukan adalah salah. Itu uang Anda, gaya hidup Anda. Silakan lakukan dan habiskan dengan cara Anda sendiri. Tapi, lain kali kalau rupiah merosot lagi, tidak usah memaki-maki pemerintah di media sosial karena toh Anda tidak memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia. 

*

KENAPA HARUS PRODUK LOKAL?

Pada tahun 2005-2010, saya pernah bekerja sebagai production coordinator dan shipping officer di beberapa pabrik di Bintan, Batam, dan Cimahi. Pekerjaan saya berurusan dengan impor dan ekspor. Pabrik-pabrik tempat saya bekerja memproduksi barang-barang dengan merek yang sering membuat kita orang Indonesia merasa bangga. Bukan karena kualitasnya, tapi karena prestisenya. 

Batam, sebagai salah satu Kawasan Free Trade Zone (FTZ) menjadi salah satu pintu masuk barang-barang impor. Dari mulai cangkir plastik sampai kedelai, dari mulai mesin cuci sampai besi dan baja. Ratusan kontainer masuk setiap harinya di Pelabuhan Batu Ampar, memasok Indonesia dengan barang-barang yang sebetulnya bisa kita produksi sendiri. Sayangnya, saya menjadi bagian dari euforia FTZ itu. Menjadi petugas yang membuat dokumen-dokumen impor, memasukkan berkontainer-kontainer komoditas non migas, membanjiri pasar Indonesia dengan produk-produk yang sebetulnya bisa dibuat oleh anak negeri sendiri. Dari situ saya mulai merasa sedikit “muak”. Sejak saat itu pula saya berhenti menggunakan produk impor kecuali untuk produk-produk yang memang tidak bisa dibuat oleh orang Indonesia.      

Jadi kenapa harus produk lokal? Ya, kenapa tidak? Toh baju-baju dengan logo mentereng itu dibuatnya di Pulau Bintan. Toh sepatu yang sering menjadi ikon anak muda itu dibuatnya di Soreang dan Karawang. Toh tas-tas yang sering dipamerkan oleh ibu-ibu pejabat itu justru lebih banyak dipalsukan karena harganya yang tidak terjangkau.  

Jika Anda masih butuh diyakinkan mengapa harus menggunakan produk lokal, ini keuntungan menggunakan produk lokal daripada produk luar:

Keuntungan Menggunakan Produk Lokal
Sumber: Langit Amaravati

 

*

 

FOOTSTEP FOOTWEAR

Ngomong-ngomong tentang produk lokal, Anda tentu ingat bahwa pasca krisis moneter pada tahun 1998, Bandung yang tadinya Kota Kembang bertambah julukannya menjadi Kota Factory Outlet (FO) dan Kota Distribution Outlet Clothing (DISTRO). Hal ini mungkin tidak menjadi istimewa jika outlet-outlet itu dibangun oleh para pengusaha yang sudah terbiasa berkecimpung di dunia bisnis. Hal ini menjadi istimewa justru karena para pengusaha FO dan DISTRO ini adalah anak-anak muda yang biasanya jangankan membuat usaha, move on dari mantan saja susah. Tapi tolong, jangan pernah ragukan kreativitas anak-anak Bandung, kami memang muda, tapi berbahaya. 🙂

Bisnis clothing line yang tadinya hanya berupa direct sales kemudian berkembang menjadi bisnis online. Ketika masyarakat semakin familiar dengan Internet, menginginkan kemudahan dalam segala hal termasuk belanja, bisnis clothing line online ini jelas menjawab tantangan pasar. Brand lokal dengan sistem pemasaran global. Isn’t it great?

Tim Footstep Footwear
Sumber: Footstep


Dari sekian ratus clothing line baik offline maupun online yang digawangi para pemuda di Bandung, saya ingin memperkenalkan Footstep Footwear. Brand lokal ini mulai berdiri pada Oktober tahun 2012. Di awal berdiri, Footstep hanya memproduksi sepatu, lalu tahun 2015 mulai merambah ke tas. 

Menurut hasil wawancara saya dengan Kang M. Randy Oktaviano, founder-nya Footstep, lelaki kelahiran tahun 1987 ini pada mulanya gemar mengoleksi sneakers, lalu mulai berpikir untuk menjadikan hobinya ini sebagai bisnis. Alasan sederhana memang, tapi ketika ditangani dengan kegigihan dan profesionalitas, alasan sederhana ini ternyata menuai hasil yang “tidak sederhana”.        

“Born to Make a History”, begitulah moto Footstep Footwear. Saya kira moto itu tidak berlebihan karena setiap langkah besar tentu dimulai dari langkah-langkah kecil. Dengan kualitas produk yang mereka miliki, bukan tidak mungkin kalau cita-cita mereka untuk meramaikan dunia fashion internasional akan segera tercapai. 

*

PRODUK FOOTSTEP

 

Detail sepatu Footstep
Sumber: Footstep

Siapa bilang bahwa produk-produk brand lokal tidak sanggup bersaing dengan produk global? Kalau berbicara tentang kualitas, produk yang ditawarkan Footstep justru sangat bisa bersaing di kancah internasional. Sebelum memerkenalkan produk-produknya, saya ingin memberikan semacam testimoni dan sedikit alasan kenapa Footstep saya katakan sebagai produk lokal yang sanggup bersaing di kancah internasional:

  1. Desain. Dari sisi desain, produk Footstep akan memangkas kekhawatiran Anda tentang fashion. Oh iya, Anda tidak usah takut menggunakan model yang kehilangan zaman. Bahkan, jika dibandingkan dengan clothing line sejenis, model produk Footstep memiliki unique value
  2. Kualitas. Rapi sekali. Saya tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya dengan kata-kata, Anda bisa melihat kualitas pengerjaannya di foto yang saya sertakan di atas. 
  3. Handmade. Dibuat oleh para perajin sepatu di Ciganitri, Bandung. Itu sebabnya mengapa setiap produk detail sekali. Saya sendiri mulai menggandrugi produk-produk handmade karena sensasi human touch-nya berbeda dengan produk pabrikan. 
  4. Bahan. Menggunakan bahan-bahan dari kualitas terbaik mulai dari upper, lining, sampai sol. 
  5. Harga. Ketika menggunakan produk-produk lokal, kadang kita agak takut dengan harga. Maklum, karena beban biaya produksi yang cukup tinggi. Tapi izinkan saya mengatakan bahwa ketakutan Anda tidak beralasan. Produk Footstep berada di kisaran Rp170 ribu-Rp250 ribu. Untuk sepatu yang bisa mendongkrak kegantengan Anda hingga 200%, it’s worth it. 

 

Bengkel sepatu Footstep
Sumber: Footstep
 
 

 

Footstep membagi produknya ke dalam 3 kategori:


1. Casual
 
Cosmo Darkbrown
Sumber: Footstep

Jenis sepatu yang bisa Anda gunakan ke kantor atau bertemu calon mertua. 

  • Bravo
  • Bruno
  • Cosmo
  • Pedro 
  • Polar 
  • Derby 
2. Sneakers
 
Wazza Brown
Sumber: Footstep
Yang ini bisa dipakai untuk jalan-jalan asyik atau whatever suits you. 🙂
  • Basic
  • Decon
  • Fasto
  • Wazza
  • Arena
  • Earth Reborn
  • Trainer

3. Bags
 

Obelix Black
Sumber: Footstep

 

  • Eazy
  • Monza
  • Obelix
  • River
*

LOCAL ISSUE, GLOBAL SOLUTION

Ketika berbicara produk lokal, yang sering muncul di benak kita adalah kekhawatiran tentang daya saing. Sebagai pengguna produk lokal sekaligus sering mengamati bagaimana mereka menjalankan bisnisnya, saya juga memiliki kekhawatiran yang sama. Namun sejak memutuskan terjun ke bisnis online akhir tahun 2014 lalu, kekhawatiran saya sepertinya agak tidak beralasan. Ya, selain end user, saya juga reseller khusus sepatu-sepatu handmade Bandung. Cek IG kita ya, Sist! Hahaha. Well, anggaplah ini sebagai bentuk kontribusi nyata saya kepada produk-produk lokal. Idealisme dan bisnis ternyata bisa berjalan seiringan.
 
Nah, selama berinteraksi dengan para supplier, khususnya Footstep, saya kok merasa berbesar hati. Ada beberapa yang saya amati:
 
  1. Manajemen. Footstep hanya digawangi oleh 4 orang tim inti, tapi jangan tanya profesionalitas mereka. Dengan manajemen yang baik seperti ini, saya yakin bisnis produk lokal akan terus berkembang.
  2. Marketing. Menggunakan berbagai media online dan offline, mudah sekali diakses. Saya juga mengamati berbagai media online mereka dari mulai website sampai twitter. Gaya marketingnya elegan, nyaris tidak pernah membuat kesal pelanggan. 
  3. Komunikasi. Semua komunikasi ditangani dengan baik, tidak ada slow respons maupun supplier yang tanpa kabar. Anda yang sering berbelanja online pasti tahu bagaimana ngerinya ketika menunggu nomor resi. Tidak begitu dengan Footstep, nomor resi di-BC satu atau dua hari setelah pengiriman. 
  4. Omzet. Ini rahasia, tapi diam-diam saya menghitung berapa jumlah nomor resi yang mereka kirimkan setiap harinya, rata-rata 40. Untuk skala UKM, ini jumlah yang cukup menenangkan. 
 
Stand Footstep di Urbrand Market
Sumber: Footstep

Lalu bagaimana dengan sosialisasi produk-produk lokal? Oh ada, dan banyak. Anda yang berada di Bandung dan sekitarnya tentu sudah hafal tentang pameran-pameran produk lokal yang sering diadakan. Salah satunya adalah Urbrand Market tanggal 21-27 September 2015 kemarin. Sempat berkunjung ke stand Footstep?
 
Atau kalau Anda sedang berjalan-jalan ke Jakarta, cobalah mampir SMESCO INDONESIA. Di sana ada UKM Gallery, tempat produk-produk lokal terbaik Indonesia dipamerkan.  
 
Jadi ketika bisnis produk lokal dikatakan banyak sekali mengalami hambatan baik teknis maupun non teknis, barangkali kita harus mulai memecahkan masalah-masalah lokal itu dengan solusi global.      

 

*

CARA MENDUKUNG BRAND LOKAL

Cara Mendukung Brand Lokal
Sumber: Langit Amaravati


Lalu bagaimana sih cara mendukung brand-brand lokal agar go global? Tidak sulit, kok. Anda tak harus menanamkan modal atau melakukan hal-hal besar seperti itu. Cukup dengan 4 langkah kecil tapi memiliki hasil yang signifikan. 


1. Subsitusi
Lebih memilih produk lokal daripada produk impor. Misalnya, ketika Anda ingin membeli apel di pasar atau supermarket, pilihlah apel lokal. Toh harga, gizi, dan rasa apel lokal sebanding bahkan jauh lebih baik dari apel impor. Begitu juga dengan barang-barang lain, kalau masih ada produk lokal, mengapa harus menggunakan produk impor? Sesederhana itu.      

2. Kontribusi
Kalau Anda memiliki ide bisnis produk lokal, silakan berkontribusi. Ini juga untuk meningkatkan geliat ekonomi di Indonesia. 

3. Kritisi
Untuk mendukung produk lokal, tidak cukup hanya dengan komparasi antara produk impor dengan produk lokal kalau akhirnya Anda lebih memilih produk impor dengan alasan kualitas. Silakan beri kritisi yang membangun agar terjadi peningkatan kualitas produk lokal. Kalau produk lokal kita sanggup “bertarung” di kancah dunia, siapa lagi yang bangga kalau bukan kita?

4. Berbagi
Berikan testimoni dan bagikan kepada keluarga dan teman-teman Anda. Yakinkan orang-orang di sekitar Anda bahwa menggunakan produk lokal memiliki banyak keuntungan. Testimoni dari mulut ke mulut lebih memiliki dampak signifikan daripada iklan yang dipasang di tepi jalan. 

Atau kalau Anda adalah netizen yang aktif media sosial, bisa lho dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman menggunakan produk lokal. Mbok ya check in di kafe-kafe atau restoran cepat saji luar negeri itu agak dikurangi, ganti dengan kedai-kedai kopi atau rumah makan lokal.

*

Sejauh ini, mungkin Anda menganggap bahwa produk lokal hanyalah kerajinan-kerajinan tangan seperti batik, kriya, atau produk-produk etnik saja. Tentu saja itu kurang tepat. Footstep yang saya ceritakan di atas hanyalah satu di antara ribuan produk lokal yang tersebar di Indonesia. Produk lokal yang berusaha menjawab tantangan pasar global.

Tapi, kontribusi paling nyata untuk mendukung produk lokal bukan hanya dengan cara membeli, tapi dengan meneguhkan hati: dengan merasa bangga. Support your local brand and be proud of it.      

Salam,

~eL

34 Comments

  1. October 20, 2015 at 9:34 am

    Sejujurnya saya menyukai produk lokal terutama batik. Saya pernah bikin sepatu custom batik tapi kualitas bahan sepatunya ternyata kurang bagus alias kurang nyaman dipakai. Tas cantik pun saya masih memilih produk luar karena ketahanan lamanya itu walau harganya masih ramah lah di bawah 500rb (da pasangan yang rela membelikan). Tapi beberapa produk yang dipakai di rumah masih ada yang lokal. Tetap aja ada jenis-jenis produk yang masih kurang memuaskan kualitasnya. Jadi pertimbangan juga dalam memilih merek produk atas nama kualitas dan ketahanan usia barang. Untuk sepatu yang dipajang di tulisan ini, nggak ragu lah, saya soal kualitas. Soalnya kalau pemasaran, maintenance, dan manajemen bagus kelihatan kok dari tampilannya dan cara pendistribusiannya. Demikian. 🙂

  2. October 20, 2015 at 12:28 pm

    Coba komen, ah. Masuk gak, yah.
    Artikelnya bikin jiper. Aku dukung kamu ajah, eh, dukung produk lokal. 😉

  3. October 20, 2015 at 3:11 pm

    duh… tetiba jadi pingin beli sepatu… aku bikin juga sepatu buatan bandung tapi bukan footstep… ada di IG sih.. keren2 modelnya, handmade by order lagi. local brand emang top

  4. October 20, 2015 at 3:24 pm

    Sepertinya setelah membaca postingan ini otak saya menjadi terprovokasi untuk 'ON' mencari produk lokal.
    Kasihan juga petani kita klo konsumen lebih memilih produk-prduk pertanian luar negeri. Udah proses menaman hingga panen kompleks. Bukan hanya produk pertanian saja, tetapi juga aneka industri kreatif digital (animasi, game, dll) dan nondigital (seperti sepatu, tas pakaian dsb)

    Nice posting mbak 🙂

  5. October 21, 2015 at 1:09 am

    tak gentar… tak gentar… tak gentar… *rapal mantra tolak minder* 😀 kece ya footstepper-nya… maksudnya kinerjanya *alihkan fokus dari wajah2*

  6. October 21, 2015 at 1:18 am

    Sepatu motif batik bisa diakali dengan bahan kulit sintetis yang dilukis dengan motif batik. Karena kalau pakai batik beneran mah jelas nggak bisa tahan lama. Udah banyak sih yang pakai metode begini, sebetulnya.

  7. October 21, 2015 at 1:18 am

    Dukung aku, Kak. Dukung aku. Hahaha.

  8. October 21, 2015 at 1:36 am

    Wuih, sepatunya Bandung ini emang udah ke luar negeri segala, lho. *promo*

  9. October 21, 2015 at 1:37 am

    Support our local products! o/

  10. October 21, 2015 at 1:38 am

    Kalau mau beliin sepatu buat kekasih, boleh banget jalan-jalan ke page ya, Sist. Hahahah.

Leave a Reply