Bu, Kuku Saya yang Berdarah-darah Ini

Dari sekian banyak keputusan yang saya buat dalam hidup, masuk ke sekolah kejuruan adalah keputusan yang pernah saya kutuki sekaligus syukuri. Jujur, saya tidak pernah bercita-cita menjadi sekretaris atau petugas administrasi. Saya ingin jadi tentara, pengacara, guru, fotografer, desainer, dan entah apa lagi.

Masuk ke SMK Negeri I Bandung jurusan Administrasi Perkantoran adalah “jebakan” yang disiapkan Ibu. Alasan Ibu memasukkan saya ke sana memang sederhana: agar setelah lulus saya siap bekerja. Alasan yang disertai bujukan, “Teh, kalau sudah kerja dan punya uang sendiri, Teteh bebas kok mau kuliah di jurusan apa pun.”

Untungnya, meskipun ogah-ogahan, toh saya tetap rajin belajar. Meskipun sering sembunyi-sembunyi membaca novel Salandra ketika Bu Vida, guru Etika Komunikasi, sedang menerangkan, toh selama tiga tahun ranking saya selalu bagus, juara kelas malah. *songong


Mata pelajaran di SMK jelas berbeda dengan SMU. Jika di SMU murid-muridnya dibekali ilmu berbasis pengetahuan karena dipersiapkan untuk masuk ke universitas, murid SMK sebaliknya. Kami dibekali ilmu berbasis keahlian karena dipersiapkan untuk terjun langsung ke dunia yang sebenarnya: dunia kerja.

Saat lulus dan mulai bekerja itulah saya mulai mensyukuri “siksaan” yang menempa selama tiga tahun. Saya mulai mengerti mengapa dulu kami diberikan pelajaran mengetik 10 jari dengan mesin tik Brother sebesar babon, mesin tik yang membuat jari dan kuku saya berdarah-darah dalam arti harfiah. Saya mengerti mengapa dulu Pak Agus, guru bahasa Inggris tidak pernah memperbolehkan kami pulang sebelum kami melafalkan “good morning” dengan benar.

Ya karena keahlian-keahlian yang diajarkan di SMK itu memiliki manfaat bahkan sampai hari ini, ketika saya tidak ngantor lagi.

Ada dua macam manfaat yang saya rasakan sebagai lulusan SMK Jurusan Administrasi Perkantoran: manfaat umum dan khusus.

MANFAAT UMUM

Saya kira lulusan SMK jurusan apa pun merasakan manfaat ini.

1.Siap Menghadapi Dunia Kerja

Seperti yang saya katakan di atas, murid SMK memang dipersiapkan untuk terjun langsung ke dunia kerja. Dengan program link and match, anak-anak SMK dididik dengan metode 50% teori, 50% praktik. Itu kalau zaman saya. Dengar-dengar sekarang sudah 40% teori, 60% praktik.

Di SMK Negeri I Bandung contohnya. Pelajaran kearsipan adalah 1 jam belajar Sistem Kearsipan Dewey dan kode-kodenya, sisanya adalah ngangkut-ngangkut brief ordner dari ruang guru ke kelas, eh, maksud saya praktik cara mengarsipkan surat-surat dengan benar.

Walaupun yaaa … ketika di dunia kerja jarang ada kantor yang cukup gila untuk memakai Sistem Kearsipan Dewey, setidaknya pengetahuan dan keahlian yang dibekalkan kepada kami memang berguna.

2. Memiliki Daya Saing

Ini yang membedakan murid SMK dengan SMU. Ketika terjun ke masyarakat dan menjadi bagian dari gerigi perekonomian Indonesia *halah, kami adalah komoditas SDM yang ready to use. Dengan begitu, lulusan SMK memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Anda ingin bukti? Keahlian yang dimiliki seorang lulusan SMK Negeri I Bandung setara dengan keahlian yang dimiliki para lulusan D3 LP3I. Dengan syarat jurusannya sama. Kalau SMK Pembangunan ya jelas beda dengan LP3I Manajemen Perkantoran.

3. Bebas Memilih Masa Depan

Poin yang satu ini memang agak-agak puitis sekaligus miris. Iya, lulusan SMK diberi pilihan untuk meneruskan kuliah atau langsung bekerja. Meski saya akui, tidak mudah menembus universitas negeri lewat jalur SNMPTN karena ada beberapa mapel yang tidak kami pelajari.

4. Ilmu yang Aplikatif

Ketika murid SMU sedang belajar rumus kimia yang belum tentu digunakan di kehidupan nyata, kami sedang belajar mengetik 10 jari sampai kuku jari kami berdarah. Sambil melihat keyboard? Ya jelas nggak lah. Guru di SMK itu memang tukang siksa, kalau sampai ketahuan melihat keyboard ketika mengetik, maka siap-siaplah ada penggaris yang dipukulkan ke tangan.

Nah, mengetik ini kan keahlian yang aplikatif di segala bidang dan tidak melulu dipakai di dunia kerja. Di kehidupan sehari-hari pun kita menggunakannya.

5. Kompeten

Ada 3 macam ujian sebagai syarat kelulusan: teori, praktik, dan kompetensi. Kalau ujian teori dan praktik Anda pasti sudah paham lah. Tapi, Anda yang tidak berasal dari sekolah kejuruan mungkin belum familiar dengan yang namanya ujian kompetensi.

Di zaman saya dulu, ada yang namanya ujian kompetensi, sekarang namanya Ujian Kompetensi Keahlian (UKK). Yang diujikan adalah keahlian sesuai dengan jurusan kami. Jika lulus, kami akan diberikan sertifikat kompetensi dan mendapat gelar. Jelek-jelek begini, gelar saya junior sekretaris dengan nilai 8.29 (amat baik), lho. Walau sebetulnya saya lebih senang jadi sekretaris pribadi akang-akang berjenggot mendebarkan, sih. (Serius dikit napa, Chan?)

6. Magang

Sebelum dijerumuskan (woi, istilah disiplinkan, woi) ke dunia kerja, murid-murid sekolah kejuruan akan magang selama tiga bulan di berbagai instansi dan perusahaan. Dibayar? Ada yang dibayar, ada yang tidak.

Magang bermanfaat agar SDM tidak mengalami culture shock (?). Semacam simulasi gitu lah. Waktu itu saya magang di Diklat PU Wilayah II Jawa Barat. Jobdesc saya adalah main game mahyong menangani tugas-tugas kesekretarisan seperti pengurusan surat masuk dan surat keluar, kearsipan, dan penerimaan tamu.


MANFAAT KHUSUS

Manfaat khusus yang saya maksud adalah keahlian yang tidak hanya bermanfaat ketika di dunia kerja, tapi juga di kehidupan setelahnya. Akhirat, dong? Gini nih kalau menulis tengah malam, suka agak-agak salting. Maksud saya adalah bermanfaat dalam menunjang karier para lulusannya.

Karena saya lulusan administrasi, saya hanya akan bercerita tentang manfaat sesuai jurusan saya.

1. Mengetik

2012-02-09manual-typewriter-0209stock

Dulu saya belajar mengetik memakai mesin tik vintage seperti ini (Foto: zdnet.com)

Jurusan Administrasi Perkantoran, Prodi Sekretaris, dihadiahi dengan 6 jam pelajaran mengetik per minggu. Blind typing, dengan target kecepatan minimal 100 Word per Minute (WPM), dan tingkat akurasi 100%. Konon, rata-rata kecepatan mengetik adalah 72 WPM, tapi standar kami tidak segitu.

Seakan-akan “siksaan” itu belum cukup, zaman saya dulu kami bukan belajar mengetik di mesin tik cantik atau komputer, tapi di mesin tik manual yang besar itu, lho. Mesin tik ini adalah jenis yang akan membuat jari Anda tijalikeuh dan harus dientak sekuat tenaga agar huruf di kertas dapat dibaca.

Tapi, jujur, saya harus berterima kasih kepada Bu Yetti. Karena jasanyalah hari ini saya bisa mengetik 10 jari, blind typing, dengan kecepatan … entahlah, belum pernah dites lagi. Akurasi? Ya, sekitar 95%, masih banyak typo dan salah eja.

And you know what? Siapa yang sangka kalau keahlian mengetik ini justru menjadi modal dasar ketika saya menjadi penulis?

2. Mesin Kantor

Cara Anda menyebut mesin-mesin kantor, peralatan, dan perlengkapan kantor adalah indikator apakah Anda profesional atau tidak. Contoh kecil, bagaimana cara Anda menyebut benda ini?

perforator

Pembolongan kertas? Ini namanya perforator atau puncher, Beib. Yang suka membolongi kertas namanya rayap.

Mungkin ini terdengar sepele, tapi hal sepele ini kemudian menjadi kebiasaan yang membuat kami para lulusan SMK lebih serius menghadapi hidup.

3. Etika Komunikasi Bisnis

Percaya atau tidak, mengangkat telepon dengan salam pembuka “hallo” atau “assalamualaikum” akan membuat kami tidak lulus ujian kompetensi. Kok ya ribet banget? Karena komunikasi formal dengan nonformal jelas berbeda. Seorang sekretaris profesional harus tahu cara berkomunikasi dengan baik.

Ada satu kisah inspiratif mengenai etika komunikasi ini. Dulu saya pernah bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko roti. Waktu itu saya baru beberapa hari bekerja dan sedang membereskan display ketika telepon berdering. Cici pemilik toko meminta saya untuk menjawab telepon tersebut.

“Honey Bread and Cake. Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa saya.

Setelah urusan telepon selesai, si Cici memanggil saya dan bertanya mengapa saya menjawab telepon dengan cara seperti itu. Ya saya menjelaskan bahwa memang seperti itulah cara menjawab telepon formal, seperti yang saya pelajari di sekolah kejuruan. Saat itu juga saya dimutasi jadi staf.

Dalam kehidupan sehari-hari dan profesi yang kini tengah saya geluti, etika komunikasi berguna saat saya berhubungan dengan redaktur, editor, agensi, dan brand.

4. Surat-Menyurat

Segala sesuatu itu ada ilmunya, termasuk ketika membuat surat. Kami mempelajari seluruh aspek surat-menyurat formal dan informal dari mulai bentuk, anatomi, jenis lipatan, dll.

Selain surat, kami juga diharuskan hafal jenis dan ukuran kertas, jenis dan ukuran amplop, dan semua hal yang berhubungan dengan komunikasi tulisan.

Di dunia kerja, keahlian ini sangat berguna dan siapa sangka bahwa keahlian yang satu ini juga berguna sampai hari ini? Ukuran dan jenis kertas berguna untuk karier desain saya, misalnya. Di SMK juga ada pelajaran membuat invoice, FYI aja sih.

5. Kearsipan

Tujuan utama kearsipan adalah mudah menyimpan dan menemukan kembali. Ada banyak sistem kearsipan, berdasarkan tanggal, nomor, perihal, dll. Contoh kecil, keahlian ini berguna saat saya menyimpan dan menemukan kembali perasaan saya yang terserak, oke serius, kearsipan adalah ilmu dan keahlian yang bermanfaat dalam segala aspek kehidupan.

6. Kasual

Anda tahu jabatan apa yang selalu ada di setiap perusahaan? Admin. Jadi keahlian yang pernah dibekalkan kepada saya adalah jenis keahlian yang tidak akan tergerus waktu.


Oh iya, sekolah kejuruan selalu identik dengan frasa “mudah mendapatkan pekerjaan”. Meskipun saya lulusan SMK, tapi dalam kesempatan kali ini saya ingin memberikan sedikit nasihat. Jangan pernah sekolah untuk bekerja, datanglah ke sekolah untuk menuntut ilmu agar bisa menjadi pengusaha.

Dogma dan janji yang kerap digaungkan oleh sekolah-sekolah kejuruan merupakan warisan pos kolonial dan Orba agar kaum-kaum proletar tetap tidak memiliki akses terhadap alat produksi dan terlena oleh gaji. Well, sepertinya daya tahan otak saya sudah mulai memburuk. Jadi, postingan ini sampai di sini saja.

Salam,
~eL
(Alumnus PK3 SMK Negeri I Bandung, angkatan 1998-2001)

4 Comments

  1. July 16, 2016 at 6:31 am

    jadi inget 20 tahun yg lalu kuliah di diploma sekretaris
    tiap hari harus berkutat dg mesin ketik jadul

  2. July 16, 2016 at 7:47 am

    Aih, mesin tik! Zaman aku SMA juga ada pelajaran mengetik. Asli pegel linu deh ujung jari nyut-nyutan kelar ngetik. Apalagi kalo ribbon-nya menjelang habis. Butuh hentakan kuat supaya hurufnya muncul di kertas. Hik… :-‘(

  3. July 16, 2016 at 9:17 am

    Kalo soal mesin tik jadul, saya jadi inget masa2 kuliah. Kuliahnya tahun 200-an, tapi kalo bikin laporan mesti ketik manual !!! Hal2 seperti ini yang justru jadi kenangan ya mbak 🙂

    SMK membuat seseorang cepat dewasa karena setelah lulus yang dipikirkan adalah bagaimana utk cepat dapat kerja. Meski sebagian masih banyak yang melanjutkan ke bangku kuliah

    Kalo dari sisi pekerjaan, lulusan SMK memang lebih terampil dan ketimbang lulusan SMA. Makanya lulusan SMK banyak yang bisa kerja di kantor, beda dg SMA, rata2 berkutat di pemasaran

    #IMHO

  4. July 16, 2016 at 1:42 pm

    SMK emang aplikatif banget ya. Eehh gw juga pernah blajar ngetik pas iseng2 ngambil kuliah PR di Interstudi ;p

Leave a Reply