Beberapa hari lalu, dunia blogger dihebohkan oleh seorang buzzer sekaligus blogger yang sedang campaign provider A. Sialnya, si buzzer membandingkan provider A dengan provider B, head to head gitu lah. Di dalam dunia bisnis dan digital marketing, komparasi produk itu lumrah, tapi mesti dilakukan dengan cara-cara yang elegan dan profesional. Nah, sialnya lagi, si buzzer ini melakukannya dengan cara yang menurut saya tidak etis. Selain black campaign di Twitter, dia juga memposting hasil test speed provider B dengan caption kira-kira begini, “Ini nih test speed-nya provider B. Udah nggak bisa naik lagi nih.” Banyak yang memberi komentar dengan nada mengiyakan lalu menyebutkan bahwa mereka lebih suka memakai provider A yang notabane memang sedang dipromosikan oleh si buzzer yang bersangkutan.

Kenapa menurut saya ini tidak etis? Karena, setahu saya, yang namanya sinyal provider itu tergantung kepada lokasi, coverage area, device, dan kesalehan si pemakai. Tambahan dari Kak Haya: juga tergantung kepada simetrisnya arsiran alis mata. Misalnya nih, di kosan saya, sinyal internet yang bisa tembus cuma dari provider B dan C, sedangkan provider A dan D tiarap. Apakah itu artinya provider A dan D jelek? Ya nggak juga, soalnya ketika dibawa ke rumah Ibu di Babakan, sinyal provider D-lah yang justru mangprang. Contoh lain, saya dan kawan-kawan pernah pergi ke daerah pegunungan, masing-masing dari kami memakai provider yang berbeda. Apa kabar sinyal? Semuanya cuma satu bar, edge pula.

Oke, sekian dulu membahas provider. Kasus di atas hanyalah satu dari sekian kasus buzzer kurang ajar. Kali ini saya ingin membahas tentang etika menjadi buzzer dan etika ketika menulis sponsored post. Saya? Yang jarang-jarang nge-buzz ini membahas etika? Well, ini ilmu yang saya dapatkan dari para blogger senior, tak elok rasanya kalau saya pendam sendiri. Iya, tidak?

ETIKA BUZZER & BLOGGER

1. Fokus pada kelebihan

Fokus kepada kelebihan produk yang sedang dipromosikan, bukan kepada kekurangan produk kompetitor. Yang sempurna itu cuma Tuhan dan bulu matanya Syahrini, kawan. Tidak ada produk yang begitu sempurna hingga tak punya kekurangan, juga tidak ada produk yang begitu mengenaskan hingga tak punya kelebihan. Jadi, daripada kita menjelek-jelekkan produk kompetitor, lebih baik fokus kepada kelebihan produk yang sedang kita promosikan.

2. Objektif

Kita boleh saja setia terhadap satu produk, tapi itu bukan berarti bisa mempromosikannya dengan cara membabi buta. Lagi pula, ketika kita sedang nge-buzz, para follower akan bertanya apakah penilaian yang kita lakukan itu murni testimoni pribadi ataukah karena kita dibayar? Jadi, yang selow ajalah.

Terlalu “menjilat” akan membuat follower Anda jengah dan muak. Ini juga akan berefek negatif terhadap produk dan brand yang sedang kita promosikan. Masih ingat kan salah satu poin yang sering ada di dalam brief? Buat konten senatural mungkin. Kenapa? Ya karena konsumen Indonesia sudah lelah diberi “janji-janji surga”.

Lagi pula, sasaran buzzer itu siapa sih? Calon konsumen, follower, dan pembaca, kan? Bukan brand yang meng-hire kita, kan? Jadi buat apa menjilat sedemikian rupa? Biar di-hire lagi? Yakali. Yang dinilai oleh brand ketika campaign adalah impression, exposure, dan enggament dengan target pasar mereka. Konten dinilai dari seberapa “ahli” kita membujuk calon konsumen, bukan dari seberapa ahli kita menjilat brand.

3. Logis, realistis, dan spesifik

Setiap produk memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Setiap calon konsumen juga memiliki selera mereka sendiri. Jadi, tidak ada produk yang tepat untuk semua orang. Itu sebabnya mengapa sebelum nge-buzz kita harus memiliki product knowledge. Agar tetap logis, sasar calon konsumen yang spesifik. Manfaatkan pengetahuan Anda tentang demografi para follower atau pembaca blog Anda.

Contoh:

A: Pembersih wajah ini bagus banget, lho. Bisa mengangkat sisa makeup dalam sekali ulas.
B: Pembersih wajah ini bagus banget untuk kamu yang memiliki kulit wajah berminyak seperti saya. Bisa mengangkat sisa makeup dalam sekali ulas tanpa mengikis kelembapan alaminya.

Contoh A hanya menyebutkan manfaat tapi tidak spesifik, padahal kita tahu bahwa manfaat kosmetik sangat tergantung kepada jenis kulit si pemakai. Contoh B lebih baik karena beberapa poin: menyebutkan manfaat, menyebutkan jenis kulit yang spesifik, memberi kesan testimoni pribadi dengan menyebutkan “kulit wajah berminyak seperti saya”.

4. Persuasif

Ketika sedang nge-buzz, harap diingat bahwa Anda sedang menjadi “peluru” dari rangkaian digital marketing strategy yang diterapkan oleh brand. Salah satu poin penting dari strategi marketing adalah menarik calon konsumen, bukan memaksa atau hanya menjejalkan produk ke hadapan mereka. Brand sudah punya tim advertising sendiri, tugas kita sebagai buzzer adalah membujuk para calon konsumen untuk memutuskan.

Metode paling baik untuk menarik calon konsumen adalah dengan membujuknya. Bagaimana caranya? Gabungkan poin no 1, 2, dan 3. Fokus kepada manfaat produk, sasar calon konsumen yang spesifik, dan tidak berlebihan.

Contoh:
Misalnya kita sedang menjadi buzzer dari produk susu. Manfaat dari susu ini adalah untuk menjaga stamina dan mempercepat pemulihan pasca sakit. Kita tidak bisa mengatakan, “Pokoknya kamu harus minum susu ini biar cepat sembuh dan supaya sehat terus.” Kenapa? Karena, ada orang-orang yang alergi susu. Kedua, itu terlalu general.

Coba ganti dengan kalimat seperti ini, “Saya terbiasa begadang, nyaris setiap malam selalu tidur lebih dari pukul 12 malam. Nah, untuk menjaga stamina dan supaya kesehatan tidak nge-drop, biasanya saya minum segelas susu A dan mengonsumsi makanan yang seimbang. So far, saya jarang sekali mengalami gangguan kesehatan meskipun setiap hari begadang. Eh, ada 3 varian rasa, lho. Kalau kamu, suka rasa yang mana?”

Coba, contoh mana yang kira-kira lebih membujuk?

5. Komparasi Boleh, Asalkan …

Kalau kita mau mengkomparasikan dua atau lebih produk yang sejenis (bisa dari brand yang sama atau berbeda), pastikan dulu produk tersebut berada di level yang sama. Misalnya, Samsung Galaxy J7 Prime tidak bisa dibandingkan dengan Acer Liquid Z320 karena levelnya berbeda. Atau, OLX tidak bisa dibandingkan dengan Lazada karena sistemnya berbeda.

Detailnya seperti ini:

  • Pilih dua produk yang levelnya setara.
  • Buat poin-poin plus dan minus. Hindari membuat konten: produk yang satu plusnya saja, sedangkan produk yang lain minusnya saja. Itu black campaign namanya.
  • Kalau mau aman ketika membuat komparasi produk dengan brand yang berbeda, pilih 3 brand, jangan cuma 2.
  • Biarkan pembaca atau follower yang memilih, tidak usah mendikte.

6. Hindari Mengganggu Buzzer Lain

“Ini sponsored post atau murni testimoni, nih?”
“Waaahhh … kamu banyak job, bagi-bagi, dong.”
“Aku malah punya pengalaman jelek dengan produk ini bla bla bla.”

Anda familiar dengan komentar-komentar seperti di atas? Agak-agak pengen ngegampar ya kalau ada komentar seperti itu di thread sponsored post kita? Iya kalau datangnya dari “orang awam”, kalau dari sesama buzzer dan blogger? Sok hayang ngulub da saya mah.

Ayolah, nge-buzz produk kan bukan pertarungan politik, nggak usahlah ada campaign war segala. Sama-sama cari duit, sama-sama penjual jasa. Ya kadang, komentar-komentar seperti itu memang dimaksudkan untuk bercanda, tapi tetap saja, bercanda juga ada waktunya. Kalau Anda punya komplain tentang produk yang bersangkutan, komplain ke CS-nya, bukan di thread buzzer. Ngerti?

Harusnya tuh ya, bantu nge-like, bantu RT, bantu komen. Kalau ada waktu luang, berinteraksi dengan mereka yang sedang nge-buzz terkait produknya, berikan testimoni yang positif jika Anda punya. Jangan me-reply twit buzzer lain tapi yang dibahas tidak relevan. Misalnya, twit tentang produk A, lalu kita membalas seperti ini, “Hei, apa kabar? Udah lama enggak kelihatan ngetwit.”

Kalau buzzer lain mungkin akan senang hati menjawab, saya juga akan dengan senang hati … membloknya.

7. Boleh Kok Menolak Tawaran

Saya belajar banyak dari etika yang dipegang Ulul dalam hal menerima job. Tak peduli sebesar apa pun bayarannya, kalau tidak sesuai dengan niche blog dia ya akan ditolak. Atau seperti Mak Winda Krisnadefa, ada beberapa jenis produk (susu formula dan beberapa produk lain) yang tidak bisa masuk ke blog dia. Jujur, sebagai blogger tekno dan sagala aya a.k.a lifestyle seperti saya, setiap tawaran adalah godaan. Tapi saya juga harus bisa memilah.

Pernah ada yang menawari saya untuk ikut campaign produk alkohol/bir lokal, sayangnya harus saya tolak. Iya, saya peminum sosial, iya saya merokok. Tapi, saya tidak bisa campaign untuk kedua produk itu karena kode etik yang saya pegang. Anak saya follow IG dan kami berteman di Facebook. Saya tidak bisa mempromosikan produk yang yaaa … you know lah.

Pernah juga ditawari kampanye antirokok dengan honor lumayan. Agensinya tahu bahwa saya merokok dan mengatakan tidak apa-apa asalkan follower atau pembaca tidak tahu. Tetap saya tolak karena entahlah, bertentangan dengan hati nurani. Di satu sisi saya perokok yang tidak ingin orang lain ikut-ikutan merokok, juga perokok yang lebih sangar kalau melihat ada yang merokok di fasilitas publik seperti angkot atau bus kota. Tapi di sisi lain saya tidak ingin jadi munafik.

Ada satu contoh lagi. Di dalam sebuah grup blogger, admin memposting job dari brand susu formula. Ada bahkan banyak yang berkomentar begini, “Saya tidak menggunakan susu formula dan sering kampanye ASI ekslusif, tapi tertarik banget untuk ikut campaign ini. Boleh kan?”

Menurut saya sih boleh-boleh saja, tapi mungkin akan jadi kontra produktif.

8. Jeda Itu Perlu

Nge-buzz atau menulis untuk sponsored post itu sama seperti kita memperlakukan cinta: sama-sama butuh jeda. Kadang, kita menerima tawaran dari produk yang sama, tapi dari brand yang berbeda dalam waktu berdekatan. Untuk menjaga keberlangsungan dapur, boleh saja sih diterima, tapi:

  • Usahakan Anda memang sudah menggunakan produk-produk itu, jadi point of view-nya adalah berbagi pengalaman ketika Anda menggunakan produk-produk tersebut.
  • Tentukan jeda. Jangan sampai hari ini nge-buzz provider A, besoknya nge-buzz provider B. Aatau hari ini mempublikasikan sponsored post dari marketplace A, besoknya dari marketplace B, konten promonya sama pula. Berikan jeda, ya minimal satu bulanlah.

Tapi, poin ketujuh ini sepertinya pengecualian untuk para beauty blogger. Karena saya lihat mereka sering membahas produk yang nyaris sama dalam waktu berdekatan. Baiknya kita tanyakan kepada Nona Aprie dan KPM biar lebih jelas.

9. Jujur

Ini poin yang sulit. Di satu sisi kita terikat kontrak kerja sama dan harus menjaga nama baik brand, di sisi lain kita harus jujur kepada pembaca. Jika produk yang kita gunakan dan sedang kita promosikan memiliki kekurangan yang -menurut kita- penting untuk disampaikan, lebih baik konsultasikan dulu kepada brand sebelum dipublikasikan. Hal penting lainnya adalah cara menyusun kalimat, ada perbedaan besar antara membuat kritik yang membangun dengan menjelek-jelekkan sebuah produk. Anda sendiri yang tahu batasnya.

10. Totalitas

Ada seorang beauty blogger, namanya Roos. Saya tidak mengenal dia, tapi namanya sering direkomendasikan jika kebetulan ada brand yang membutuhkan beauty blogger. Alasannya sederhana: karena dia total, membuat artikel di blog semaksimal mungkin, bukan cuma seulas-dua ulas. Atau kalau Anda pernah memerhatikan para selebgram, coba lihat konten campaign mereka. Dari mulai foto, caption, semuanya dibuat semaksimal mungkin.

Totalitas seperti ini bermanfaat agar kita bisa menjalin kerja sama jangka panjang.

11. Profesional

Nah, kalau yang ini auto kritik untuk saya pribadi. Saya sering lupa kapan waktu untuk nge-buzz dan kapan waktu untuk mengirimkan report. Entahlah, ini sebenar-benar kelemahan saya. Sering lupa hari, sering lupa tanggal, sering lupa diri. #eh

12. Etika Lainnya

Di Twitter lagi nge-buzz brand A, di Facebook bikin status seperti ini, “Enaknya kerja sama dengan brand A adalah bla bla bla.” Udah tahu kalau follower Twitter dan teman di Facebook-nya itu-itu juga, masih aja. Kak, Kakak cageur? Boleh sih membuat status seperti itu, tapi ntar kalau periode campaign-nya udah selesai.

Atau ada juga yang seperti ini: postingan job di sebuah grup privat dibagikan kepada yang bukan anggota grup. Atuhlah, bukan begitu caranya bagi-bagi rezeki. Ada satu lagi contoh yang lebih kurang ajar, seorang blogger membuat status yang isinya sedang mencari buzzer untuk campaign produk tertentu. Yang daftar banyak kan, tapi karena ada beberapa buzzer yang tidak ia sukai, nah data buzzer yang tidak ia sukai itu tidak disampaikan ke brand. Di-skip gitu aja.

Saya pernah mengalami kejadian seperti itu. Ada satu brand yang kebetulan menghubungi saya untuk menawarkan campaign. Adegannya seperti ini:

  • Brand: Mbak Langit, kita mau nawarin campaign A, kompensasinya seperti ini, brief-nya seperti itu.
  • Saya: Sebentar, kemarin saya udah daftar untuk campaign A juga di statusnya Z. Ini campaign-nya sama atau beda, ya? Takutnya dobel.
  • Brand: Oh iya sih kami juga menghubungi Z untuk meminta bantuan dicarikan buzzer, tapi nama Mbak enggak ada tuh. Makanya ini saya hubungi langsung.

Sehabis kejadian itu, saya sih cukup tahu aja.

Saya menyadari bahwa pengalaman dan ilmu saya di bidang ini hanyalah sekulit ari, tak sebanding dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh para buzzer militan di luar sana. So, please feel free untuk menambahkan atau mengoreksi.

Well, kasus buzzer yang saya ceritakan di awal hanyalah satu dari sekian banyak pelajaran. Kasus yang mengingatkan saya pada status Ulul, bahwa medsos memang media yang bebas, tapi etika tak harus ikut-ikutan terjun bebas. Buzzer memang “orang-orang bayaran”, tapi ada nurani yang tidak bisa kita khianati, ada etika yang tidak bisa kita kangkangi, ada idealisme yang tidak bisa begitu saja dibeli.

Salam,
~eL

Share This