Cara Memilih Diksi Dalam Prosa

Postingan ini saya buat karena banyaknya permintaan. Bukan karena saya pandai mengajar. Hehehe …, ini hanya berbagi pengalaman. 

Prosa berbeda dengan puisi dari segi kuantitas. Di dalam puisi, kita diharuskan memadatkan kata tanpa mengurangi makna. Di dalam prosa, kita diharuskan melebarkan kata, eh salah, yang harus dipentingkan adalah kenikmatan pembaca ketika membaca cerita yang kita gubah. Menurut saya, cara memilih diksi tidak bisa diajari karena tergantung kepada kepekaan penulis itu sendiri. Yang bisa dilakukan adalah:

  1. Banyak membaca.
  2. Banyak berlatih. 
  3. Wisata kamus ==> Bakar kamus dan seduh abunya lalu minum. Hahaha ….
Saya selalu mengindentikan cerita dengan komposisi musik sehingga di situ ada nada, irama, dan tempo. Kata-kata yang kita pilih harus berbunyi sehingga menghasilkan nada-nada yang enak didengar. Coba baca cerita Anda keras-keras, bila telinga Anda menemukan kenyamanan dan keasyikan, berarti cerita Anda sudah memiliki bunyi yang sesuai. 

Apakah diksi yang kita pilih harus puitis? Tidak juga. Kemampuan merangkai kata-kata adalah kemampuan menggabungkan kata menjadi frase, frase menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Jadi ya itu tadi, menjadi pekalah. 

Contoh 1:
  1. Aku melangkah pelan-pelan menuju tempatnya berdiri agar langkah kakiku tidak ia dengar. 
  2. Ia berdiri di sana, memunggungiku, kakiku mengendap-endap agar telinganya tidak sempat menangkap suara apa pun. 
Yang mana yang lebih enak dibaca dan didengar? Kata ‘mengendap-endap’ secara makna sama dengan ‘melangkah pelan-pelan’, bukan? Tapi di kalimat yang kedua, kesan yang ditimbulkan lebih ritmis dan puitis (halah). 

Contoh 2:
  1. Malam ini aku tak bisa tidur karena suara hujan begitu ribut di luar kamar. 
  2. Hujan menandak-nandak di luar kamar sehingga tak sedetik pun bisa kupejamkan mata. 
See? Bisa lihat di mana bedanya? Maknanya sama, ini bukan kalimat bersayap sehingga pembaca tak akan berpikir ke man-mana tapi tetap bisa menikmati cerita. 

Contoh 3:
  1. Anis pergi meninggalkan rumah sambil berurai air mata. 
  2. Dengan koper di tangan kanan dan lelehan sungai yang mengalir dari matanya, Anis meninggalkan rumah.
Iya sih, kalimatnya jadi agak panjang. But, hey. Ini prosa, kita bebas memuntahkan kata apa saja asal cerita kita nikmat dibaca. Tapi ingat, JANGAN LEBAY. 

Nah, saya sering menemukan narasi yang sangking ingin ‘keren’ tapi malah kebablasan dan jadi terlihat klise. Ini yang harus dihindari. Saya beri satu contoh:

Malam penuh bintang, bulan mengintip malu-malu dari balik awan. Angin berdesir-desir menggoyangkan dedaunan. Lelaki itu melangkah menyusuri jalan sambil sesekali menengok ke belakang. 

Narasi seperti ini memang kelihatan puitis, tapi tidak memberikan kesan apa-apa selain ramalan cuaca. Jika tokoh Anda bukan serigala jadi-jadian, bulan yang mengintip malu-malu di balik awan itu sepertinya tidak usah dihadirkan. Saya sendiri terbiasa menghadirkan konflik di awal cerita, bukan narasi. Coba bedakan dengan yang ini:

Lelaki itu tergesa mengeja jalan dengan kakinya yang ringkih. Sesekali ia menengok ke belakang, rautnya penuh ketakutan. Meski malam benderang dengan banyak bintang, tapi ketakutan tetap saja menjalar memenuhi udara. 

Mohon diingat bahwa seorang penulis juga harus menghilangkan kebosanan pembaca. Diksi-diksi yang ‘memuai’ dan tidak menawarkan apa-apa seperti pada contoh pertama tidak akan membuat pembaca bertahan dengan cerita Anda. Pemilihan diksi juga harus bersinergi dengan keseluruhan isi cerita sehingga nada dalam cerita tidak statis melainkan dinamis. Paragraf kedua, selain diksi-diksi yang lebih apik juga menawarkan ketegangan,drama, dan rasa penasaran. Jika ini ditempatkan di dalam paragraf pembuka cerita Anda, maka dijamin pembaca akan dipenuhi berbagai pertanyaan dan mereka akan terus membaca cerita Anda sampai habis. 

Yang sulit dilakukan oleh penulis bukan bagaimana caranya pembaca membaca karya Anda, tapi bagaimana pembaca BERTAHAN dengan cerita yang Anda sodorkan. Di sinilah fungsi pemilihan kata, dinamika nada, dan tentu saja pemilihan tema. Seorang penulis yang cerdas bisa mengolah tema sesederhana apa pun menjadi sebuah cerita yang bernas. Hal ini tentu tidak akan didapat tanpa latihan. Maka berlatihlah. 

Salam
~eS

3 Comments

  1. December 31, 2012 at 2:23 pm

    wow…ini yang aku cari…makasih mba Sky…hebat euy…diksi nya keren2. aku belum bisa seperti itu. aku suka sekali bikin puisi, tapi diksi nya masih umum, datar dan garing. iya betul, harus terus berlatih, dan banyak baca serta mengunyah dan menelan kamus hihihi…thanks share ilmunya.

  2. January 21, 2013 at 11:34 am

    wah kebetulan saya lagi belajar tentang diksi, seneng bisa nemuinnya di blog ini.. salam kenal mbak 🙂

  3. April 20, 2016 at 5:05 am

    ketemu blog ini dari blognya Daeng Gassing karena tulisan mbak Amaravati yang kontroversial tentang blogger dan event cheerleader.. dan saya merasa bahwa blog ini akan masuk dalam daftar blog yang akan saya kunjungi ketika butuh inspirasi..

Leave a Reply