Kecuali Bali Post, dewasa ini nyaris semua media menerima kiriman naskah lewat e-mail. Sayangnya tidak semua penulis paham bagaimana cara yang benar mengirimkan naskah lewat e-mail. Hal ini selain menyulitkan redaktur (baca: membuat kesal) juga akan menyulitkan si penulis sendiri karena dengan begitu berarti ia telah mengurangi kesempatan naskahnya dimuat. 
 
Barangkali Anda mengira bahwa ini adalah hal yang renik, tidak sebanding dengan proses kreatif Anda ketika membuat karya. But believe me, hal-hal yang Anda anggap sepele bisa meruntuhkan kerja keras Anda. If you want to be a professional writer, then act like a professional. 
 
Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan ketika mengirimkan e-mail ke media:
 
1. MEMBUAT PENGANTAR YANG ‘NGASAL’ ATAU BAHKAN TIDAK MENULIS SEPATAH KATA PUN DI BADAN E-MAIL. 
Membiarkan badan e-mail kosong sama saja dengan Anda menyelipkan sebuah surat di bawah pintu seseorang kemudian pergi. Buatlah pengantar yang padat, jelas, dan formal. 
 

 

Contoh: 

Kepada redaktur Tribun Jabar

U.P. Hermawan Aksan


Dengan hormat,
Dengan ini saya mengirimkan cerpen yang berjudul ANAK MATAHARI. Mohon kiranya redaktur menghubungi saya via e-mail atau HP apabila naskah saya layak muat.
Atas perhatian Anda, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Skylashtar Maryam

 

 
——
Apakah boleh mencantumkan biodata di badan e-mail? Boleh. Tapi jangan lupa cantumkan juga di bawah naskah. Bagaimana jika Anda mengirimkan lebih dari satu naskah? Buatlah list judul-judul naskah yang Anda kirim. 


 
2. MENGIRIMKAN NASKAH DI BADAN E-MAIL. 
Ini kesalahan kedua yang sering dilakukan oleh para penulis. Mending kalau puisi, kalau cerpen dengan durasi 5-10 halaman dan ditaruh di badan e-mail? Please, jangan siksa redaktur dengan cara seperti itu. Lalu Anda harus mengirimkannya dalam bentuk apa? ATTACHMENT/LAMPIRAN/ENCLOSURE dalam bentuk file word/rtf. Pdf boleh? TIDAK. Karena file akan masuk ke bagian layout dan file pdf susah diatur. 
 
Kenapa Anda tidak boleh mengirimkan naskah langsung di badan e-mail? Karena susah di-download dan tidak setiap redaktur mau repot-repot memindahkan naskah Anda ke file yang diperlukan. 
 
3. TIDAK MENYERTAKAN BIODATA.
Jika Anda bukan sekelas SGA atau Joko Pinurbo atau penulis yang sudah terkenal dan biodatanya bertebaran di mana-mana, jangan coba-coba mengirimkan naskah tanpa identitas yang jelas. Remember that you are nobody. Jadi cantumkan biodata dan kontak lengkap agar pihak redaktur, sekred, dan terutama bagian honor mudah menghubungi Anda. 
Apa saja yang perlu dicantumkan? 

 

  • Nama lengkap   ==> yes
  • Nama pena       ==> yes
  • TTL                  ==> if necessary
  • Alamat              ==> yes
  • E-mail               ==> yes
  • No. HP             ==> yes
  • No. rek             ==> if necessary
  • Hobi                 ==> no
  • Akun FB          ==> naskah untuk koran? NO
  • Twitter             ==> NO NO NO
  • Penghargaan    ==> Big NO
  • Foto                ==> if necessary
  • Profil singkat ==> yes
  • Nomor NPWP ==> yes (untuk mengurangi pemotongan honor. heheheh)

4. MENGIRIMKAN NASKAH KE BANYAK REDAKTUR DI SATU E-MAIL.
Analoginya begini, Anda sedang menyatakan cinta kepada gebetan, lalu gebetan Anda itu tahu bahwa Anda melakukan hal yang sama ke nyaris dua puluh lima orang yang berbeda. Kira-kira, apakah pernyataan cinta Anda itu akan diterima? Sama halnya dengan mengirimkan naskah ke redaktur. Mereka redaktur sastra koran, boy. Setiap minggunya menerima puluhan naskah. Jika Anda memperlakukan mereka tidak spesial, kemungkinan naskah Anda juga tidak akan dianggap spesial. 
Lantas, bolehkah Anda mengirimkan naskah yang sama ke banyak media tapi di e-mail yang berbeda? Boleh, tapi Anda berisiko di-black list oleh redaktur. Hahahah.
 
5. SALAH MENYEBUTKAN NAMA REDAKTUR.
Mungkin Anda sering mengirim e-mail dalam waktu bersamaan meski naskah yang Anda kirim berbeda-beda. Pernahkah Anda salah menyebutkan nama redaktur atau nama media yang Anda tuju? Saya pernah. Mengirimkan cerpen ke koran A tapi menyebutkan nama koran B di alamat dalam. Ini kesalahan fatal dan saya tahu bahwa cerpen saya tidak akan dimuat sampai kiamat. 
 
Maka dari itu, baca kembali e-mail Anda sebelum menekan tombol kirim. Lebih baik lambat asal selamat ^-^.
 
6. MEMBUAT PROFIL SEPANJANG TOL CIPULARANG.
Meski tidak semua media memuat profil penulisnya, namun Anda boleh menyertakan profil singkat Anda di akhir naskah. Apa itu profil? Profil adalah gambaran diri Anda dalam satu-tiga kalimat. Misalnya: Skylashtar Maryam, penulis, cenayang, pengendali api, tinggal di Bandung. 
 
Karena ini untuk dimuat di koran atau majalah, Anda tidak memiliki kesempatan untuk narsis akut. Simpan semua riwayat penghargaan Anda. Buang dulu track record antologi Anda. Anda hanya perlu menjelaskan diri Anda dalam maksimal tiga kalimat. That’s it. No more.
 
Pernahkah Anda melakukan kesalahan-kesalahan di atas? Nah, mulai sekarang, hilangkan hal itu. Mulailah menjadi penulis profesional. 
 
Salam
~eS
 
 
 

 

15 Comments

  1. ramadina fadila wibisono-Reply
    November 24, 2016 at 1:35 pm

    kakak tau gak alamat email koran selain kompas?

    • November 24, 2016 at 9:15 pm

      Ada sih database, tapi kayaknya udah nggak update lagi. Saya udah lama nggak ngirim karya ke media.

  2. March 31, 2016 at 10:59 am

    sering banget ketuker nama redaktur he…3x

  3. March 25, 2016 at 9:33 am

    Makasih infonya teh…. mantap banget buatku…

Leave a Reply