Catatan Perpisahan, Catatan Pengharapan

:Kang
Tadi pagi, aku sempurna melihat matamu bekerjap pedih. Suaramu bergeletar, samar, lalu pudar. Tubuhmu menggigil, terkulai lunglai; serabutan mencari sandaran. Ada peluk yang ingin kureguk, namun tanganku sudah sedemikian sibuk. Engkau pun memeluk tubuhmu sendiri, remuk.
Sungguh, rasa sakit yang engkau rapal telah menjantera darahku kepada muara bahwa kelak aku akan berbahagia. Meski tidak di sampingmu, tidak bersamamu. Seperti sering aku bisikkan, Kang. Cinta paling mulia adalah ikut berbahagia ketika orang yang kita cinta juga berbahagia. Aku tahu itu ada dalam dadamu, dalam suaramu, dalam derap langkahmu.
Saat paling magis sekaligus tragis adalah ketika tanganmu merengkuh tanganku, dengan segala cekat yang engkau punya kau berkata, “Ini adil, bagiku, bagimu, dan bagi calon suamimu. Aku ikhlas.” Betapa, aku ingin berlari dan membenamkan diri di dadamu, dada yang selama belasan tahun begitu kukenali hingga setiap degup di sana kuhafal di luar kepala. Namun demi segala cinta kepada lelaki selainmu yang kini tengah kujaga, aku berhenti, menarik diri, dan cukup dengan tautan jemari. 
Ketahuilah, Kang. Ia tidak merebut apa-apa darimu, sebab sebelum kami saling menemukan aku sudah lama hilang. Engkau melepasku jauh sebelum itu. Kami hanyalah dua orang yang ingin saling menggenapkan. Sebab ternyata, ketika aku bersamamu selalu ada yang terasa ganjil dan getir. 
Cinta, Kang… 
Adalah mahluk paling astral, begitu dekat sekaligus jauh dari jangkauan. Kau, juga aku, tidak pernah tahu kemana ia menuju. Dulu, aku melaju ke arahmu. Sekarang, mahluk astral di dadaku itu berderap ke arah lain, kepada hati yang lain. 
Kerelaan, kepasrahan, dan keikhlasanmu adalah apa-apa yang tidak akan bisa aku bayar dengan harga mahal kecuali sebuah janji; bahwa kelak kau akan melihat perempuan ini larut dalam senyum, bukan gumam-gumam tangis seperti saat aku berjalan di sampingmu. Bersamanya, bersama lelaki yang kini tengah menantiku di sisi lain jalan itu, akan aku songsong segala harap. 
Maka, genapkanlah rasa haru ini dalam bongkahan asa. Kelak, kita akan melihat bahwa cinta tidak pernah pergi kemana-mana. Kelak, aku juga ingin melihatmu bahagia. Sebab kita berhak atasnya. 
(Teruntuk; Kang, lelaki di titik nol
Terima kasih atas kerelaan dan doamu. Melangkahlah, berderaplah, berbahagialah)

2 Comments

  1. May 8, 2012 at 4:35 am

    cinta=bahagia, dan kita berhak atasnya .. semoga 🙂

  2. Skylashtar-Reply
    May 8, 2012 at 12:57 pm

    Suri: selalu ada jalan untuk mendapatkan rasa bahagia 😀

Leave a Reply