PERSONAL

30
May

Manfaat Berkata “IYA BOLEH” pada Si Kecil

Pagi itu saya dibangunkan oleh suara keran kamar mandi yang mengucur dengan deras. Siapa lagi pelakunya kalau bukan anak saya, Aksa (2 tahun 8 bulan). Gegas saya ke kamar mandi dan mendapati dia sedang “memandikan” semua mobil-mobilan, baju yang dia pakai tentu sudah basah semua. Tadinya saya akan marah, tapi saya tahan.

Saya: Hai, lagi ngapain?
Aksa: Eh, Unda udah banun. Ini agi anti popok, mobiyna eek. (Eh, Bunda udah bangun. Ini lagi ganti popok, mobilnya eek)
Saya: *ngakak

Setelah itu, saya langsung memandikannya dan memberi pengertian bahwa kalau mau ke kamar mandi, harus minta izin dulu kepada saya. Termasuk kalau dia mau “mengganti popok” mobil-mobilannya. Setelah hari itu, dia selalu bertanya, “Unda, mobiy yang ini boyeh dicuci?” atau “Unda, Dedek boyeh anti popok ndili?” Read more

Please feel free to share
24
Apr

[ODOP] Isra Mikraj dalam Ingatan

Saya tidak merayakan Isra Mikraj, atau lebih tepatnya, tidak lagi merayakan hari raya agama apa pun. Tapi, Isra Mikraj atau yang sering disebut Rajaban mau tidak mau memberikan kesan tersendiri. Pertama, karena saya tinggal di lingkungan Muslim, maka aura Rajaban masih terasa. Kedua, karena hal-hal tentang perjalanan Nabi Muhammad dan turunnya perintah salat 5 waktu ini pernah pula lekat dalam kehidupan, juga ingatan.  Read more

Please feel free to share
23
Apr

[ODOP] Berziarah ke Masa Lalu Melalui Sinetron Tahun 90-an

Memang benar, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Pun dengan generasi 90-an yang tumbuh besar ketika stasiun televisi mulai ada di Indonesia. Diawali dengan TVRI, lalu RCTI, kemudian stasiun televisi lainnya. Saya mengalami masa transisi itu. Masa ketika permainan kucing-kucingan di tegalan berganti dengan menonton Candy-Candy dan Doraemon. Masa ketika meraut buluh layang-layang sudah tak menarik lagi, digantikan dengan duduk diam di depan televisi dan menonton Ksatria Baja Hitam.

Ngomong-ngomong soal televisi, tentu tak lepas dari yang namanya sinetron. Di tahun 90-an, perfilman Indonesia sedang mati suri, digantikan dengan hadirnya puluhan sinetron yang layak maupun tidak layak tonton. Well, terlepas dari kualitasnya, sinetron-sinetron inilah yang menurut saya justru membentuk karakteristik generasi 90-an yang waktu itu masih kanak-kanak dan berada di fase remaja. Televisi, sejak kemunculannya pertama kali hingga hari ini, memang layaknya gurita yang tentakelnya mengubah benak dan pemikiran banyak orang. 
Read more

Please feel free to share