Category: Family

Manfaat Berkata "IYA BOLEH" pada Si Kecil

Pagi itu saya dibangunkan oleh suara keran kamar mandi yang mengucur dengan deras. Siapa lagi pelakunya kalau bukan anak saya, Aksa (2 tahun 8 bulan). Gegas saya ke kamar mandi dan mendapati dia sedang “memandikan” semua mobil-mobilan, baju yang dia pakai tentu sudah basah semua. Tadinya saya akan marah, tapi saya tahan.

Saya: Hai, lagi ngapain?
Aksa: Eh, Unda udah banun. Ini agi anti popok, mobiyna eek. (Eh, Bunda udah bangun. Ini lagi ganti popok, mobilnya eek)
Saya: *ngakak

Setelah itu, saya langsung memandikannya dan memberi pengertian bahwa kalau mau ke kamar mandi, harus minta izin dulu kepada saya. Termasuk kalau dia mau “mengganti popok” mobil-mobilannya. Setelah hari itu, dia selalu bertanya, “Unda, mobiy yang ini boyeh dicuci?” atau “Unda, Dedek boyeh anti popok ndili?” Read more

5 Kado Bermanfaat untuk Teman yang Baru Melahirkan

Membeli sebuah kado teristimewa untuk teman, keluarga, atau pasangan yang baru berulang tahun mungkin sudah biasa. Anda pun tak perlu bingung ketika menentukan hadiah untuknya. Namun, beda halnya jika memberikan sebuah kado atau hadiah untuk teman yang baru melahirkan. Sama seperti saya, pastinya Anda akan memikirkan kado apa yang paling bagus untuk diberikan. Karena memilih kado tidak semudah kelihatannya, kalau sudah mentok ujung-ujungnya kita memilih hadiah yang paling umum. Atauuu … kalau sudah benar-benar kehabisan ide, jatuhnya malah ngasih uang tunai. Memang sih, uang tunai bermanfaat, tapi menurut pengalaman nih, uang tunai kerap kali dilihat dari nominal dan kurang istimewa. Mau ngasih sedikit takutnya kurang, mau ngasih banyak dananya terbatas. 😀 Read more

Depresi Bukan Fiksi

Pertanyaan pertama yang paling sering diajukan kepada seorang penulis ketika ia menceritakan kisah hidupnya adalah: is it real? Apakah ini hanya untuk mendongrak popularitas?

Sebetulnya saya lelah menjelaskan, lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang justru menyudutkan. Penulis atau bukan, dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk meneriakkan permintaan pertolongan.

Saya cerpenis, kalau ini fiksi lebih baik saya menulis cerpen dan mengirimkannya ke Kompas. Kalau dimuat, lumayan bisa buat beli susu. Terkenal? Tidak ada orang yang ingin terkenal karena “gila”. Saya berkarya, penulis, blogger. Kalau memang ingin terkenal lebih baik saya menulis novel best seller.  Read more

Anak-Anak Adalah Jangkar

  Saya selalu mengatakan kepada orang-orang bahwa Tuhan memberikan Salwa dan Aksa bukan karena saya pantas, tapi agar saya pantas. Anda tahu kan bedanya? Bagi saya, anak-anak adalah jangkar yang membuat saya terpancang di tepi pantai, tidak lagi bertualang ke berbagai macam amuk gelombang. Anak-anak menjadikan saya berpikir ulang sebelum membuat keputusan. Anak-anak menjadikan saya […]

Read more

Apotek di Dapur Kami

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya punya kebijakan sendiri berkenaan dengan kesehatan anak-anak: dokter dan obat-obatan kimia adalah opsi terakhir. Satu, karena saya punya riwayat alergi dan menurun secara genetis. Dua, karena khawatir dengan residu obat kimia di dalam tubuh anak-anak saya. Tiga, karena saya masyarakat modern, dan masyarakat modern tidak mengobati anak-anaknya dengan obat warung atau ujug-ujug dikasih antibiotik. Bagi saya, memberikan obat warung hanya karena anak demam 37 derajat celcius itu kampungan. Read more

One Day Trip with Aksa

SITU CIBURUY_2

Yang sering dirasakan oleh ibu-ibu bekerja adalah rasa bersalah. Rasa yang menghantui karena kita tidak punya cukup banyak waktu untuk bersama anak-anak. Tapi dilihat dari sisi mana pun, kadang kita memang tidak punya pilihan. Yang bisa kita lakukan hanya berdamai, menanamkan dalam pikiran bahwa manusia memang tidak bisa mendapatkan setiap hal yang diinginkan. Read more

Kaki dan Tangan Kiri untuk Ibu


Setiap kali melihatnya berjalan terpincang-pincang dengan tangan kiri tergantung kaku, dada saya terasa nyeri. Ketika ada suara barang pecah di dapur yang diikuti suara “plak”, biasanya saya akan menengadah, mencegah air mata yang mungkin saja buncah. Saya tahu, suara “plak” itu berasal dari tangan kanan yang menampar tangan kirinya sendiri. 

Perempuan ini bukan perempuan yang saya kenal dulu. Perempuan yang dengan cekatan membuat gorengan dan es teh manis untuk saya jajakan ke warung-warung. Perempuan dengan rambut berwarna burgundy yang lincah, cantik, memiliki selera fesyen tinggi. Perempuan yang tahan bergerilya dari pasar ke pasar untuk berbelanja baju-baju pesanan, salah satu wirausahawan paling ulet yang pernah saya kenal.   

Stroke ringan merenggut tangan dan kaki kirinya sejak sembilan tahun lalu. Mengubahnya menjadi perempuan yang nyaris tak berdaya. Perempuan yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. 

Dalam beberapa hal, saya tidak pernah “berdamai” dengan Ibu. Selalu saja ada hal yang menjadi pertentangan di antara kami. Mulai dari selera berpakaian sampai tahlilan. Mulai dari pilihan pekerjaan sampai pasangan. Tapi melihatnya sakit dan menua mau tak mau membuat saya dirajam-rajam rasa sedih.

Sejak saya pulang dari perantauan lima tahun lalu, Ibu selalu mengatakan hal yang sama, “Teh, antar Ibu berobat.” Bagi orang lain mungkin itu permintaan sederhana. Tapi bagi saya dan kedua anaknya yang lain, permintaan itu berarti biaya: sesuatu yang tidak bisa kami tanggung sepenuhnya. 

Bapak hanya buruh bangunan, gaji yang Bapak dapatkan hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Biaya pengobatan Ibu adalah tanggung jawab kami. Saya orang tua tunggal yang tidak memiliki gaji bulanan, adik perempuan saya sudah berkeluarga dan tidak lagi bekerja, sedangkan adik bungsu saya juga pekerja bangunan. Biaya pengobatan Ibu adalah hal kesekian yang sempat kami pikirkan.

Dua tahun lalu saya ngekos di Cimahi, dua minggu sekali Ibu dan putri sulung saya datang. Setiap kali itu pula Ibu bercerita tentang tempat berobat yang ia dengar dari orang-orang. Saya dan adik selalu melarang jika Ibu ingin berobat ke pengobatan alternatif karena stroke membutuhkan perawatan yang intensif. Lagi pula, sudah berkali-kali Ibu berobat tapi tidak pernah menuai hasil. Mungkin karena Ibu hanya melakukannya sekali dua kali. Mungkin karena kurang biaya. Mungkin karena hal-hal lainnya. 

Kabar gembira datang dalam bentuk asuransi kesehatan dari pemerintah. Adik perempuan sayalah yang bertugas mengurusi proses pengajuan dan administrasi. Sebagai anak sulung, tugas saya adalah menembus birokrasi puskesmas dan rumah sakit serta menemani Ibu berobat. 

Kami sudah mencoba beberapa bulan lalu, tapi birokrasi rumah sakit terlalu pelik. Paman dan bibi saya sudah menganjurkan untuk mengambil jalur umum, sayangnya biaya yang harus dikeluarkan tidak akan sanggup kami tanggung. 


Read more

Sepatu Ungu untuk Ziarre

Saya berdiri di depan toko dengan badan canggung dan wajah mendung. Bukan, bukan karena toko di depan saya itu tidak memiliki apa yang saya inginkan. Bukan karena barang-barang yang ditawarkan tidak sesuai dengan bayangan. Bukan karena itu. Di toko perlengkapan bayi tersebut, berjejer berbagai barang yang bisa membuat semua perempuan tiba-tiba ingin menjadi seorang ibu. […]

Read more

Untuk Putriku: Ziarre Amaravati

Lengking peluit kereta apigelas styrofoam berisi kopiakan menghantarmu kembali padaku Nak, jika kelak kita bertemu, akan kuceritakan padamu tentang riwayat paling jengat. Riwayat yang akan selalu kauingat. Cerita yang barangkali akan menjadi mimpi buruk paling mengerikan di pelepah tidurmu. Tapi jangan khawatir, bahkan ketika di dalam rahim, kau telah menjadi pejuang paling tangguh. Mimpi buruk […]

Read more

Kembalikan Zi Padaku, Tuhan

Jika ada doa yang terus-menerus kupanjatkan, maka itu adalah permintaan yang sama sejak tanggal 17 Juni lalu; kembalikan Zi padaku. Tuhan Yang Maha Baik ….KataMu aku selalu bisa memilih dan memilah takdir seperti apa yang akan kujalani. Tapi kematian harga pasti yang tidak bisa ditawar lagi. Bukankah begitu? Maka jika Engkau memberi aku pilihan untuk […]

Read more