Selamat Beristirahat, Bang Toro

Kami memang belum pernah bertemu muka, tapi berinteraksi dengannya di media sosial selalu saja memancing tawa. Bang Toro, Cumi Lebay, atau Moechamad Adi Mariyanto, adalah seorang blogger terkenal yang dicintai semua orang, termasuk oleh saya. Kabar bahwa dia berpulang membuat saya sedih, sedemikian sedih. Padahal seminggu yang lalu saya masih bisa…

read more

Mencari Jakarta, Kota Jejak Luka

Ketika memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bulan Desember tahun lalu, saya bahkan tidak tahu apa yang sebetulnya tengah saya cari. Memenuhi undangan temu blogger hanyalah alasan agar saya bisa pergi dari Cimahi, kembali datang ke kota yang dari namanya saja sering kali mendatangkan rasa nyeri. Jakarta, kota yang begitu asing….

read more

Dari Debu ke Debu, dari Abu ke Abu

“Tuhan … Tuhan … Tuhan ….” Tiga tahun lalu, seorang perempuan meringkuk di sudut ruangan dengan mata berkaca dan bibir bergetar-getar. Jika usia bisa dipangkas begitu saja, ia ingin sekali mati saat itu juga. Baginya hidup sekadar neraka yang membuat ia terbakar dan tersiksa. “Tuhan … Tuhan … Tuhan ….”…

read more

Kepergian-Kepergian

:Gi Merapal namamu adalah mendedah kesedihan demi kesedihan.  Melolosi rasa sakit satu demi satu yang sebagian kusimpan,  sebagian besar kumamah pelan-pelan, lalu kutelan.  Andai ingatan memiliki masa kedaluwarsa,  aku ingin cepat sampai ke sana; sampai kepada lupa agar nama  dan wajahmu tak melulu mencabik-cabik isi dada.   Tapi ingatan adalah…

read more

Lelaki dari Masa Lalu #2

Saya masih tidak mengenalnya, dan saya yakin ia juga tidak ingin mengenal saya. Hubungan kami sebatas follower dengan orang yang di-follow-nya. Maksudnya, saya yang meng-follow blog dan Twitter dia, bukan sebaliknya. Bukan sifat saya mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengenal seseorang, namun dari beberapa kali interaksi di Twitter, saya membuat kesimpulan sementara:…

read more

Secabik Pesan Sebelum Saya Bunuh Diri

Berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri itu biasa. Tapi berkali-kali mencoba menghabisi nyawa Aksa membuat saya nyaris gila. Pagi ini saya membaca tulisan Topan Pramukti, suaminya Pungky. Tulisan yang menyayat-nyayat hati sekaligus membuat saya berani untuk menuliskan ini. Postpartum depression (PPD), monster yang selama ini saya kira sebagai baby blues biasa….

read more

Yang Rekah Lalu Patah

:Irvan MulyadieKau selalu mengatakan bahwa cinta adalah penjara. Jeruji yang mengerangkeng kita layaknya dua orang pesakitan. Kau terkungkung, begitu juga aku. Kaki-kaki kita dibebat berbagai rasa sakit sehingga tidak bisa saling menuju. Van, setiap kali kau mengatakan bahwa melupakanku adalah siksaan. Kau pun mestinya tahu bahwa setiap kali aku menemukan hati…

read more

Mungkin Kita

Malam tadi seharusnya kita bergembira, bukan? Bertemu dengan kawan-kawan, bertukar kabar, tawa, jabat tangan, dan pelukan. Tapi entahlah, ingar bingar selalu membuat kita asing. Membuat kita ingin segera menyepi ke tempat sunyi lalu kembali menjadi diri sendiri. Bahkan sebuah pertemuan yang tak direncanakan kerap kali terasa janggal. Akhirnya kita hanya bertingkah…

read more

Lelaki dari Masa Lalu

Saya tidak mengenalnya, dan saya yakin dia juga tidak mengenal saya. Hubungan kami hanya sebatas antara bloger dan follower-nya. Maksudnya, saya yang mem-follow blog dia, bukan sebaliknya. Tapi ada yang janggal dan membuat saya gelisah ketika pertama kali membaca postingannya. Sebelum sampai ke situ, saya ingin mengatakan bahwa saya menemukan…

read more